Salam jumpa,
Dari membaca tulisan di Kompas tersebut, kalau mau jujur sebenarnya
pelecehan itu sudah terjadi sejak si Arsitek duduk di bangku sekolah.
Masalah ini terjadi di akibatkan kurang (tidak) kuatnya pranata
pendidikan arsitek, dilain pihak masyarakat kita masih belum bisa
memahami makna kekaryaan arsitektur terlebih lagi kepentingan individu
yang lebih mengemuka (emangnya gue pikirin) sepanjang bayarannya baik,
kepentingan umum yang lebih luas tidak perduli.
Pada sebuah pertemuan, yang masih terngiang di telinga -kalau dimakan
Bapak mati, tak dimakan ibu mati- ya dikulum aja! pertanyaannya tapi
sampai kapan??? Statement ini menyatakan ketidak pastian peran arsitek,
yang bisa tertelan atau bisa termuntahkan (dua alternatif yang berakibat
buruk). sudah perlu rasanya memaknai arti "There is no such a black and
white color" dalam berperan sebagai arsitek, sekalipun pelajaran ini
bukanlah hal yang mudah; karena tidak semudah dikatakan.
Kalau mau jujur, sudah hampir semua kota-kota di Indonesia telah
memiliki RUTRK bahkan telah sampai di tingkat Kecamatan yang
penyusunannya dilakukan oleh para konsultan klasifikasi A atau B (untuk
sekedar membuka borok konsultan perencana) akan tetapi implementasinya
tidak sampai 10%; sependapat dengan yang dikatakan oleh Jon Lang "....We
now have the technological ability (and often the technological itch) to
construct buildings, neighborhoods, and cities in wide variety of ways
without fully understanding the ramifications of these designs for human
behaviour.....".
Sesungguhnya hal ini membingungkan, peran arsitek yang mana yang
dilecehkan (pribadi atau karyanya).
Sedangkan tukang becak di Jakarta bisa membuat siaga satu. Mengapa
arsitek dalam wadah IAI dan PSAI tidak bisa?. Memang satu realita lagi
bahwa kepentingan pribadi lebih mengemuka ketimbang kepentingan umum,
sosial dan prilaku.
Hal ini diangkat mengingat pentingnya peran arsitek sebagai "creator of
the built environment" yang apabila salah! maka harga kesalahan tersebut
tidak bisa terbayar.

Sekian dulu lain waktu disambung.
Salam





---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke