sebetulnya itu gejala umum yg dialami oleh hampir semua profesi..kayaknya
sihh...
sht

----------
> From: Johnny Anwar <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Envorum <[EMAIL PROTECTED]>; Milis Berita Lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [envorum] Peran Arsitek Dilecehkan (Kompas, Senin 28/08/00)
> Date: Monday, August 28, 2000 7:42 AM
> 
> Salam jumpa,
> Dari membaca tulisan di Kompas tersebut, kalau mau jujur sebenarnya
> pelecehan itu sudah terjadi sejak si Arsitek duduk di bangku sekolah.
> Masalah ini terjadi di akibatkan kurang (tidak) kuatnya pranata
> pendidikan arsitek, dilain pihak masyarakat kita masih belum bisa
> memahami makna kekaryaan arsitektur terlebih lagi kepentingan individu
> yang lebih mengemuka (emangnya gue pikirin) sepanjang bayarannya baik,
> kepentingan umum yang lebih luas tidak perduli.
> Pada sebuah pertemuan, yang masih terngiang di telinga -kalau dimakan
> Bapak mati, tak dimakan ibu mati- ya dikulum aja! pertanyaannya tapi
> sampai kapan??? Statement ini menyatakan ketidak pastian peran arsitek,
> yang bisa tertelan atau bisa termuntahkan (dua alternatif yang berakibat
> buruk). sudah perlu rasanya memaknai arti "There is no such a black and
> white color" dalam berperan sebagai arsitek, sekalipun pelajaran ini
> bukanlah hal yang mudah; karena tidak semudah dikatakan.
> Kalau mau jujur, sudah hampir semua kota-kota di Indonesia telah
> memiliki RUTRK bahkan telah sampai di tingkat Kecamatan yang
> penyusunannya dilakukan oleh para konsultan klasifikasi A atau B (untuk
> sekedar membuka borok konsultan perencana) akan tetapi implementasinya
> tidak sampai 10%; sependapat dengan yang dikatakan oleh Jon Lang "....We
> now have the technological ability (and often the technological itch) to
> construct buildings, neighborhoods, and cities in wide variety of ways
> without fully understanding the ramifications of these designs for human
> behaviour.....".
> Sesungguhnya hal ini membingungkan, peran arsitek yang mana yang
> dilecehkan (pribadi atau karyanya).
> Sedangkan tukang becak di Jakarta bisa membuat siaga satu. Mengapa
> arsitek dalam wadah IAI dan PSAI tidak bisa?. Memang satu realita lagi
> bahwa kepentingan pribadi lebih mengemuka ketimbang kepentingan umum,
> sosial dan prilaku.
> Hal ini diangkat mengingat pentingnya peran arsitek sebagai "creator of
> the built environment" yang apabila salah! maka harga kesalahan tersebut
> tidak bisa terbayar.
> 
> Sekian dulu lain waktu disambung.
> Salam
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
> 

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke