-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar : [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/19/DAERAH/habi20.htm
>Selasa, 19 Desember 2000
Habitat Orangutan Dirusak
Samarinda, Kompas
Habitat ratusan orangutan di kawasan Hutan Lindung Gunung
Meratus, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur kini sebagian telah
rusak menyusul maraknya aksi para perambah melakukan
penebangan kayu secara ilegal. Keadaan ini membuktikan aksi
perusakan lingkungan wilayah Kalimantan Timur selain
menyebabkan makin parahnya kawasan hutan yang hancur juga
kehidupan habitat satwa-satwa langka di daerah ini juga terancam
kepunahan.
Aksi perambahan hutan lindung Gunung Meratus berlangsung saat
Kompas ikut melakukan pemantauan langsung bersama-sama
dengan Manajer Proyek Pusat Rehabilitasi Orangutan (PRO)
Wanariset Samboja Adi Susilo dan DR Chandradewana BOER, ahli
satwa dari Universitas Mulawarman, hari Sabtu-Minggu (17/12).
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/19/IPTEK/tnla08.htm
>Selasa, 19 Desember 2000
TN Laurentz Butuh Institusi Pengelola
Jayapura, Kompas
Taman Nasional (TN) Laurentz yang disahkan menjadi situs warisan
dunia Oktober 1999, butuh institusi pengelola secara teratur. Sampai
saat ini zonasi TN Laurentz belum dibuat, termasuk tata batas taman
nasional tersebut.
Demikian diungkapkan para tokoh masyarakat yang tinggal di
kawasan TN Laurentz, sebagaimana dikutip Kepala Balai Konservasi
Sumber Daya Alam (KSDA) Kantor Wilayah (Kanwil) Kehutanan Irja
Ign Sutedja di Jayapura, akhir pekan lalu (15/12).
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/19/IPTEK/wart08.htm
>Selasa, 19 Desember 2000
Warga Keluhkan Dampak Pencemaran Industri Cilegon
Jakarta, Kompas
Warga di Kecamatan Gerem yang bermukim dekat dengan kawasan
industri Cilegon, Banten, belakangan ini sering mengeluh terkena
gangguan kesehatan seperti mata perih, mual, dan pusing. Di Pantai
Salira Merak, wisatawan juga menyatakan sering terganggu bau
tidak sedap yang diduga berasal dari hasil pembakaran batu bara
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya atau mungkin dari
industri di sekitarnya.
Sementara itu, diketahui pula telah terjadi pencemaran di pantai dan
laut di sekitar wilayah tersebut. Selain pencemaran, juga dilaporkan
terjadi abrasi di Pantai Pulomerak karena penimbunan dan
pengurukan dengan pasir, serta musnahnya hutan bakau.
Permasalahan itu terungkap dalam kunjungan Menteri Negara
Lingkungan Hidup (Menneg LH)/Kepala Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan (Bapedal) Sonny Keraf dan Sekretaris Menneg LH
Sudarsono ke wilayah pesisir dan kawasan industri Cilegon, Sabtu
(16/12). Dalam kunjungan tersebut rombongan mengadakan dialog
dengan pemda setempat, perwakilan masyarakat industri Cilegon
dan Serang, wakil perguruan tinggi, pers, serta lembaga swadaya
masyarakat (LSM).
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/19/IPTEK/ilo08.htm
>Selasa, 19 Desember 2000
ILO Desak Penghapusan Pekerja Anak di Pertambangan
Palangkaraya, Kompas
Organisasi Buruh Sedunia (International Labour Organization/ ILO)
melalui National Programme Manager IPEC Pandji Putranto
mendesak penghapusan pekerja anak di pertambangan emas, di
Kalimantan Tengah. Sampai sekarang, di daerah tersebut masih
ditemui sejumlah penambang emas usia sekolah. Padahal,
Pemerintah Indonesia memiliki Undang-Undang (UU) Nomor 20
Tahun 1999 dan UU Nomor 1 Tahun 2000 mengenai usia minimum
bekerja di pertambangan.
Pandji dalam acara semiloka tentang penghapusan pekerja anak di
pertambangan emas, Sabtu (16/12) di Palangkaraya, menambahkan,
persyaratan minimum bagi seseorang untuk bekerja adalah usia
tamat wajib belajar atau tidak kurang dari 15 tahun. Di Kalimantan
Tengah (Kalteng) masih banyak pekerja anak di bawah usia
minimum tersebut.
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/19/IPTEK/sema08.htm
>Selasa, 19 Desember 2000
Semakin Cepat, Pengulangan El Nino dan La Nina
Jakarta, Kompas
Anomali cuaca atau iklim yang ekstrem belakangan ini cenderung
semakin sering terjadi. Hal ini mengindikasikan semakin tingginya
konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sebagai akibat aktivitas
manusia di Bumi. Berdasarkan catatan historis, periode pengulangan
terjadinya tahun El Nino dan La Nina semula berkisar empat hingga
tujuh tahun sekali. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir ini
kemunculannya berkisar antara dua hingga empat tahun.Demikian
dikemukakan Kepala Jurusan Geofisika dan Meteorologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor
(FMIPA IPB) Dr Rizaldi Boer kepada wartawan, pada lokakarya
tentang Perencanaan Kegiatan Proyek Climate Change Enabling
Activity, Phase II, di Jakarta, Senin (18/12).
http://suarapembaruan.com/News/2000/12/19/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Otonomi Daerah dan Reboisasi
AWASAN hutan tropis kita menyusut secara akumulatif karena dikuras secara
sistematis
oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) selama rezim Orde Lama dan Orde
Baru hingga sekarang. Penyusutan itu memberi gambaran buram terhadap keadaan hutan kita
umumnya. Ditambah lagi, akibat krisis ekonomi berkepanjangan, penjarahan dan
penyerobotan
hutan oleh para penduduk sekitarnya makin memperburuk keadaan hutan kita.
Sebuah dialog interaktif antara birokrasi kehutanan, para pakar kehutanan serta
asosiasi
Masyarakat Perhutanan Indonesia (MPI) baru-baru ini mencatat angka-angka menyusutnya
hutan di Sumatra dan Kalimantan masing-masing tinggal 26 dan 34 persen dari seluruh
wilayah
dua pulau terbesar di Nusantara itu setelah Irian. Memang di luar kedua pulau tersebut
kerusakan hutan kita belum separah itu.
http://suarapembaruan.com/News/2000/12/19/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Indonesia Tak Akan Impor Daging Irlandia
Jakarta, 19 Desember
Indonesia tidak akan mengimpor daging dari Irlandia untuk mencegah penularan penyakit
madcow, sementara pasokan daging sapi untuk Natal dan Lebaran 2000, 80 persen
merupakan daging lokal dan Indonesia hanya mengimpor 20 persen.
Hal itu dikatakan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Luhut Binsar Panjaitan kepada
wartawan di Jakarta, Senin (18/12) pagi seusai melakukan kunjungan ke beberapa pasar
tradisional dalam kaitan pengadaan bahan kebutuhan pokok menjelang Natal, dan Lebaran,
serta Tahun Baru 2001.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900144386
Energi, Mineral, dan Otonomi
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh Dr Ir Purnomo Yusgiantoro
KEBIJAKAN pembangunan sentralistik selama puluhan tahun dipandang
sebagai penyebab tingginya ketergantungan daerah kepada pusat. Itu
yang
menjadi salah satu penyebab terhambatnya kreativitas masyarakat dan
seluruh perangkat pemerintahan di daerah. Sementara kesenjangan
antara
daerah dan pusat pun kian menganga.
Gagasan tentang adanya otonomi daerah pun kemudian muncul. Pada
awalnya itu mulai diwujudkan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974
tentang Otonomi Daerah. Sayang, pelaksanaannya masih tetap cenderung
bersifat sentralistik. Sehingga prinsip-prinsip otonomi daerah belum
dapat
diwujudkan.
http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2000121900142362
Hukum Adat Akar Hukum Nasional
Media Indonesia - Umum (19/12/2000 00:14 WIB)
Oleh : F Sugeng Istanto
INDONESIA merupakan suatu negara kepulauan dengan wilayah laut yang
luas dan beribu pulau-pulau besar dan kecil. Dalam wilayah itu
bermukim
penduduk asli yang berkelompok dalam berbagai masyarakat adat.
Masyarakat adat yang berjumlah banyak itu mempunyai ciri kehidupan
masing-masing yang beraneka. Kehidupan masyarakat adat itu diatur
hukum kebiasaan mereka masing-masing yang lazim disebut hukum adat.
Hukum adat itu mengatur kehidupan bermasyarakat warganya, baik
kehidupan pribadinya maupun kehidupan pemerintahan masyarakatnya.
Berdasarkan ciri-ciri kehidupan masyarakat itu seorang pakar hukum
adat
dari negeri Belanda mengelompokkan hukum adat masyarakat Indonesia
tersebut menjadi 19 lingkungan. Meskipun terbagi dalam berbagai
lingkungan hukum adat yang beraneka ragam itu memperlihatkan
kesamaan asas-asas yang melandasinya. Asas-asas itu antara lain
kesatuan, kekeluargaan, kegotong-royongan, musyawarah untuk mufakat,
dan keterikatan pada suatu kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa. Di
bawah naungan hukum adat itu kehidupan masyarakat tersebut tampak
damai, sejahtera, dan rame ing gawe.
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]