Betul sekali! Pestisida ini memang menarik. Aku pernah baca di sebuah media
cetak yang bernama GAMMA (sorry, bukan promosi lho..), kalau pengen lihat
(baca) yang lebih lengkap, coba aja baca disitu. Kalau nggak salah edisi
bulan maret 99...
saalam
Novie
-----Original Message-----
From: Eriyawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Milis Envorum <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 10 Juli 1999 8:43
Subject: [envorum] Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian
>Luar biasa!! Saya forward dari milis Lingkungan.
>Ada yang mau nyoba?
>
>salam,
>Eriyawan
>
>-----Original Message-----
>From: Abduh <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Friday, July 09, 1999 3:46 PM
>Subject: [Lingk] Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian
>
>
>>Berikut ini artikel dari Suara Hidayatullah
>>(http://www.hidayatullah.com) tentang inovasi dalam bidang pupuk
>alami
>>dan pestisida alami.
>>
>>Ide dasarnya sederhana, mikrooraganisme dari mulut dikumpulkan
>>(pagi-pagi air kumur pertama dari 300 santri dikumpulkan) terus
>>dibiakkan, terus disiramkan ke kotoran ternak dan jerami untuk
>>mempercepat penguraian biologis menjadi pupuk.
>>
>>Selain itu mereka juga mengembangkan pestisida alami. Bagimana
>>Mas-mas dan Mbak-mbak yang menekuni bidang sejenis, tertarik dengan
>>artikel di bawah ? Atau ada yang mau berkomentar ? Silakan ...
>>
>>Wassalam
>>Abduh
>>
>>
>>Suara Hidayatullah : Juni 1999 / Shafar-Rabiul Awal 1420
>>Manfaatkan Air Liur untuk Pertanian
>>
>>Mengapa bingung dengan harga pupuk dan pestisida yang melangit?
>Gunakan
>>saja air liur, mujarab kok!
>>Setiap bangun tidur bau mulut kita pasti terasa tak sedap. Tahukah
>Anda
>>bahwa bau tak sedap itu sangat bermanfaat untuk dunia pertanian?
>>Itulah yang dikembangkan Fuad Affandi. Putra Ciwidey, Bandung ini
>>berhasil membuat karya inovatif berupa pupuk dan obat pemberantas
>hama
>>tanaman dari bahan dasar air liur. Uniknya, Fuad bukanlah seorang
>ahli
>>bioteknologi atau lulusan perguruan tinggi. Ia 'hanya' seorang kiai
>yang
>>
>>mengasuh 300 santri.
>>Awalnya, ia melihat melimpahnya kotoran sapi, kambing, dan ayam. Mang
>>Haji -demikian Fuad biasa dipanggil- berniat menjadikan kotoran
>ternak
>>tadi menjadi pupuk kandang. Agar menjadi pupuk alami yang baik,
>kotoran
>>itu harus diperam selama dua sampai empat bulan.
>>Fuad berpikir, bagaimana mempercepat proses penghancuran dan
>pembusukan
>>kotoran ternak tadi? Ternyata, bakteri penghancur yang ampuh justru
>ada
>>di perut manusia. "Buktinya, hari ini kita makan, besok keluar sudah
>>busuk," ujar alumnus Pesantren Lasem, Jawa Tengah ini. Menurut
>>penelitian Laboratorium Mikrobiologi Universitas Padjajaran, Bandung,
>>dalam air liur memang terdapat empat macam bakteri: Saccharomyces,
>>Cellulomonas, Lactobacillus, dan Rhizobium. Bakteri ini biasa hidup
>di
>>lambung manusia. Bagaimana mendapatkan bakteri itu?
>>Tak kurang akal. Kebiasaan makhluk renik itu, kalau tidak ada makanan
>>masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk menyantap
>sisa-sisa
>>
>>makanan yang ada di dalam rongga mulut. Karena saat tidur tidak ada
>>makanan yang masuk, saat itulah banyak bakteri berkumpul di mulut.
>Nah,
>>Fuad lantas memerintahkan 300 santrinya membuang air kumur pertama
>dari
>>bangun tidur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan
>penginapan
>>santri.
>>Mikroorganisme dalam air liur itu lalu dikembangbiakkan dengan
>>menambahkan molase (gula), dedak, dan pepaya ke dalamnya. Setelah
>>beberapa hari, air liur santri ternyata berubah menjadi cairan kental
>>berwarna keruh, dengan bau wangi seperti bau cokelat. Itu berarti
>>bakteri dapat berkembang biak dengan subur. Fuad lalu menyiramkan
>cairan
>>
>>bakteri itu ke kotoran ternak dan jerami yang sedang diperam.
>Hasilnya
>>dahsyat. Hanya dalam tiga hari, kotoran ternak itu hancur dan busuk,
>>siap dipakai sebagai pupuk kandang. Penemuan Fuad ini diberi nama MFA
>>(Mikroorganisme Fermentasi Alami) --kadang diplesetkan menjadi
>>Mikroorganisme Fuad Affandi.
>>MFA berkasiat untuk mempercepat ketersediaan nutrisi tanaman,
>mengikat
>>pupuk dan unsur hara, serta mencegah erosi tanah. Semula, pupuk
>organik
>>
>>itu dipakai untuk kalangan sendiri, kemudian menyebar dari mulut ke
>>mulut para petani di lingkungannya. Pada tahap selanjutnya, Mang Haji
>>berhasil mengembangkan pupuk kandang menjadi cairan yang dikemas
>dalam
>>botol dan siap disemprotkan ke tanaman.
>>Inovasi Fuad tak berhenti sampai MFA. Dia juga menciptakan tiga jenis
>>pembasmi hama tanaman yang diberi nama Innabat (Insektisida Nabati),
>>Ciknabat (Cikur Nabati), dan Sirnabat (Siki Sirsak Nabati).
>>Innabat adalah insektisida yang terbuat dari kacang babi dicampur
>bawang
>>
>>putih, bawang merah, cabe rawit, dan temulawak. Semua bahan itu
>digiling
>>
>>menjadi satu dan dicampur dengan air beras. Campuran tersebut
>kemudian
>>didiamkan selama 14 hari sebelum disemprotkan ke tanaman. Ketika
>diuji,
>>ramuan ini ampuh untuk membasmi berbagai jenis ulat, ngengat, dan
>lalat
>>yang sering menyerbu tanaman sayuran.
>>Sedangkan Ciknabat, yang terbuat dari cikur (kencur) dicampur dengan
>>bawang putih, ampuh sebagai fungisida (pembasmi jamur tanaman).
>Selain
>>membasmi jamur, Ciknabat juga berfungsi ganda sebagai insektisida.
>>Kencur dan bawang putih ini tidak mematikan hama, tapi baunya membuat
>>hama enggan mendekat.
>>Lain lagi dengan Sirnabat, yang terbuat dari gilingan biji sirsak,
>>merupakan formula paling keras yang dibuat Fuad. Ramuan ini
>disemprotkan
>>
>>jika Innabat dan Ciknabat sudah tak mempan lagi mengusir hama.
>>Untuk memproduksi pupuk dan pestisida alami itu, Fuad mendirikan
>pabrik
>>di Garut, yang kini dikelola Tatang Sutresna, mantan santrinya.
>>Permintaan tidak cuma datang dari Bandung dan sekitarnya, melainkan
>dari
>>
>>luar pulau, seperti Jambi, Sulawesi Selatan, dan Aceh.
>>Pesantren pertanian
>>Bila Fuad intensif mengembangkan pupuk dan pestisida alami, itu
>bukanlah
>>
>>aneh. Memang sudah sejak lama kiai ini bersentuhan dengan dunia
>>pertanian. Bahkan pesantrennya, Al Ittifaq, yang berada di Desa Alam
>>Endah Ciwidey, identik dengan pesantren pertanian. Santrinya tidak
>cuma
>>memperdalam agama, juga belajar bercocok tanam. Hebatnya, beberapa
>>santrinya di kirim ke Jepang dan beberapa negara Eropa mengikuti
>>pelatihan agroindustri di sejumlah industri pertanian dan perkebunan,
>>atas beaya Bank Dunia dan Departemen Pertanian.
>>Saat pertama datang di Ciwidey, 40 km arah selatan Bandung, sekitar
>>tahun 70-an, Fuad terheran-heran. "Mengapa penduduknya miskin,
>padahal
>>alamnya sangat subur?" pikirnya dalam hati.
>>Tampaknya, salah satu penyebab utama adalah tingkat pendidikan yang
>>rendah. Banyak anggota masyarakat tidak tamat SD. Kalaupun ada, hanya
>>bisa dihitung dengan jari. Terdorong oleh keinginan mengubah nasib
>>masyarakat, Fuad lantas mendirikan pesantren. Bermodal sebidang tanah
>>dan sedikit pengetahuan pertanian, Fuad kemudian juga mengajak
>beberapa
>>warga menanam sayuran buncis dan kentang. Hasilnya ternyata bagus.
>Tentu
>>
>>saja keberhasilan ini mengundang minat banyak orang mengembangkan
>>agrobisnis.
>>Setelah beberapa kali gagal menembus pasar swalayan, karena syarat
>>kualitas yang ketat, supermarket Hero akhirnya bersedia menerima
>sayuran
>>
>>Fuad. Jalan menuju keberhasilan semakin lempang. Buktinya, kini Fuad
>>setiap harinya mampu memasok sayuran segar ke Jakarta sekitar 5 ton.
>>Jumlah tersebut untuk memenuhi beberapa super market, dengan
>perincian:
>>2 ton ke Hero, serta 3 ton untuk Makro, Ramayana, dan Gelael. "Kalau
>>ditanya omzet, alhamdulillah dalam sebulan kurang lebih tiga ratus
>enam
>>puluh jutaan," aku peraih penghargaan Satyalancana Wira Karya dari
>>Presiden BJ Habibie (1998) ini.
>>Kelebihan
>>Dibanding pupuk dan pestisida kimiawi, buatan Fuad memiliki sejumlah
>>keunggulan. Pertama, dari segi beaya, lebih murah. "Harga pestisida
>>kimia Rp 50.000, sedangkan produksi cuma Rp 15,000," tutur Apep,
>Wakil
>>Ketua Pondok Pesantren Al Iftifaq. Apep memberi gambaran, untuk luas
>1
>>ha tanaman buncis petani harus mengeluarkan beaya sebesar Rp 2 juta
>>untuk membeli pestisida kimia/sintesis. Kalau menggunakan pestisida
>>alami, petani hanya mengeluarkan beaya Rp 100.000, dengan luas lahan
>>yang sama. "Hasilnya sama, per hektar sekitar 8 ton," ujarnya.
>>Kedua, menggunakan pupuk dan pestisida alami tentu lebih sehat,
>karena
>>tidak menimbulkan pencemaran lingkungan maupun hasil produksinya.
>>Ketiga, harga sayurannya lebih tinggi, karena sayuran tampak lebih
>>segar, bersih, dan bebas dari zat-zat kimiawi.
>>Bukan berarti tanpa kendala. Menurut Apep, yang sulit justru mencari
>>bahan bakunya. Misalnya, untuk membuat Innabat, sangat sulit
>mendapatkan
>>
>>kacang babi. Juga untuk membuat Sirnabat, biji sirsaknya tidak
>gampang
>>diperoleh. "Mungkin, kami perlu mendatangi para penjual juice buah
>>sirsak, atau para pembuat dodol sirsak," kata Apep sambil terkekeh.
>>Melejitnya harga pupuk dan pestisida kimia sekarang ini, tentu
>peluang
>>untuk kembali ke alami. "Pesanan memang naik drastis. Saya optimis
>>produksi kami akan dicari petani. Sekarang kapasitas produksi kami
>bisa
>>30 ton/bulan," kata Awang Nawangsih, yang bersama suaminya, Tatang
>>Sutresna, diberi amanah mengembangkan MFA. Semoga. (ddg)
>>
>>
>>
>>
>>---------------------------------------------------------------------
>---
>>
>>eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/lingkungan
>>http://www.egroups.com - Simplifying group communications
>>
>>
>>
>
>
>___________________________________________________________________
>Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>atau di http://www.egroups.com/list/envorum
>
___________________________________________________________________
Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
atau di http://www.egroups.com/list/envorum