saya sih setuju pegawai negeri naik gajinya sehingga bisa hidup layak
sebagaimana rekan rekannya yg berkerja di sektor swasta atau LSM
mengapa tidak ??? ingat yg dihargai disini adalah profesionalisme BUKAN
pengabdianisme.

makasih
sht


----------
From: Nenny R Babo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [envorum] Nurcholish Madjid
Date: Monday, January 17, 2000 8:31 AM

Dear rekan-rekan di envorum,

Saya sangat mendukung pernyataan Nurcholish Madjid tentang "DPR Harus
Menentang Kenaikan Gaji Pejabat".  Dan juga mengenai kampanye logis yang
harus digencarkan oleh Gus Dur.
Walaupun saya hanya membaca di KOMPAS, minggu 16 Januari 2000 dan tidak
mengikuti Dialog Nasional "Prospek Politik Oposisi" secara langsung pada
hari Sabtunya.
Saya melihat disini (dan tentu juga rekan rekan lainnya), di Indonesia
begitu suburnya kampanye kemewahan baik oleh orang orang tertentu juga oleh
media elektronik kita.  
Karena media elektronik mempunyai pengaruh sangat besar olehnya dapat
diterima sampai di pelosok desa. 
Peran media kita, baik cetak maupun eletronik harus segera dibenahi,
kampanye logis dapat segera dilakukan, penayangan keadaan Indonesia yang
sebenarnya pada saat sekarang yang lagi sekarat ini, penangannya dan bukan
dengan guyon-guyonan dan pembentukan opini bukanlah kepentingan politik
salah satu kekuatan tertentu tetapi harus menjadi suatu kepentingan
Nasional kita.

Waktu jaman orde baru menggemborkan untuk dibangunnya Jakarta Tower, saya
kaget, teman-teman di LSM lainnya juga kaget.  Wah kami berfikir, apakah
benar ini yang diinginkan oleh rakyat Indonesia? apakah bukan jalan desa di
nun jauh disana dimana petani masih sulit untuk memasarkan hasil
perkebunannya karena tidak ada jalan?  Sekaya inikah Indonesia?   Kenyataan
ini diliput pula oleh media kita dan disiarkan keseluruh negeri.  Banggakah
bangsa ini mendengar itu? Dampak di mata internasional tentang Jakarta
Tower? Pengaruhkampanye kemewahan itulah akhirnya membawa kita kedalam
krisis yang berkepanjangan. Donor-donor kaget kalau Indonesia bisa ngutang
untuk Jakarta Tower.  GILA benner!!! 

Kesenjangan sosial kaya miskin yang -sudah penyakit akut- sudah berlangsung
lama membawa masyarakat kepada jurang perpecahan.  Masyarakat menjadi marah
dan dapat saja mengeksploitasi sumber daya alam berlebihan tanpa
memperhatikan kelanjutannya karena sakit hati.
Saya senang cerita dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tentang pencurian
kayu jati di hutan lindung di sana oleh masyarakat.
Saya bertanya kepada salah seorang yang kedapatan keluar dari hutan dengan
terengah-engah (mungkin setengah mabuk, katanya mereka harus minum tuak
sebelum melakukan itu untuk menambah keberanian) "apa yang anda lakukan
dihutan ini padahal hari sudah gelap" dia balik bertanya apakah anda dari
kehutanan?", langsung saja saya jawab dengan cepat karena ngeri melihat
kapaknya, saya bilang oh.. saya dari organisasi yang peduli masyarakat,
khususnya di Sulawesi.  Potong cerita, dia bercerita bahwa dia sedang
mencuri kayu jati yang harganya mahal itu,  dia bilang saya sedang mencuri
kayu saya sendiri karena pencuri yang dulu hanya menyisakan sedikit untuk
kami.  Yang lucunya, ini adalah kayu kami tapi kalau kami mengambilnya kami
dihukum kalau orang jauh yang mencurinya tidak apa-apa,  apakah Ibu kenal
pencuri itu?katanya mereka punya senjata sehingga tidak bisa di lawan.  
Maaf rekan ini hanya salah satu cerita yang dapat kita lihat bahwa,
Eksploitasi sumber daya alam berlebihan oleh pihak tertentu untuk kemewahan
semu yang terjadi pada masa orde baru dan perampasan hak masyarakat
setempat oleh pihak tertentu.
Nah, mungkin kampanye logis yang diusulkan oleh Nurcholish Madjid perlu
segera disahuti oleh Gus Dus sebelum semua terlambat.
Salam dari Makassar,
Nenny R. Babo
Cht-8

----------


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke