Dear rekan-rekan di envorum,
Saya sangat mendukung pernyataan Nurcholish Madjid tentang "DPR Harus Menentang
Kenaikan Gaji Pejabat". Dan juga mengenai kampanye logis yang harus digencarkan oleh
Gus Dur.
Walaupun saya hanya membaca di KOMPAS, minggu 16 Januari 2000 dan tidak mengikuti
Dialog Nasional "Prospek Politik Oposisi" secara langsung pada hari Sabtunya.
Saya melihat disini (dan tentu juga rekan rekan lainnya), di Indonesia begitu suburnya
kampanye kemewahan baik oleh orang orang tertentu juga oleh media elektronik kita.
Karena media elektronik mempunyai pengaruh sangat besar olehnya dapat diterima sampai
di pelosok desa.
Peran media kita, baik cetak maupun eletronik harus segera dibenahi, kampanye logis
dapat segera dilakukan, penayangan keadaan Indonesia yang sebenarnya pada saat
sekarang yang lagi sekarat ini, penangannya dan bukan dengan guyon-guyonan dan
pembentukan opini bukanlah kepentingan politik salah satu kekuatan tertentu tetapi
harus menjadi suatu kepentingan Nasional kita.
Waktu jaman orde baru menggemborkan untuk dibangunnya Jakarta Tower, saya kaget,
teman-teman di LSM lainnya juga kaget. Wah kami berfikir, apakah benar ini yang
diinginkan oleh rakyat Indonesia? apakah bukan jalan desa di nun jauh disana dimana
petani masih sulit untuk memasarkan hasil perkebunannya karena tidak ada jalan?
Sekaya inikah Indonesia? Kenyataan ini diliput pula oleh media kita dan disiarkan
keseluruh negeri. Banggakah bangsa ini mendengar itu? Dampak di mata internasional
tentang Jakarta Tower? Pengaruhkampanye kemewahan itulah akhirnya membawa kita kedalam
krisis yang berkepanjangan. Donor-donor kaget kalau Indonesia bisa ngutang untuk
Jakarta Tower. GILA benner!!!
Kesenjangan sosial kaya miskin yang -sudah penyakit akut- sudah berlangsung lama
membawa masyarakat kepada jurang perpecahan. Masyarakat menjadi marah dan dapat saja
mengeksploitasi sumber daya alam berlebihan tanpa memperhatikan kelanjutannya karena
sakit hati.
Saya senang cerita dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tentang pencurian kayu jati di
hutan lindung di sana oleh masyarakat.
Saya bertanya kepada salah seorang yang kedapatan keluar dari hutan dengan
terengah-engah (mungkin setengah mabuk, katanya mereka harus minum tuak sebelum
melakukan itu untuk menambah keberanian) "apa yang anda lakukan dihutan ini padahal
hari sudah gelap" dia balik bertanya apakah anda dari kehutanan?", langsung saja saya
jawab dengan cepat karena ngeri melihat kapaknya, saya bilang oh.. saya dari
organisasi yang peduli masyarakat, khususnya di Sulawesi. Potong cerita, dia
bercerita bahwa dia sedang mencuri kayu jati yang harganya mahal itu, dia bilang saya
sedang mencuri kayu saya sendiri karena pencuri yang dulu hanya menyisakan sedikit
untuk kami. Yang lucunya, ini adalah kayu kami tapi kalau kami mengambilnya kami
dihukum kalau orang jauh yang mencurinya tidak apa-apa, apakah Ibu kenal pencuri
itu?katanya mereka punya senjata sehingga tidak bisa di lawan.
Maaf rekan ini hanya salah satu cerita yang dapat kita lihat bahwa, Eksploitasi sumber
daya alam berlebihan oleh pihak tertentu untuk kemewahan semu yang terjadi pada masa
orde baru dan perampasan hak masyarakat setempat oleh pihak tertentu.
Nah, mungkin kampanye logis yang diusulkan oleh Nurcholish Madjid perlu segera
disahuti oleh Gus Dus sebelum semua terlambat.
Salam dari Makassar,
Nenny R. Babo
Cht-8