http://kompas.com/kompas-cetak/0012/04/OPINI/dana28.htm
>Senin, 4 Desember 2000

Dana, Pedang Bermata Dua 

MENJADI benar-benar mandiri itu memang sulit. Apalagi apabila
tuntutan tersebut ditujukan kepada LSM, yang dalam orientasi
kerjanya sangat menabukan keuntungan. Sulit dipahami gerak
sebuah organisasi non profit bisa bertahan di tengah gempuran
kapitalisme saat ini. Namun apa mau dikata, itulah perjalanan
organisasi non pemerintah di negeri ini. Bahkan, ironisnya,
menyandang kata "swadaya" pun dianggap terlalu berlebihan,
lantaran sama sekali tidak terlihat unsur swadaya di sana.

Bila demikian keadaannya, dari manakah sebuah organisasi
nonpemerintah mendapatkan pendanaan? Dalam akta pendirian
sebuah organisasi bersifat non profit, sumber-sumber dana biasanya
tercantum berasal dari tiga komponen, yaitu iuran anggota, donatur
yang mengikat ataupun tidak, serta sumber dana lain seperti hasil
usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut. 

Untuk organisasi semacam LSM iuran anggota tidak banyak
terdengar. Pekerjaan yang lebih bertitik-tolak pada isu ketimbang
pencarian anggota merupakan alasan keberadaan organisasi ini.
Oleh karena itu, jarang terdengar mengenai keanggotaan dan iuran
dalam organisasi semacam ini. 

Begitupun dengan komponen hasil kegiatan usaha organisasi. Masih
dirasakan terlalu berat, bagi sebuah LSM untuk mengelola usaha
yang mampu memberikan kontribusi bagi pendanaan keseluruhan
organisasi. Nama-nama besar seperti Bina Swadaya, Dian Desa,
bisa menjadi contoh dari sedikit organisasi yang secara serius
mengelola berbagai usaha dalam upaya memberikan kontribusi bagi
gerak organisasi.

Untuk sebagian besar LSM, pendanaan melalui sumbangan donatur
menjadi harapan terbesar. Pendanaan macam ini biasanya sangat
tergantung pada proyek yang diajukan. Oleh karena itu, tidak melulu
salah jika sebutan sebagai kontraktor pelayanan umum acap
ditujukan kepada mereka. 

Betapa tidak, jika ditinjau dari mekanisme dan cara kerjanya secara
garis besar memang tidak banyak berbeda dengan para kontraktor
proyek pembangunan gedung sekolah dasar, yaitu mengajukan
proposal proyek, disetujui pemberi dana dan proyek berjalan. Tidak
menjadi persoalan apabila dikemudian hari gedung sekolah tersebut
ambruk lantaran ketidaksesuaian dengan spesifikasi gedung yang
ideal. 

Lebih menyedihkan lagi berkaitan dengan ketergantungan pada
sumber-sumber pendanaan pihak luar, yang sebagian besar
beralasal dari para funding luar negeri justru melahirkan tuduhan
yang tidak sedap. Masih terngiang jelas tudingan minor bahwa LSM
sebagi antek-antek bagi pihak asing yang menjual informasi ke luar
negeri. Begitupun tudingan terhadap para aktivis LSM yang dianggap
menjual isu-isu kemiskinan, penderitaan rakyat, agar pendonor
bermurah hati mengucurkan dananya.

Mansour Fakih tidak menampik adanya pandangan seperti itu. Ia
mengatakan bila berpikir dengan kecurigaan maka pandangan bahwa
LSM mencari duit akan muncul. Namun, bila berpikir dengan tidak
curiga menganggap sebagai sesuatu yang wajar bahwa pada setiap
kegiatan, akan selalu ada dukungan dari mereka yang seide dengan
kegiatan tersebut. 

Selain itu, pimpinan Insist, organisasi yang bergerak dalam
pendidikan, penerbitan, dan perlindungan HAM ini, lebih yakin bukan
LSM yang mencari dana tetapi isu LSM tersebut mampu memancing
pihak lain untuk berkolaborasi dengan memberikan dukungan.
Sebagai contoh, pada jaman pemilu lalu, sepanjang kegiatan yang
dibuat bertujuan pemilu jujur maka besarnya dana tidak menjadi
persoalan. "Organisasi di dunia yang percaya negara akan sejahtera
karena pemilu jujur, tanpa melihat lebih jauh mengenai sistem dan
struktur, pasti akan membantu," tuturnya. 

***

Persoalan dana memang acapkali menjadi batu sandungan.
Bagaikan pedang bermata dua, di satu sisi dana membuat program
kerja dapat berjalan. Namun, sisi lain ia juga sanggup membuat
mabuk para penggunanya. Tidak heran, berbagai kecaman mengenai
pemanfaatan dana ini acapkali menjadi sorotan negatif masyarakat
terhadap keberadaan LSM. 

Kasus Pemilu 1999 lalu dapat dijadikan contoh, betapa urusan
pendanaan menjadi persoalan bagi beberapa LSM. Sebagaimana
diketahui, menghadapi pesta demokrasi pertama kalinya di era
reformasi itu, tidak kurang dari 15 negara plus uni eropa
mengucurkan sumbangan sebanyak 59 juta dollar AS. Dari jumlah
sebesar itu, sekitar 17 juta dollar AS (sekitar Rp 119,4 milyar pada
kurs Rp 7.000 per dollar AS) dikucurkan kepada LSM lokal untuk
membiayai berbagai proyek seperti pemantauan (monitoring) pemilu
dan pelatihan bagi para pemilih.

Saat itu, serta-merta beragam proyek usulan kegiatan diajukan
bermacam-macam LSM, yang pada akhirnya terpilih sebanyak 30
organisasi yang berhak menjalankan program dengan dana
internasional. Tak pelak, bagaikan mendapatkan durian runtuh, dana
milyaran rupiah berputar pada organisasi yang sebagian besar
berusia dini tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya? Gemuruh pemilu
memang nyaring terdengar. 

Siapapun juga sepakat untuk mengklaim, inilah pemilu paling
bergairah yang pernah dialami bangsa ini. Namun sayang,
belakangan justru meninggalkan bau tidak sedap. Dalam laporan
pertanggungjawaban pemakaian dana bantuan (Juni 2000), misalnya,
cacat itu begitu mencolok terlihat. Untuk salah satu LSM yang
berkiprah dalam bidang perburuhan, dalam laporan tertera dari sekitar
Rp 4,5 milyar (645.633 dollar AS) dana yang diterima untuk program
pemantauan pemilu, tidak kurang dari Rp 1,7 milyar (241.496 dollar)
tidak jelas pertanggungjawabannya. Demikian pula untuk kegiatan
yang sama, salah satu LSM yang mengkhususkan diri pada
pemantauan pemilu dari sekitar Rp 24 milyar (3.383.277 dollar)
masih menyisakan persoalan pertanggungan dana sebesar Rp 1,2
milyar (180.206 dollar). Betapa memprihatinkan. (bes/ Litbang
Kompas ) 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke