Ketergantungan petani kepada produk an organik / kimia bukan serta merta merupakan kesalahan atau kebodohan petani dalam mengelola pertanian dengan sistem atau metode selama pasca revolusi hijau. Pada masa dimulainya revolusi ini, dalih yang mengemuka adalah bahwa terdapat kebutuhan pangan yang semakin besar dan tidak dapat dipenuhi oleh sistem bertani yang sedang dilakukan. Tapi jangan lupa, bahwa pengaruh arus modal yang semakin kuat untuk masuk ke Indonesia (diperburuk oleh pemerintah Orde Baru yang menjerumuskan petani untuk bergantung pada benih tertentu, sehingga kemudian tergantung pula pada jenis pupuk tertentu dan obat DDT tertentu). Industri yang sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap pertanian yang berkelanjutan (merugikan petani), sampai sekarang masih dengan leluasanya diberikan tempat. Sebagai kepedulian kita maka saya berpikir bahwa usaha-usaha pemberdayaan petani melalui pelatihan membuat pupuk organik (yang mampu mengembalikan unsur hara tanah serta memutus ketergantungan pada industri yang merugikan), secara terus menerus melakukan kampanye kepada para stakeholders akan pentingnya pertanian yang berwawasan lingkungan. Inilah yang kurang lebih sedang kami lakukan di Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA), menjalin bekerjasama dengan pemerintah, petani, pengusaha, media massa, yang memiliki kepedulian yang sama. Tentu saja usaha ini mengalami banyak kendala, terutama dari para kapitalis anorganik. Silahkan kawan-kawan bergabung bersama kami. R.H. Soebagio Sekretaris MAPORINA Jabotabek Sekretariat Pusat : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang � 65145 Telp. (0341) 565287, 566287 Fax. (0341) 560011 E-mail : [EMAIL PROTECTED] http : //www.maporina.or.id Sekretariat DKI Jakarta Jl. Dato� Tonggara No.18 Kramat Jati, Jakarta 13510 Telp. (021) 8094283, 8004332 Fax. 8004332 E-mail : [EMAIL PROTECTED] "helmi yusuf" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: oh ya, DIT maksudnya begini, jaman dulu nenek moyang kita bertani tidak pakai sprodi (sarana produksi pertanian spt pupuk, benih unggul, pestisida dll). cukup pupuk kandang dan kompos saja dapat tumbuh dengan baik. tapi setelah adanya revolusi hijau sekitar 1960 sampai sekarang ternyata efek-efek penggunaan sprodi tsb dapat dirasakan sehingga hanya petani-petani yang punya modal dan akses tekhnologi saja yang bisa sukses. Hal ini menjadi kendala ketika saprodi tersebut tidak tersedia cukup di pasaran, maka petani mau tidak mau harus membeli dengan harga yang tinggi padahal kalau kita pikir penggunaan pupuk dewasa ini sangatlah boros atau berlebihan dosisnya sehingga menjadi jenuh akan unsur hara dalam tanah, dan menurut beberapa penelitian areal kita di jawa 80 % sudah terdegradasi kesuburannya hal ini memperngaruhi produktivitas lahan yang tidak optimal. karena perlu biaya tinggi untuk pemupukan. belum lagi pengaruh faktor hama dan penyakit berapa biaya yang diperlukan oleh petani untuk itu ? sangat besar tentunya ? pemakaian pestisida yang berlebihan akan menimbulkan kerusakan lingkungan belum lagi kesehatan manusia seperti contoh bawang merah di brebes penggunaan pestisida sangat lah besar atau apel batu sekitar 7 - 8 bahan aktif beracun untuk membunuh hama dan penyakit dapat anda banyangkan efek bagi kesehatan kita karena kita makan makanan yang mengandung residu pestisida ? tapi enak juga ha ha ha ha ..... benih unggul anda tahu jaman dulu nenek moyang kita benih tidak pernah beli cukup dari tanaman sebelumnya karena memang sudah benih bagus tapi hasilnya kurang baik tapi harganya mahal ? kalau sekarang anda bisa banyangkan 1 kg beras hanya rp. 2000 produksi perhektar 3 ton beras paling banter petani kita penghasilannya 2.000.000 rupiah (belum kena tengkulak) jaman dulu 5 ton gabah saja bisa beli traktor sekarang mungkin hanya 10 ton baru bisa beli traktor hal ini dikarenakan produksi melimpah. inilah yang dianamakan petani mabuk berat dan ketagihan ganja (sparodi) karena takut hasil tidak bagus tapi kalau hasil bagus produk murah sekali ha ha ha ha ... tapi yang menjadi dilema hasil tanaman yang ditanam dengan pertanian jaman dulu tidak bisa menghasilkan optimal tapi ekologi kita tidak rusak, sekarang mungkin ekosistem kita akan rusak. jadi ada jalan tengahnya penggunaan input saprodi secara bijak ( sesuai kebutuhan/tidak berlebihan) masih banyak sisa-sisa dedaunan dan kotoran hewan bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai pupuk. karena pupuk kompos ini kurang mencukupi kebutuhan tanaman akan unsur hara maka kita perlu menambahkan input luar sesuai dengan kebutuhan tanaman yang kurang tersebut. ______________________________________________________ peluang mendapatkan uang $US 2000/bulan http://www.sixfigureincome.com/?441423 penghasilan setahun $US 100.000 http://www.sixfigureincome.com/products/magazine/?441423 Gratis newsletter cara mendapatkan uang minimal $ US 2000 tanpa menjual barang just clik http://www.sixfigureincome.com/newslettersubscribe.html?441423 hnb agrobussines Jl. KH. agus salim 29 b Kediri telp. 0354 772962, --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected] ____________________________________________________________________ Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
[envorum] Re: [Re: Re:[envorum] perkenalan dan informasi pertanian berkelanjutan]
R . H . Soebagio Tjiptosudarmo Wed, 20 Dec 2000 20:27:52 -0800
- Re: [envorum] Re: [Re: Re:[envorum] perkena... R . H . Soebagio Tjiptosudarmo
- Re: [envorum] Re: [Re: Re:[envorum] pe... anto none mahbub
