-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/18/JATIM/bape19.htm
>Kamis, 18 Januari 2001

Bapedalda Jatim Sertifikasi 468.000 Perusahaan
Surabaya, Antara 

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Jawa
Timur akan melakukan sertifikasi pengelolaan limbah terhadap
468.000 perusahaan besar dan kecil yang tersebar di beberapa
daerah di Jawa Timur. "Sertifikasi dimulai Februari mendatang dan
diawali dengan perusahaan yang berada di kawasan Sungai Brantas
seperti PT Kertas Leces dan PT Petrokimia," kata Kepala Bidang
Pengawasan dan Pengendalian Bapedalda Jatim Antoro HS di
Surabaya, Selasa.

Menurut Antoro, sertifikasi merupakan salah satu program Bapedalda
pada tahun 2001 dalam kaitan dengan program pengelolaan
lingkungan industri. "Sistem pengawasan limbah saat ini masih
manual dan makro, dengan sertifikasi akan diketahui spesifikasi
perusahaan baik atau jelek, sehingga bila diketahui sebuah
perusahaan jelek maka masyarakatnya bisa memprotesnya,"
katanya.

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/18/JATIM/empa19.htm
>Kamis, 18 Januari 2001

Empat Pabrik Diawasi 
Surabaya, Antara 

Dibantu dinas-dinas terkait di kabupaten dan kotamadya, Badan
Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Jawa Timur,
kini sedang mengawasi empat pabrik besar yang berlokasi di
Sidoarjo, Surabaya, dan Malang. Pabrik-pabrik itu dilaporkan
masyarakat telah mencemari lingkungan. "Kami saat ini sedang
mengawasi PT Panggung Elektronik, PT Sari Mas Permai, PT Surya
Indoglass, dan PT Prima Japfa Jaya," kata Kepala Bidang
Pengawasan dan Pengendalian Bapedalda Jatim, Antoro HS di
Surabaya, Rabu (17/1).

Masyarakat Waru, Sidoarjo, mengadu kepada Bapedalda karena
terganggu oleh aktivitas Panggung Elektronik yang jaraknya hanya
lima meter dari permukiman penduduk. "Dari aspek legalitas dan
teknis Panggung Elektronik benar karena berada di areal industri,
tetapi kalau dilihat dari aspek fungsi tidak benar karena dekat
permukiman. Kalau ditilik dari awal sebenarnya yang keliru adalah
pemda, kenapa memberi izin," katanya.

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/18/NASIONAL/oton08.htm
>Kamis, 18 Januari 2001

Otonomi Daerah dan Kegamangan soal Lingkungan Hidup 

PADA abad ke-21 ini, entah dalam waktu 20 tahun mendatang atau
lebih singkat lagi, Kalimantan mungkin bukan lagi menjadi pulau
dengan kawasan hutan terluas kedua, setelah Irian Jaya. Sebagian
besar daerahnya bukan mustahil telah menjadi padang pasir. 
Hutan-hutannya telah dibabat habis dan musnah 
terbakar, sementara tambang batu baranya terkuras hingga
menyisakan lubang-lubang besar yang 
menganga dan tanah yang gersang.Gejala degradasi alam ke arah
itu sebenarnya telah terlihat di berbagai wilayah Kalimantan.
Kecenderungan itu tak pelak bakal terjadi bilamana praktik-praktik
eksploitasi sumber daya alam (SDA) dilakukan seperti saat ini, yaitu
tanpa menerapkan pola pemanfaatan sumber alam secara lestari dan
melaksanakan rehabilitasi lingkungan yang sesuai.

Dalam kaitan dengan pemberlakuan penerapan otonomi daerah mulai
Januari 2001, kekhawatiran makin memburuk-nya kondisi lingkungan
hidup di daerah ini sulit dihapuskan. Hal itu terungkap dalam dialog
in-teraktif Menteri Negara Ling-kungan Hidup (Menneg LH)/ Kepala
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Sonny Keraf
dengan kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan para
pejabat se-Kalimantan, di Samarinda, 9-11 Januari.
Kegamangan itu bukan tidak beralasan. Pelaksanaan otonomi
daerah, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan
hidup bakal dihadapkan pada tarik-menarik kepentingan dalam
pengelolaan sumber daya alam. Kecenderungan perebutan porsi
pemanfaatan kekayaan alam di daerah terjadi baik antara pemerintah
pusat dengan daerah maupun antardaerah sendiri (antarprovinsi,
provinsi dengan kabupaten, dan antarkabupaten). 

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/18/NASIONAL/kabu08.htm
>Kamis, 18 Januari 2001

Kabupaten Kutai Barat

DIBANDING wilayah lain di seantero Kalimantan, masyarakat daerah
Kutai boleh dibilang mencapai tingkat peradaban dan kebudayaan
tertinggi. Suku Kutai, salah satu suku yang bermukim di wilayah
pantai Kalimantan Timur memang jauh lebih maju dalam banyak hal
dibanding Suku Dayak-suku induk Kaltim-yang bermukim di
pedalaman. 

Hal ini terbukti dengan berdirinya Kerajaan tertua di
Indonesia-Mulawarman pada masa lampau di Kutai. Kerajaan yang
berdiri di timur Kalimantan ini termasuk paling makmur di samping
Kerajaan Majapahit di Jawa dan Sriwijaya di Sumatera Selatan,
karena memiliki tambang emas dan kayu yang melimpah. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/18/DAERAH/akti19.htm
>Kamis, 18 Januari 2001

Aktivitas Gunung Merapi Meningkat 
Yogyakarta, Kompas 

Aktivitas Gunung Merapi sejak Rabu (17/1) kembali meningkat setelah
sehari sebelumnya, Selasa, sempat mereda. Hanya saja, ke arah mana
dan seberapa jauh luncuran awan
panas, sulit untuk diketahui, karena Merapi dalam kondisi nol tiga
(03), artinya seluruh tubuh Gunung Merapi tertutup kabut. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kegunungapian (BPPTK) Direktorat Vulkanologi di Yogyakarta Dr
Syamsul Rizal Dipl Seis kepada Kompas menyatakan, munculnya
awan panas hanya dapat dilihat lewat data seismograf. Secara visual
tak bisa dilihat. "Kalau Merapi dalam kondisi cerah, secara visual
guguran lava itu dapat dilihat dan dilakukan pencatatan. Pokoknya
awan panas kembali sering muncul dari puncak Merapi," tegasnya. 

http://kompas.com/kompas-cetak/0101/18/DAERAH/ecen19.htm
>Kamis, 18 Januari 2001

Eceng Gondok Jadi Rebutan
Cirebon, Kompas 

Eceng gondok (Eichornia crassipes) yang semula dianggap sebagai
hama dan tanaman air tidak berguna, kini menjadi rebutan sebagian
masyarakat Cirebon. Ini disebabkan, eceng gondok bisa dijadikan
berbagai kerajinan tangan dan harganya cukup mahal.

Tangkai eceng gondok yang masih basah dan sudah dibuang
daunnya, harganya sekitar Rp 250 per kg. Sedangkan tangkai eceng
gondok yang sudah dijemur kering, harganya naik selama musim
hujan ini dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.500 per kg. Khusus tangkai eceng gondok
kering yang panjangnya lebih dari 40 sentimeter, harganya mencapai
Rp 5.000 per kg.

http://www.suaramerdeka.com/harian/0101/18/dar14.htm
Kamis, 18 Januari 2001 Jawa Tengah - Kedu & DIY  

           Belum Perlu Diungsikan Aktivitas Merapi Baru Awal Erupsi 

           MUNGKID-Penduduk Kabupaten Magelang di daerah bahaya Merapi
           belum perlu diungsikan. Karena, peningkatan kegiatan gunung berapi
           itu sampai saat ini baru tahap awal erupsi.

           ''Tetapi kegiatan penambangan pasir di areal 7 km dari puncak gunung,
           terutama di bagian baratdaya, harus dihentikan,'' kata Kepala Balai
           Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BP2TK)
           Syamsul Rizal Dpl Seis, kemarin.

           Dia mengemukakan jarak luncur awan panas sudah mencapai 4 km.
           Padahal, penambangan dilakukan di lokasi 5 km dari puncak gunung.
           Dia khawatir penyelamatan sulit dilakukan, karena peningkatan
           aktivitas terjadi secara mendadak. 

http://www.indomedia.com/bpost/012001/18/kota/kota9.htm

Walhi: 2001 Tahun Kehancuran Kalsel
Banjarmasin, BPost

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan mengungkapkan sepanjang
2000 merupakan tahun kehancuran lingkungan Kalsel yang ditandai dengan rusaknya ekologi
serta banyaknya kasus lingkungan hidup.

"Bagaimana tidak hancur, hutan yang merupakan satu-satunya daerah lindung dirubah 
fungsi
menjadi kawasan produksi dengan eksploitasi besar-besaran," ujar Direktur WALHI 
Kalsel, M
Noor Asykin dalam laporan publiknya, Rabu (17/1).

Lanjutnya, keadaan ini diperparah dengan banyaknya kebijakan yang dikeluarkan pihak
pemerintah propinsi (Pemprop) dalam kegiatan kehutanan yang dianggap kontroversial.

http://www.indomedia.com/bpost/012001/18/kalteng/kalteng5.htm

Penampung Kayu TNTP Disidangkan
Pangkalan Bun, BPost

Empat perusahaan yang ditengara menampung kayu ramin hasil tebangan liar dari Taman
Nasional Tanjung Puting (TNTP) mulai disidangkan di PN Pangkalan Bun. 

Kasus pertama yang disidangkan di pengadilan Negeri Pangkalan Bun, Selasa (16/1), 
menyeret
Drs Firman Sutedjo, General Manager PT Bintang Arut duduk di kursi pesakitan. 

Sebagaimana diberitakan, empat perusahaan ditangkap aparat Polres Kobar, 14 Februari 
2000
berkait dugaan menampung kayu ramin dari TNTP. Keempat perusahaan itu, yakni PT Bintang
Arut, PT Rimba Alam Semesta (RAS), PT Gunung Jelai Wijaya (GJW) milik Dedi Hadianda dan
PT Asia Pasific Paper (Aspac Paper) milik Hengky.

http://www.indomedia.com/bpost/012001/18/metropa/metro2.htm

54 Proyek Masuk Kapet DAS-Kakab
Bundaran Besar, BPost

Perusahaan PMDN dan PMA yang mendapat persetujuan di kawasan pengembangan ekonomi
terpadu daerah aliran sungai Kahayan, Kapuas dan Barito (Kapet DAS-Kakab) sebanyak 54
proyek.

Wakil Ketua Badan Pengelola Kapet DAS-Kakab Rochana Zulki SH menjelaskan, proyek
tersebut terdiri atas 46 proyek perusahaan PMDN dengan rencana investasi
Rp3.858.103.000.000 dan delapan proyek perusahaan PMA dengan rencana investasi
103.775.000 dolar Amerika.

Total realisasinya, jelas Rochana pada gelar potensi dan temu usaha se-Kalteng, Selasa 
(16/1),
sebanyak 39 proyek yang terdiri PMDN 33 proyek dengan investasi Rp 1.658.169.000.000
dan enam perusahaan PMA dengan investasi 114.117.000 dolar Amerika.


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke