Buat Semua Teman Yang Peduli,

Sobat-sobat di Palu, terima kasih atas respon-nya, saya kira hampir semua
kampung di Indonesia ini terutama kampung yang kaya akan sumber daya alam
tidak luput dari proses eksploitasi. Nah sekarang apa tindakan kita????
apakah kita hanya bicara di milis ini atau hanya sebatas wacana saja. Kami
juga telah melakukan penyadaran pada masyarakat terhadap bahaya tambang
tersebut, namun informasi yang kami berikan kemasyarakat juga sangat
terbatas, karena memang kami hanya memiliki informasi yang sangat terbatas
karena barang ini adalah yang pertama di kampung Papua, makanya kami sangat
berharap kawan-kawan kalau ada dokumen atau apalah yang kira menerangkan
tentang bahaya tambang ini kami sangat mohon untuk dikirim ke kami. Untuk
sementara kami belum sampai pada tahap pengorganisasian masyarakat karena
kami sangat terbatas, kampung-kampung yang kami kunjungi juga baru sebatas
kampung-kampung yang tidak terkena dampak langsung dan ada di sekitar lokasi
eksploitasi.

Kami minggu lalu turun kelapangan untuk mencoba melihat sejauh mana respon
masyarakat di kawasan tersebut dan hasil yang kami dapatkan adalah, saat ini
masyarakat ada di persipangan jalan kebimbangan anatara menerima atau
menolak, namun sejauh yang kami lihat dan dengan rupanya BP-Pertamina tidak
melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan
pembukaan tambang tersebut, masyarakat mengaku tidak diberikan pengertian
yang transparan akan dampak tambang tersebut, bahkan beberapa masyarakat
yang tergabung dalam tim penilai amdal sampai saat ini tidak pernah
dilibatkan lagi (saat ini amdalnya sudah jadi).

Bulan ini BP-Pertamina mengadakan studi banding ke Bontang bagi masyarakat
untuk melihat proses eksploitasi gas di sana, menurut kami hal itu bagus
namun yang jadi pertanyaan kami adalah kenapa masyarakat yang berangkat
kebontang di bagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok masyarakat saengga,
kelompok masyarakay Babo, Tanah Merah dan Kokas serta Kelompok LSM,
Pemerintah dan Perguruan Tinggi. Kami melihat ada rencana busuk dari
BP-Pertamina dan antek-anteknya untuk memecah belah rakyat disana.

Ancaman lain dengan kehadiran BP-Pertamina ini juga adalah terhadap
Ekosistem Perairan di Teluk Bintuni yang sangat kaya akan Udang, Ikan
Kepiting dan Keanekaragaman Hayati Lainnya di Kawasan Tersebut, baru-baru
ini menurut pengakuan masyarakat yang kami temui bahwa salah satu anak
perusahaan BP-Pertamina telah melakukan penebangan di Kawasan Cagar Alam
Teluk Bintuni untuk keperluan perusahaan. Kasus lainnya adalah kematian 48
Anak-Anak dalam tempo 2 minggu ketika di lakukan seismik di saengga yang
sampai ini tidak jelas penyelesaiannya.

Seperti biasanya perusahaan besar dimana yang banyak uang, maka BP-Pertamina
pun memakai tenaga-tenaga yang berasal dari peruguruan tinggi (Univ.
Cenderawsih) dan LSM (YPMD), harapan kami memang sangat besar terhadap
orang-orang tersebut karena biasanya mereka berpihak ke masyarakat namun
yang kami dapatkan lain, kami kecewa dengan mereka, bulan maren lalu
diadakan sebuah Lokakarya di Manokwari untuk bicara tentang eksploitasi gas
tersebut tepi sayang Lokakarya tersebut di adakan di Ibukota Kabuten bukan
di kampung sehingga masyarakat yang datang dari kampung pun hanya dapat
dihitung dengan jari tangan. Bagi kami semua orang-orang diatas dan semua
kegiatan yang mereka lakukan hanyalah untuk meligitimasi masuknya
BP-Pertamina di Teluk Bintuni.

Yang jadi keluhan masyarakat juga adalah sementara masyarakat masih kabur
tentang "proyek mercu suar" tersebut BP-Pertamina juga terus melakukan
kegiatannya.

Itulah gambaran saat ini tentang "proyek mercu suar" tersebut, makanya kami
sangat berharap kepada teman-teman yang punya banyak informasi tentang LNG
atau lainnya bisa di bagi kekami, atau bagaimana kalau kita membangun
advokasi bersama sehingga kita tidak jalan sendiri-sendiri.

Salam

Bustar Maitar




----- Original Message -----
From: Walhi Sulteng <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, May 06, 2001 6:24 PM
Subject: Re: [WalhiNews] Ada Ancaman Besar Terhadap Ekosistem Perairan dan
Sosial Budaya di Teluk Bintuni


> Sobat-sobat di Papua,
> Apa kabar? Semoga sobat-sobat baik-baik selalu. Mengenai project  saya
sudah
> tahu dengar sejak 1999, ketika saya pulang ke Serui. Saya tidak sangka
dalam
> waktu begitu dekat mereka telah realisasikan.
>
> Kami di Sulawesi Tengah, juga sedang menghadapi masalah yang sama, banyak
> pemodal yang masuk ke Sulteng, khususnya para pengusaha penambangan
minyak,
> gas bumi, dan tambang emas.
>
> Untuk penambangan gas dan minyak. Baru-baru ini, saya mengikuti presentasi
> Exspan Tomori Sulawesi, salah satu perusahaan Join Operating Body (JOB)
> antara Exspan dan Pertamina,  yang akan membuka penambangan minyak lepas
> pantai disalah satu kabupaten, Kabupaten Morowali, dimana pada lokasi ini
> terdapat Cagar Alam Morowali (CAM) yang letaknya tidak begitu jauh, dimana
> pada lokasi ini didiami oleh orang WANA, suku asli Morowali.
>
> Sementara, perusahaan ini telah melakukan kesalahan fatal di kabupaten
lain,
> Luwuk, dimana sejak awal mereka telah melakukan kesalahan, merampas tanah
> dengan menggunakan panitia sembilan (P9), melakukan penambangan gas
ditengah
> areal persawahan dan pemukiman, dimana baru-baru ini pipa pengeboran
> tersebut bocor dan mengakibatkan masyarakat setempat menjadi korbannya.
>
> Sedangkan untuk penambangan emas, Rio Tinto melalui PT Palu Citra Minerals
> (PT CPM) akan melakukan eksploitasi emas di Taman Hutan Raya (TAHURA)
> Kelurahan Poboya Paneki, yang terletak tidak jauh dari Kota Palu, hanya
> beberapa kilo meter saja. Celakanya lokasi yang akan dieksploitasi ini
> terletak di atas ketinggian permukaan laut. Sementara bentuk Kota Palu
> adalah Lembah.
>
> Kalau pengalaman kami, pola mereka mereka lakukan adalah tetap sama ketika
> Rejin Soeharto berkuasa, cuma agak diperhalus, misalnya dengan menggunakan
> ahli-ahli dari IPB Bogor untuk menyusun AMDALnya, mendatangi kantor-kantor
> NGO Lokal yang ada, dan juga menghambur-hamburkan uang ke para pengambil
> kebijakan.
>
> Kebetulan, sejak awal kami telah mengikuti perkembangan mereka, misalnya
> sejak presentasi Kerangka Acuan (TOR) AMDAL, sehingga agak mudah memantau
> mereka. Termasuk untuk kebutuhan kampanye dan penguatan basis. Untuk
> kebijakan pertambangan, saya kira tidak ada yang berubah, walaupun ada
> desakan dari kita, untuk masalah pertambangan ini, saya kira kata kuncinya
> ada di penguatan basis. Karena untuk perubahan kebijakan itu sangat
> mustahil, apalagi retorika Otonomi Daerah (Otoda) yang sering digunakan
> sebagai senjata utama para pengambil kebijakan.
>
> Sekarang yang sedang kitorang lakukan adalah penguatan basis, untuk
> penolakan pertambangan, melalui badan-badan keagamaan : majelis Taklim,
> Ikatan Remaja Masjid, Lembaga Adat dll. Kami lagi intens melakukan
pertemuan
> kampung, pendidikan MADAL Kijang,  penggorganisasian antar kampung yang
> dilakukan masyarakat sendiri, penyebaran informasi dampak tambang,
penguatan
> infra struktur kampung, mengalang aksi-aksi penolakan tambang dengan
daerah
> (Kabaupaten lain),s ebagai pendidikan politik riil masyarakat koran,
diskusi
> dengan para pihak.
>
> Termasuk melakukan kampanye internasional melalui surat somasi, surat
> penolakan mayarakat ke negara yang bersangkutan, misalnya Rio Tinto di
> Australia. Kitorang lagi menggalang aksi penolakan bersama se-Sulawesi
> Tengah untuk kasus tambang, baik yang sudah jalan ataupun belum jalan.
>
> Jadi kata kuncinya adalah masyarakat (basis) sendiri, dan posisi NGO
> hanyalah memfasilitasi proses itu, saya kira ini dulu sobat, akan saya
> sambung lain kali. Salam buat sobat yang lain.
>
> Salam Sejahtera,
>
> Edmond Leonardo S
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: LBP Manokwari <[EMAIL PROTECTED]>
> To: walhimilis <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Saturday, May 05, 2001 3:03 PM
> Subject: [WalhiNews] Ada Ancaman Besar Terhadap Ekosistem Perairan dan
> Sosial Budaya di Teluk Bintuni
>
> >   Proyek Mercu Suar  BP-Amoco
> >  BEGITULAH PARADIGMA LAMA NEGERI INI DAN MUNGKIN SAMPAI SAAT INI !
> >
> >   (Bagaikan sebuah mercu suar yang hanya memberikan penerangan bagi
orang
> di luarnya, tapi dia tidak berpikir apakah orang yang didekatnya sudah
> mendapat penerangan yang baik sehingga orang di sekitarnya akan merasa
> terang untuk melihat kearah kemana mereka akan dibawa dan selanjutnya
> memutuskannya dengan pikiran yang terang pula.....)
> >
> >  Apakah Kita Sudah Tahu Kegunaan Proyek Itu Bagi Kita ???
> >
> >  Apakah Kita Sudah Tahu Dampak Proyek Itu Terhadap Kita dan Lingkungan
> Kita Termasuk di Dalamnya Ekosistem Perairan dan Mangrove yang katanya
> formasinya paling bagus di Asia ???
> >
> >   APAKAH INI JUGA YANG AKAN BERLAKU DI TELUK BINTUNI SEKARANG ???
> >
> >   Jika Habibie Bilang: "pulang dan renungkan" Maka Mari Kita  Renungkan
> Bae Bae ! KARENA KALAU TIDAK, BISA JADI KASUS "FREPORT" AKAN TERULANG DI
> TELUK BINTUNI
> >
> >     Pesan moral ini disampaikan oleh : Komunitas Karaka di tengah
> Mange-Mange
> >
> >
>
>---------------------------------------------------------------------------

> >    SEKELUMIT TENTANG
> >    PROYEK LNG TANGGUH DI KAWASAN TELUK BINTUNI - PAPUA
> >    OLEH PT. BP-PERTAMINA
> >  Proyek LNG (gas alam cair) Tangguh rencananya akan mengambil kawasan di
> daerah lepas pantai (offshore) dan daratan (onshore) di sekitar kawasan
> teluk Bintuni propinsi Papua. Secara administratif, lokasi proyek LNG
> Tangguh ini tercakup kedalam tujuh wilayah kabupaten Manokwari, Fak-Fak
dan
> Sorong propinsi Papua dengan cadangan LNG terbukti 14.7 TCF (Triliun Kaki
> Kubik). Menurut pihak PT Amoco Arco pembangunan Kilang LNG akan mulai
> dibangun tahun 2002 di desa Tanah Merah, kecamatan Babo dengan kapasitas
> produksi 6 - 7 juta ton LNG per Tahun dan pengapalan perdana akan
dilakukan
> pada tahun 2005. Dipekirakan pada tahap awal kontruksi yang memakan waktu
> hanya 3 (tiga) tahun akan menyerap sekirar 8.000 tenaga kerja dan pada
tahap
> operasi produksi hanya akan menyerap sekitar 350 pekerja.
> >
> >  Pada saat ini, menurut pihak PT Amoco-Arco status pengembangan LNG
> Tangguh masih pada tahap perencanaan, rekayasa dasar dan studi AMDAL.
> Diperkirakan sejumlah desa yang berada diteluk Bintuni akan terkena dampak
> langsung sebagai akibat kegiatan pengembangan LNG Tangguh.
> >
-----------------------------------------------------------------------
> >
> >  KAMI MENGUNDANG TEMAN-TEMAN YANG MAU BERBAGI INFORMASI TENTANG MEGA
> PROYEK INI DAN ATAU PENGALAMAN TEMAN-TEMAN BERKAITAN DENGAN PROYEK "MERCU
> SUAR" SERUPA DI TEMPAT TEMAN-TEMAN.
> >
>
>---------------------------------------------------------------------------
> >  INFORMASI DAN LAIN SEBAGAINYA BISA DI KIRIM KE
> [EMAIL PROTECTED]
> >  atau alamat : Jl. Trikora / Gg. Merpati No. 10 Wosi, Manokwari - Papua
> 98312                              Tlp. 0986-211330 ; Fax. 0986-211330
> >
>
>---------------------------------------------------------------------------
> ---
> >
> >
> >
> >[Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >***[WalhiNews]***
> >
> >Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
> >Pengelola: Divisi Infokom, Eksekutif Nasional WALHI;
> Email:[EMAIL PROTECTED]; file://www.walhi.or.id
> >
> >
> >
> >Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
> >
> >
>
>
>
> ***[WalhiNews]***
>
> Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
> Pengelola: Divisi Infokom, Eksekutif Nasional WALHI;
Email:[EMAIL PROTECTED]; file://www.walhi.or.id
>
>
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>



---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke