Rekan-rekan millis YTH,
Sebagai anak bangsa yang tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa,
ingin urun rembuk dan menggagas menyikapi dan menyiasati berbagai kasus
yang dialami bangsa yang kita cintai. Apalah arti satu suara
dibandingkan dengan quota sekian ratus ribu suara untuk menyuarakan satu
suara di Dewan Perwakilan Rakyat, yang membuat suara ini menjadi tidak
didengar. Oleh sebab itu anak bangsa ini mencoba menyuarakan suatu
gagasan melalui media ini dengan harapan semoga masih ada yang mau
menyikapi dan menanggapinya. Disatu pihak, cukup mengenaskan
membicarakan fenomena kasus bangsa dianggap sebagai masalah bangsa, yang
berarti masih banyak diantara kita yang belum bisa membedakan antara
fenomena dan masalah (seperti juga membedakan fakta, inference dan
opini). Berpijak dari sini, naluri keilmuan anak bangsa ini bergetar
untuk memohon kepada tokoh dan masyarakat elite politik bangsa serta
pemerintah dengan niat yang tulus dan ikhlas mau menelusuri
faktor-faktor kesenjangan yang menjadikan akar masalah bangsa. Gagasan
yang dimaksud dalam tulisan ini terambil dari buku "Getting to Yes" oleh
Fischer, R. dan Ury William (1981) yang mengatakan kita adalah mahluk
dengan emosi yang sangat keras dan kuat, terkadang secara radikal
berbeda persepsi dan sangat sulit berkomunikasi secara jelas (ditambah
lagi dengan defensive communication). Emosi inilah yang menghambat
pencapaian obyektifitas kemanfaatan penanganan masalah - termasuk
penyakit Arogan Iri Dengki dan Sirik (AIDS). Disarankan oleh buku
tersebut, yang harus dilakukan adalah:
a). Pisahkan manusia dengan masalahnya, manusia harus bekerja bahu
membahu mengatasi masalah dan bukannya saling menyerang satu dengan yang
lain.
b). Berfokus pada obyek masalah yang diminati untuk diselesaikan dan
bukannya posisi dan kedudukan dari pihak-pihak yang berseteru.
c). Hasilkan berbagai macam kemungkinan opsi sebelum memutuskan apa yang
harus dilakukan.
d). Yakinkan bahwa hasil yang hendak dicapai berdasarkan standard dan
norma yang obyektif sebagai kriteria-kriteria.
Berdasarkan keempat butir tersebut diharapkan bagi pihak-pihak yang
berseteru mau berfikir jernih dan dewasa untuk mengatasi kemelut yang
berkepanjangan ini. SEMOGA!
Hidup ini terlalu singkat dan waktu ini tidak pernah akan cukup untuk
berbuat kebajikan.

Salam,


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke