-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/DAERAH/nela19.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Nelayan Batam Terima Ganti Rugi
Batam, Kompas 

Setelah menunggu dua bulan, nelayan di Pulau Batam akhirnya
memperoleh ganti rugi dari pemilik kapal MT Natuna Sea, yang
menumpahkan minyak mentah di perairan Pulau Batam pada tanggal
4 Oktober 2000. Namun, besarnya ganti rugi yang diberikan saat ini
hanya sebesar 1,5 juta dollar AS atau Rp 13,5 milyar (1 dollar AS =
Rp 9.000), setengah dari tuntutan para nelayan sebesar Rp 25
milyar.

Hal tersebut diutarakan Wali Kota Batam, H Nazief Soesilo Dharma
kepada wartawan seusai bertemu dengan pemilik kapal di Batam,
Selasa (19/12). Menurut Nazief, dana yang telah diserahkan pemilik
kapal hanya merupakan uang muka, sehingga persoalan ganti rugi
kepada nelayan dan Pemda Batam belum dapat dianggap selesai.

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/DAERAH/ular19.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Ular Sanca Bulan di Irja Terancam Punah
Jayapura, Kompas 

Ular sanca bulan (Moereli boelinni) yang terdapat di Jayawijaya dan
sebagian di Puncak Jaya, Irian Jaya (Irja) mulai terancam punah. Ular
tersebut jarang ditemukan kecuali harus melakukan penelitian
sampai jauh ke daerah pedalaman. Ular sanca bulan Irja tidak
ditemukan di dunia lain, dan menjadi rebutan para wisatawan
mancanegara. Harga ular yang tidak berbisa ini mencapai Rp 6 juta
per ekor.

Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kantor Wilayah
Kehutanan Irja, Ir Ign Sutedja MM di Jayapura, pekan lalu
mengatakan, jenis ular ini hanya ditemukan di Jayawijaya dan
sebagian daerah Puncak Jaya. Ular ini sudah terancam punah.

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/DAERAH/ikan19.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Ikan Duyung Ditemukan di Teluk Balikpapan
Samarinda, Kompas 

Tim Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI)
dan tim Proyek Pesisir Coastal Resources Managament Proyect
(CRMP) menemukan satwa langka ikan duyung (Dugong dugon) di
perairan Jenebara, Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Temuan
yang mengejutkan ini terjadi saat tim itu melakukan survei dan
observasi terhadap kehidupan habitat pesut pesisir di sepanjang
muara Delta Mahakam hingga Teluk Balikpapan, 13 Desember 2000.

Temuan itu diungkapkan Danielle Kreb, mahasiswa program doktoral
bidang konservasi satwa langka dari Universitas Amsterdam kepada
Kompas di Kantor Yayasan Konservasi RASI di Samarinda, Selasa
(19/12). "Penemuan ini menggembirakan karena selama ini di daerah
pesisir Kaltim sudah lama tidak diketahui keberadaannya," tuturnya.

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/EKONOMI/anta56.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Ketahanan Pangan Antara Fakta dan Angin Surga

JANUARI 2001, pemerintah menjanjikan berlakunya harga dasar
gabah (HDG) baru, Rp 1.500 per kilogram gabah kering giling (GKG).
Harga dasar tersebut lebih tinggi dari harga dasar tahun 2000 yang
ditetapkan Rp 1.400 per kilogram. 

Janji pemerintah ini memunculkan tanda tanya besar, keraguan.
Bahkan, sebagian petani menanggapinya dengan apatis. xxxxiSebab
dengan harga dasar Rp 1.400 saja, pemerintah sulit untuk
memenuhinya, dan kenyataan di lapangan berbeda jauh antara janji
dan realisasi. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/IPTEK/meng08.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Mengkhawatirkan, Perambahan Hutan Suaka Alam Sembilang 
Palembang, Kompas 

Perambahan Hutan Suaka Alam (HSA) Sembilang, Musi Banyuasin,
Sumatera Selatan, sudah tidak dapat ditolerir lagi. Bila pencegahan
tidak segera dilakukan, kawasan hutan bakau dan garis pantai timur
Sumatera wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) akan menjadi
kawasan terbuka tanpa pertahanan ekosistem mangrove (hutan
bakau) lagi. 

Ketua Yayasan Advokasi Hukum Lingkungan Palembang Rachmad
Setiawan yang baru tiba dari lokasi terkait, kepada Kompas di
Palembang, Sabtu (16/12) lalu mengimbau, sudah saatnya
pemerintah bertindak tegas. Jika tidak, kerusakan hutan mangrove
yang sudah mencapai 3.200 hektar dipastikan akan semakin
bertambah. Sebab, katanya, seluruh areal perambahan sudah
menjadi lahan tambak udang tradisional yang mengundang minat
kelompok lain untuk ikut masuk ke sana. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/IPTEK/ratu08.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Ratusan Burung Kalimantan Sudah Sulit Ditemukan
Samarinda, Kompas 

Ratusan jenis burung Kalimantan kini sudah sangat sulit ditemukan.
Hilangnya satwa ini terutama dirasakan di kawasan hutan
Kalimantan Timur. Itu terjadi karena makin parahnya kerusakan
hutan di wilayah itu akibat kegiatan eksploitasi, perambahan, alih
fungsi, kebakaran hutan.

Chandradewana Boer, ahli satwa dari Universitas Mulawarman
(Unmul) Samarinda, mengungkapkan hal tersebut hari Senin (18/12)
di Samarinda. "Dari ratusan burung yang sulit ditemukan itu, bahkan
banyak sudah dinyatakan sebagai jenis satwa yang terancam
punah," tambahnya.

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/IPTEK/dica08.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Dicabut, 64 Izin Usaha Perikanan
Jakarta, Kompas 

Sebanyak 85 perusahaan yang dinilai telah melakukan pelanggaran
dalam melakukan aktivitasnya di laut, dicabut Izin Usaha Perikanan
(IUP)-nya oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Selain
itu, DKP juga mencabut 77 Surat Penangkapan Ikan (SPI), karena
pemegang hak terkait telah melakukan pelanggaran, antara lain
penjualan hasil tangkapannya di tengah laut (transshipment),
pengalihan kepemilikan melalui keputusan pengadilan, dan
penangkapan ikan secara ilegal. Menteri Kelautan dan Perikanan
Sarwono Kusumaatmadja dalam acara buka puasa bersama di
Jakarta, Senin (18/12) malam menambahkan, dalam rangka
pengendalian perizinan di sektor perikanan, sejak Maret hingga
September 2000 DKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan telah
membekukan 138 IUP dan mencabut 64 IUP yang sebagian besar
merupakan perusahaan swasta nasional.

http://kompas.com/kompas-cetak/0012/20/UTAMA/harg11.htm
>Rabu, 20 Desember 2000

Harga Bawang Merah Semakin Anjlok
Semarang, Kompas 

Perkembangan harga bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa
Tengah, terus mendera nasib petani setempat. Harga bawang merah
di pasaran terus merosot akibat makin berkurangnya aktivitas
pedagang antarkota, sehingga harga semakin jatuh dari Rp 3.000 per
kilogram di tingkat pasar, menjadi Rp 2.500 per kilogram.Kepala
Pasar Bawang Induk Klampok, Munaroh ketika dihubungi, Selasa
(19/12), di Kecamatan Wanasari, Brebes, mengemukakan, tak
banyak pedagang antarkota yang mengambil bawang merah dari
Pasar Klampok. Akibatnya, tumpukan bawang merah di pasar hingga
menjelang sore masih begitu banyak.

"Kalau harga pasar sudah turun Rp 500 per kilogram maka di tingkat
petani tentunya harganya semakin menyedihkan. Lebih lagi, kini
hanya bawang merah besar saja yang diminati pedagang antarkota,"
ujar Munaroh.


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke