|
Hi lagi,
dan terima kasih Nenny atas pembalasanmu
yang menimbulkan pikiran. Walau kita hidup di dunia yng terdiri dari
negara-negara (ataukah dari batas-batas antara negara?), aku kurang setuju
mengenalkan pembagean barat-timur... itu-kan tergantung pada dimana orangnya
berdiri... Manusia-kan satu, yah, dan bukti itu bisa justru dapat dimana-mana
pun, didalam hal baik maupun yng jelek (seperti kita lihat dari kasus-kasus
yng sangkat diperhatikan seperti Irlandia utara, orang asli Amerika,
Bosnia, apartheid di Afrika Selatan, orang Kurd di Iran,
Myanmar, Aceh, Tim-Tim,...). Nanti pertanyaan yng timbul adalah dimana
selesai otonomi negara dan di mana mulai pertanggungan
jawab internasional/manusia? Ini bukan masalah politik saja,
melainkan sesuatu yng harus juga ditetapkan di dalam
rangka pengelolaan sumber daya alami. Untuk menjadi manusia, kita harus,
seperti orang Manado bilang, 'si tou timou, tumou tou' - hidup dan memberi
hidup. Apa yng harus dibuat kalau ini tidak jadi? Bicara saja dan
mencari jalan tenggah sedangkan Tim-Tim sudah mulai habis orang, atau membakar
bandera PBB, atau berusaha sama-sama untuk selesai 'genocide'
saudara-saudarimu yng sedang berjalan di Tim-Tim? Kasus ini adalah tanda bahwa
demokrati pun dan diplomasi pinter kadang-kadang kalah di depan senjata (baik di
'barat' maupun di 'timur'). Kalau begitu, kita harus masing-masing mencari
dari dalam diri sendiri kami itu jiwa manusia, dan bercaya pada PBB,
bukan?
Salam lestari,
Sini
|
- [envorum] Kasus Tim-Tim sini.prahu
- Re: [envorum] Kasus Tim-Tim Nenny Babo
- Re: [envorum] Kasus Tim-Tim sini.prahu
- Re: [envorum] Kasus Tim-Tim suhartono
