-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/13/IPTEK/sabu10.htm
>Sabtu, 13 Januari 2001

Sabut Kelapa di Lombok Perlu Teknologi Sederhana
Mataram, Kompas 

Sabut kelapa di beberapa daerah di Pulau Lombok, Nusa Tenggara
Barat, memerlukan sentuhan teknologi sederhana untuk diolah
menjadi produk industri yang memang memiliki pangsa pasar di luar
negeri. Berkaitan dengan itu, pemerintah daerah dalam masa
otonomi daerah saat ini hendaknya mampu memberi perhatian
khusus, mengingat bila hal ini berkembang bisa menjadi sumbu
perekonomian bagi masyarakat dan daerah bersangkutan.

Menurut Abdan Zuhat, dari Divisi Pengembangan Ekonomi Yayasan
Kerja Perumahan Rakyat, Jumat (12/1), di Mataram, sabut kelapa
asal Lombok belum mampu menembus pasar dalam negeri.
Penyebabnya, mesin pengolah sabut kelapa mentah menjadi barang
setengah jadi belum ada karena keterbatasan modal para bandar
(pedagang pengumpul) maupun produsen sabut untuk membeli
mesin pengolah tadi.

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/13/IPTEK/gunu10.htm
>Sabtu, 13 Januari 2001

Gunung Inelika Muntahkan Debu
Kupang, Kompas 

Gunung Inelika, sekitar 13 kilometer selatan Bajawa, kota Kabupaten
Ngada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (11/1)
memuntahkan debu bercampur pasir. Letusan sekitar pukul 19.00 itu
telah membuat warga sekitarnya tercekam ketakutan. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/13/IPTEK/oton10.htm
>Sabtu, 13 Januari 2001

Otonomi Daerah Tak Korbankan Lingkungan
Samarinda, Kompas 

Dalam pelaksanaan otonomi daerah, pengelolaan lingkungan hidup
mempunyai peluang sama atau fifty-fifty. Artinya, bisa keadaannya
lebih buruk-artinya kerusakan lebih parah-tetapi juga bisa sebaliknya,
justru kelestarian lingkungan hidup bisa lebih terjaga.

Peluang ini semua sekarang ada di tangan pemerintah daerah.
Daerah yang harus membuktikan, apakah betul keadaan lingkungan
hidup nantinya bisa lebih baik atau sebaliknya.

Demikian penegasan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg
LH)/Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal)
Sonny Keraf dalam pertemuan dengan para pejabat pemerintahan
daerah se- Kalimantan di Samarinda, Rabu (10/1).

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/13/IPTEK/pesi10.htm
>Sabtu, 13 Januari 2001

Pesisir Pantura Jawa Ditangani Terpadu
Jakarta, Kompas 

Kawasan pesisir pantai utara (pantura) Pulau Jawa saat ini
mengalami kerusakan lingkungan yang parah, antara lain berupa
musnahnya hutan mangrove, abrasi, dan menurunnya permukaan
tanah, serta pencemaran laut yang makin meluas oleh limbah dari
berbagai aktivitas manusia di daratan dan pesisir. 

Penanganan kasus lingkungan ini tidak akan teratasi dengan tuntas
bila ditangani secara sektoral. Karena itu, masalah tersebut mulai
tahun ini akan ditangani secara terpadu dengan melibatkan instansi
terkait, yaitu Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg
LH)/Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal),
Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Permukiman dan
Prasarana Wilayah, serta Badan Koperasi dan Pengusaha Kecil.
Kegiatan ini juga akan melibatkan pemerintah daerah (pemda),
lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan masyarakat setempat. 
Demikian penjelasan Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Dr Rokhmin Dahuri di Jakarta, Jumat (12/1). Hal yang sama
disinggung oleh Prof Dr Hadi S Alikodra, Senior Adviser Pro LH-GTZ
pada dialog interaktif "Pengelolaan Lingkungan dalam Otonomi
Daerah" di Samarinda, Kamis.

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/13/UTAMA/aksi01.htm
>Sabtu, 13 Januari 2001

Aksi Preman Merajalela di Sawah-sawah Pantura 

PREMAN mudah dicari di terminal, pasar, dan pusat keramaian
lainnya. Orang mudah mengenal si Badu, atau si Polan yang merajai
tempat-tempat seperti itu hingga orang bergidik bila melihat ulahnya.
Sebagai contoh, orang akan tahu nama Hercules begitu menyebut 
"penguasa" Pasar Tanah Abang, Jakarta. 

Akan tetapi, kini, "jagoan" seperti itu bukan hanya merambah
tempat-tempat seperti itu. Sawah pun jadi ajang premanisme. "Coba
saja kalau tidak bayar, truk kami tidak akan bisa ke luar dengan
selamat," kata H Mujahidin (48).

http://www.indomedia.com/bpost/012001/13/ekbis/ekbis5.htm

Pemerintah Rugikan Petani
Jakarta, BPost

Pemerintah harus memperbaiki manajemen perberasan nasional yang selama ini tidak
menguntungkan petani dan cenderung spekulatif dalam menghitung produksi serta stok 
nasional.

Menurut Ketua Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia (Apmindo), Mahyudin Nawawi, untuk
pemerintah juga perlu memiliki undang-undang perberasan nasional agar kebutuhan pokok
masyarakat tersebut dapat dipenuhi dengan harga stabil dan memberi nilai tambah bagi 
petani.

Selama ini, katanya, perhitungan stok dan permintaan beras dalam negeri belum 
berdasarkan
kondisi sebenarkan karena data mengenai stok dan kebutuhan komoditas cenderung 
manipulatif
dan tidak pasti. Ketika akan mengimpor data stok seringkali diperkecil.

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/13/JATIM/pasu18.htm
>Sabtu, 13 Januari 2001

Pasukan Kuning Surabaya Lebih Rawan Timbal
Surabaya, Kompas

Pasukan kuning (penyapu jalan) Surabaya yang jumlahnya mencapai
sekitar 1.000 orang, ternyata lebih rawan timbal (Pb) daripada
pasukan kuning di negara-negara lain. Pasukan kuning Surabaya
telah mengalami gangguan kesehatan, walaupun kadar timbal di
darahnya masih di bawah kadar maksimal yang direkomendasikan
Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Hasil penelitian dr Muji Sutrisno M Psi dari Program Pascasarjana
Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya menemukan, pasukan
kuning Surabaya mengalami gangguan dan penurunan aktivitas
kognisi seperti persepsi, ingatan, bahasa, dan pemecahan masalah. 
Penelitian dilakukan tahun 2000 terhadap 78 petugas penyapu jalan
yang telah bekerja selama 5 sampai 10 tahun lebih di daerah padat
lalu lintas Kota Surabaya. Diprediksikan, mereka tercemar asap
kendaraan bermotor ketika melakukan tugas-tugasnya setiap hari.
Dan hasilnya sudah menunjukkan, mereka telah mengalami
gangguan memori. Padahal kandungan Pb di udara dan Pb di dalam
darah masih di bawah nilai ambang batas yang ditentukan oleh SK
Gubernur Tk I Jawa Timur No 129/1996 dan WHO 1986, yaitu masih
di bawah 0,06 mg/m3 dan 40 ug/100 ml, sedang yang paling tinggi
dengan kadar Pb darah 40 ug/100 ml hanya dua orang saja. 

http://suarapembaruan.com/News/2001/01/13/Editor/ed03/ed03.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Otda: Gerak dari Atas atau Tuntutan dari Bawah?

            ASHADI SIREGAR

               ua ekstremitas dalam menghadapi otonomi daerah (Otda), yaitu 
tarik-menarik
               antara tuntutan dari bawah yang melahirkan ''raja-raja'' kecil di 
daerah pada satu
pihak, dan pada pihak lain masih kuatnya kelompok yang mempertahankan konsentrasi 
kekuasaan
pusat demi negara kesatuan (lihat: Tajuk Rencana Pembaruan, 10 Januari 2001). 
Ekstremitas itu
biasanya muncul dari elite sosial (pejabat pemerintahan, anggota lembaga perwakilan, 
dan tokoh
masyarakat) pada level nasional dan lokal. 

Otda merupakan tuntutan undang-undang (No 22 Tahun 1999) yang sudah diangkat sebagai 
salah
satu amanat MPR. Karena itu, tidak ada alasan untuk menolaknya lagi. Kecuali pihak 
yang masih
menginginkan konsentrasi kekuasaan pemerintahan di pusat dapat membalik sejarah, dengan
mengubah Tap MPR dan undang-undang. 

Selain ekstremitas itu, persoalan yang tidak kalah runyamnya adalah dalam mengartikan 
otonomi
sebatas pengelolaan kekayaan materiil. Antara lain muncul melalui tuntutan untuk 
membentuk
provinsi baru, bahkan pada tingkat ekstrem memisah dari Negara Republik Kesatuan 
Indonesia
(NKRI). Selalu alasan yang muncul berkaitan dengan banyaknya sumber kekayaan setempat 
yang
tidak dinikmati. Alam pikiran itu berasal dari bentukan puluhan tahun Orde Baru yang 
berorientasi
pada pertumbuhan materiil dengan mengabaikan penguatan kelembagaan masyarakat. 

http://suarapembaruan.com/News/2001/01/13/Nusantar/nu03/nu03.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Kongres Rakyat Sulbar Digelar di Majene 
Makassar, 13 Januari

Perjuangan masyarakat Polewali Mamasa, Majene, dan Mamuju (Polemaju) untuk menjadikan
ketiga kabupaten itu sebagai provinsi kelima di Pulau Sulawesi terus bergaung. Mereka 
akan
mengadakan kongres dan rapat akbar di Kabupaten Majene, 19-21 Januari mendatang.

''Kongres ini akan dihadiri sekitar 500 tokoh dan wakil komponen masyarakat Sulawesi 
Barat
(Sulbar) dari seluruh Indonesia. Mereka akan menyampaikan pernyataan sikap, aspirasi 
bulat
rakyat bahwa Provinsi Sulbar adalah konsep final dan akan menjadi keniscayaan 
sejarah,'' kata
Ketua Umum Komite Aksi Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat (KAPP Sulbar) H Rahmat
Hasanuddin SE MSi kepada Pembaruan, Jumat (12/1), di Makassar.

http://suarapembaruan.com/News/2001/01/13/Kesra/ks03/ks03.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Pendidikan Lingkungan Akan Diajarkan di Sekolah
Samarinda, 13 Januari

Pendidikan lingkungan akan diajarkan di sekolah, terutama di sekolah dasar, sebagai 
mata
pelajaran baru yang dimaksudkan untuk menggugah kesadaran dan kecintaan anak terhadap
lingkungan hidup. Mata pelajaran baru ini menurut rencana akan dimulai pada tahun 
ajaran baru,
sekitar Juli 2001.

Hal itu dikemukakan Menteri Negara Lingkungan Hidup (LH) Sonny Keraf kepada wartawan di
Samarinda, Rabu (10/1), seusai berbicara dalam "Dialog Interaktif Pengembangan 
Kapasitas
Pengelolaan LH di dalam Otonomi Daerah."

http://suarapembaruan.com/News/2001/01/13/Kesra/ks02/ks02.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

TKI Jatim Hasilkan Devisa Rp 1 Triliun

Tidak banyak yang tahu bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) ternyata menghasilkan devisa
yang tidak sedikit. Bahkan, jumlahnya amat signifikan, yang dapat dilihat dari kiriman 
uang
melalui bank. 

Provinsi Jawa Timur yang merupakan produsen terbesar TKI di Malaysia menjadi contoh
keberhasilan menghasilkan devisa tersebut.

''Dalam satu tahun jumlah uang yang dikirim TKI resmi dari Malaysia melalui berbagai 
bank,
mencapai Rp 1,4 triliun,'' kata Kakanwil Depnaker Jatim Dr Musni Tambusasi MSc di
Pekanbaru, belum lama ini.


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke