> dear pak anwar,
> saya surprise dengan prinsip -prinsip sustainability yang anda peroleh
> dari alexander. Saya sendiri sedang melakukan telaah literatur mengenai
> ecological urban-design berdasar karya alexander.
>

Dear Arun,
Saya merasa tersanjung, terima kasih.
Terlebih dahulu saya mohon maaf atas kelancangan saya untuk tidak memberi
initial karena saya tidak tahu gender (Bapak atau Ibu) anda.
Jujur saja, tulisan tersebut saya angkat mengingat lemah dan rendahnya
wawasan elite-elite executive kita yang juga sudah merambah ke Lembaga
Pendidikan yang menciptakan GBHN (Guru Besar Hanya Nama).

>
> saya pikir tak ada orang yang sungguh punya power dan akses untuk
> menerapkan sustainability secara mulus dalam sistem di negara kita,
> karena (1) pendidikan kita tak cukup punya basis kurikulum yang dapat
> memberi landasan bagi apresiasi dasar terhadap lingkungan, (2) kita
> berada dalam transisi -kultural yang menyamarkan nilai-nilai terbaik
> dari kultur tradisional dan modern namun mencuatkan sisi-sisi atraktif
> dari materialisme sistem (3) sistem yang dianut oleh negara kita pada
> dasarnya berorientasi sentralistik dan berafiliasi ke sistem produksi
> kapitalis (4) sistem hukum tak cukup kuat untuk meneguhkan kebijakan
> lingkungan.
>

Sebab itu saya amat setuju dengan dengan empat butir yang anda kemukakan;
untuk maksud tersebut saya ingin menambahkan arti pentingnya "The need for
rationality" terhadap setiap aspek pembangunan berkelanjutan, karena baik
buat kita (baca designer) belum tentu baik untuk orang lain (user).
Sebenarnya, cukup banyak orang yang memiliki Power, Wealth dan Knowledge di
Negara tercinta ini, hanya sayangnya kepentingan pribadi lebih mengemuka
dibandingkan dengan kepentingan umum dan kepentingan yang akan datang
terkhusus pada Lingkungan Binaan. Phenomena ini terlihat sangat jelas:
dimulai dari lingkungan real estate sampai pada RSSSSSSS, demikian juga
bangunan publik seperti Duta Merlin di Jakarta yang usianya belum 25 tahun
sudah koyak dan meroyak serta merusak pemandangan dan banyak lagi; sungguh
menyedihkan.

> sebagai arsitek saya harus mengakui bahwa disiplin arsitektur akan
> berguna apabila sub struktur dalam tatanan sosial turut mendukungnya
> (strukturalisme levi strauss). Kenyataannya,  di indonesia sub
> strukturnya didominasi oleh attitude yang hedonistik, opportunistic,
> serta unrespectful kepada nature. Parahnya, hal ini dapat ditelusuri di
> pranata dasar masyarakt kita, yakni edukasi: dalam suatu seminar
> lingkungan di universitas berbasis religi tertentu, saya mendapati kotak
> makanan beserta sampahnya telah tersebar di bawah kursi para mahasiswa
> bahkan sebelum pembicara ke 2 menyelesaikan presentasinya (ada 3
> pembicara). Bagaimana mau menerapkan sustainabilitas di level regional
> kalo toilet kampus saja penuh kotoran?

Terpulang kembali sikap kepedulian akan lahir kalau kita ingin memaknai arti
sebuah prilaku yang disebut berkelanjutan yang cendrung downward, bersikap
rata-rata air saja sudah susah apalagi upward (bahwa jangan umur saja yang
nambah sementara otak tidak)

> Yang perlu dicermati  di sini adalah orang-orang sering menganggap bahwa
> sustainabilitas berurusan dengan fisikal perkotaan padahal
> sustainabilitas termasuk dalam "payung eco-city" bersama healthy
> community, green movement, economic sustainability, dll. Artinya bahwa
> hal itu lebih berupa kreasi life-styles ketimbang membuat hal fisik
> menjadi siklis. Siklis sih bisa namun tak dilakukan dalam skala
> regional.

Kembali lagi terpulang pada wawasan dalam memaknai arti hidup dan kehidupan
serta mau menyadari bahwa lingkungan ini merupakan pinjaman bagi anak cucu
kita: berupa Etika dan moral dalam melaksanakan pembangunan; yang
kecendrungannya makan bibit.

> yang menjadi program saya adalah devolusi, semacam nation dalam nation,
> yang memakai pedesaan sebagai pilot project untuk program tersebut,
> kebetulan beberapa teman memiliki desa-desa yang dapat dibina. Namun
> yah..baru program, berhubung ada tuntutan internal untuk lebih fokus ke
> studi lanjut.

Saya bukan politisi, kalau saya ingin menggagas program dan konsep, saya
ingin menerapkan suatu konsep inside-out dan outside-in. Mari kita belajar
dari apa yang menjadi landasan murni (essential basic) kejadian suatu
lingkungan binaan dengan segala aspeknya yang dilanjutkan dengan memberikan
perluasan makna. Kita tidak perlu mengajari seseorang untuk hidup dan
survive. (Lihat buku Alexander Notes of the Synthesis of Form)
Hal ini telah dapat saya buktikan, (bahwa untuk menghindari pencuri, jangan
kita buat pagar) saya mengajak para pencuri (ayam) secara bersama-sama untuk
berusaha melakukan usaha beternak ayam (inside-out) dengan teknologi terapan
(outside-in). Disini terlihat antusias mereka untuk berusaha, secara tidak
sengaja terciptalah "sense of belonging" dari mereka (tidak akan mungkin
mencuri milik mereka sendiri). Hasilnya mereka jual sendiri dan mereka
nikmati sendiri - rencana selanjutnya akan digulirkan pada desa-desa
tetangga - dan usaha ini berhasil sebagai suatu usaha untuk merubah pola
pikir.
Demikian juga secara bertahap akan dilakukan pada pembinaan lingkungan
phisiknya.
ini adalah "small step for giant leap"

Akhir kata nanti saya akan sambung kembali.

Salam




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke