Januari 2001 Riau Kuasai Eksplorasi Pasir 

PEKANBARU-Pada awal Januari 2001 penanganan eksplorasi
dan eksploitasi pasir laut di wilayah  Riau kepulauan
menjadi wewenang Pemerintah Propinsi. Demikian
dikatakan Kepala Dinas Pertambangan Riau, Ir. Edy
Syaputra Rab, di ruang kerjanya, Sabtu (09/12).
�Penyerahan wewenang pasir laut dari Pusat ke
Pemerintah Propinsi Riau, paling lambat dilakukan awal
Januari 2001.  Setelah penyerahan itu dilakukan, maka
semua penanganan  pasir laut sepenuhnya menjadi
wewenang Pemprop Riau,� kata Edy.    
Dijelaskannya, hal itu merupakan hasil pertemuan
Direktorat Pertambangan Umum Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral RI dengan Dinas Pertambangan Riau
dan Pemkab/Pemko, beberapa instansi terkait, PT
Surveyor Indonesia dan para pengusaha pasir laut, di
Singapura belum lama ini. Pertemuan itu juga dihadiri
Dubes Ri untuk Singapura. 
�Selama ini pasir laut selalu menjadi polemik antara
pusat dan daerah. Karena Riau lebih banyak mendapatkan
kerusakan lingkungan,� ujarnya.
Dikatakan Edy, dirinya sangat menyesalkan ulah 
beberapa perusahaan penambangan  pasir laut yang masih
beroperasi di Riau kepulauan, padahal,  amdalnya telah
ditolak oleh Pemprop. �Saya sangat kecewa, tapi  ia
tidak bisa berbuat apa-apa. Pusing saya memikirkannya,
Riau kepulauan itu telah habis dikapling semuanya oleh
para pengusaha, yang kebanyakan berasal  dari pusat,�
ujarnya.
Karena itu, katanya, Pemprop melalui koordinasi Dinas
Pertambangan telah mempersiapkan segala sesuatunya
untuk pengelolaan pasir ini dibantu beberapa instansi
yang terkait lainnya, seperti Bapedalda dan
Depperindag. 
Mengenai pengawasan nantinya, tambah Edy, akan
dilakukan secara terpadu. �Kita akan menggunakan
sistem terpadu dengan melibatkan LSM, pihak perguruan
tinggi, masyarakat, dan instansi lainnya dalam
melakukan monitoring. Pokoknya, dilakukan pengawasan
seketat mungkin. Tidak hanay di Indonesia, tapi juga
di Singapura,� tandasnya

Diskusi Pakar Terbatas Riau Mandiri ke-7

Yang menarik dalam Akibat beranjak dari konsep yang
salah dan hanya mementingkan aspek ekonomis yang hanya
untuk kepentingan segelintir orang, mengakibatkan
terjadinya pencemaran yang cukup memprihatinkan. Hal
ini terlihat semenjak bermunculannya
perusahaan-perusahaan di sepanjang aliran sungai Siak.

Pernyataan ini disampaikan oleh ketua Tim Rona
lingkungan UNRI Ir. Ariful Amri dalam diskusi pakar
yang dilaksanakan Riau Mandiri Grup, Sabtu (11/11).
Menurut Ariful, selama masih mementingkan aspek
ekonomis semata tanpa memperdulikan aspek geologis,
maka sungai Siak akan sulit melepaskan diri dari
pencemaran.

Aktifitas yang selalu ada di sepanjang sungai Siak
diantaranya meliputi kegiatan yang bersifat alami,
perkebunan, pemukiman, transportasi /dermaga serta
kegiatan industri. Namun dari sekian banyak aktifitas
tersebut, kegiatan industri memberikan kontribusi yang
cukup besar dalam pencemaran di sungai Siak tersebut.

Akibat pencemaran itu sangat merugikan kepada
ekosistem yang ada. Bukan itu saja, PDAM yang selama
ini memberikan kontribusi air minum bagi masrakat juga
terkena imbasnya. Cost yang dikeluarkan PDAM untuk
sterilisasi air cukup besar. Kalau perusahaan ini
terus bertahan maka akan mengalami kerugian yang cukup
besar. �Pantas saja PDAM selalu rugi, kalau biaya yang
dikeluarkan untuk pencucian air minum sangat besar
karena diambil dari air yang sudah tercemar� tutur
Ariful.
.
Dalam melihat penanganan kasus pencemaran tersebut,
Ribut Susanto dari LSM Riau Mandiri memandang, kasus
lingkungan ini seringkali dihadapkan kepada dua
persoalan pokok. Pertama, masalah-masalah prosedural.
Hal ini berkaitan dengan kapabilitas prosedur yang ada
dalam mengakomodasi konflik kepentingan yang akan
muncul maupun menyelesaikan sengketa lingkungan. Baik
itu penyelesaian antara pencemar dengan korban
pencemaran ataupun dengan melibatkan pihak lain,
seperti aparat penegak hukum ataupun instansi
pemerintah terkait lainnya.

Sedangkan yang kedua, sejauh mana masyarakat korban
pencemaran mampu mengaktualisasikan
kepentingan-kepentingannya. Karena sebagian besar
masyarakat yang terkena pencemaran itu adalah mereka
yang sangat lemah. Pada umumnya mereka yang tinggal
dan hidup di sekitar aliran sungai siak itu adalah
kaum dhuafa. Kalau memperhatikan kesitu tentu dapat
dilihat kemampuan mereka untuk mengaktualisasikan
kepentingan mereka ke permukaan. 




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email at your own domain with Yahoo! Mail. 
http://personal.mail.yahoo.com/

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke