Dear Teman-teman,

     Sungguh membosankan, membingungkan dan memuakkan mendengar pernyataan-pernyataan 
GUS DUR seputar kudeta terhadap pemerintah yang sah.  Paling kurang pernyataan kudeta 
oleh Gus Dur telah dinyatakan sebanyak 5 kali, dan terakhir diucapkan ketika bertemu 
dengan PB NU (lihat Kompas 20-2-2000).  Kurang jelas apa motivasi beliau mengungkap 
hal tersebut.  Terlepas dari strategi politik yang kurang populer ini, bagi saya 
menunjukkan bahwa Gus Dur atau pemerintah yang katanya dapat mandat dari rakyat tidak 
mampu memberi pelayanan yang terbaik kepada rakyat !!!!!!!!  Langkah maksimal dalam 
bidang ekonomi yang telah dilakukan pemerintahan Gus Dur setelah berkuasa lebih dari 
100 hari ternyata TIDAK MAMPU menyentuh mayoritas rakyat !!!!  Hasil jajak pendapat 
Kompas di 13 kota besar Indonesia mengungkapkan 41,38 % yang puas, selebihnya tidak 
puas (58,62 %).  KETIDAKPUASAN RAKYAT terhadap pengelolaan ekonomi oleh rezim Gus Dur 
diduga karena : (1) penjahat ekonomi di masa lalu diangkat sebagai dewan ekonomi 
pemerintah, (2) kurs rupiah secara perlahan tapi pasti bergerak naik dan tidak stabil, 
(3) rekapitalisasi perbankan yang tidak menunjukkan pergerakan yang membaik atau 
status quo, dan (4) lebih parah lagi paradigma ekonomi rakyat yang telah dibangun 
rezim Habibie dibolduser dan kembali ke paradigma ekonomi konglomerat seperti era 
Soeharto.  
    Penanganan rezim Gus Dur atas bidang politik dan keamanan, ternyata hanya 42% 
menyatakan puas dan 58% menyatakan TIDAK PUAS. Diduga karena : (1) penyelesaian kasus 
Aceh oleh rezim yang katanya legitimate tidak memberikan perspektif yang menguntungkan 
rakyat Aceh, (2) KETIDAK SERIUSAN menangani konflik Ambon sehingga memperluas eskalasi 
konflik, (3) mengutamakan kasus 27 Juli dari pada kasus TANJUNG PERIOK yang lebih 
banyak menelan korban, (4) membuat ketegangan mendalam sehingga sulit merekonstruksi 
hubungan sipil-militer, (5) tidak terlihat NIAT BAIK pemerintah untuk menyerahkan 
sebahagian kekuasaan (termasuk duit) kepada daerah.
    Dalam bidang hukum, langkah-langkah berarti pemerintah belum nampak kecuali 
sebatas RETORIKA POLITIK untuk mengadili Soeharto, pelanggar HAM, koruptor kelas 
kakap, perusak hutan dan lingkungan, dsb.
    Oleh karena itu penyataan-pernyataan presiden tentang kudeta sangat disayangkan, 
membosankan dan memuakkan. Indikatornyapun tidak jelas. TNI akan melakukan kudeta 
padahal petinggi militer resmi menyatakan tetap setia pada negara, para jendral 
melakukan pertemuan di Jl.Lautze pada hal secara resmi para petinggi TNI melakukan 
pertemuan di MABES TNI, rakyat berdemonstrasi dikatakan menentang pemerintah (kompas 
20-2-2000) pada hal mereka memperjuangkan nasib mereka. Inikah MODEL DEMOKRASI yang 
akan kita tuju di masa depan ?????? Apakah ini merupakan nerves war dari seorang 
kepala negara/pemerintah ? atau para intel dan pembisik yang memasok data diragukan 
validitas dan ketrandalannya sekaligus keahliahnnya atau PROVOKATOR? mungkin para 
intel dan pembisik ada udang dibalik batu atau batu dibalik udang (he...he...he !!) 
ataukah Gus Dur dan intel/pembisik sama-sama mau untung atau buntung ???????? 
BOSAAAAAAAN

Nenny R.Babo
Cht-8
Motto: Jangan benci oposan karena dia akan memberi pemikiran kritis untuk perbaikan.  

Kirim email ke