http://kompas.com/kompas-cetak/0105/09/EKONOMI/thai15.htm >Rabu, 9 Mei 2001 Imbal Dagang Pesawat CN 235 Thailand Tawarkan Beras, Gula, dan Tapioka Jakarta, Kompas Rencana pemerintah melakukan imbal dagang (counter trade) pesawat CN 235 dengan produk pertanian Thailand ternyata serius. Thailand melalui Departemen Pertanian dan Koperasi saat ini menawarkan tiga produk yaitu beras, gula, dan tapioka untuk ditukar dengan dua pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia.Akan tetapi, Kepala Bulog Widjanarko Puspoyo yang dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Selasa (8/5), mengatakan, pihaknya belum mendapat perintah apa pun dari Presiden. "Saya dengar Presiden tidak berencana menukar (pesawat dengan beras-Red). Malah saya baca dari koran, Presiden mengatakan jangan menjual pesawat dengan pola seperti dulu," katanya. Menanggapi rencana imbal dagang itu, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo mengatakan, pihaknya menyadari kesulitan yang dialami PT Dirgantara Indonesia (dulu PT Industri Pesawat Terbang Nusantara). Namun, bila imbal dagang itu dilakukan untuk komoditas beras, langkah itu akan menekan harga beras dalam negeri. Sedangkan pengamat perberasan Pantjar Simatupang mengatakan, bila rencana ini dilakukan, maka sebenarnya Bulog mengimpor beras. Padahal, selama ini Bulog selalu mengatakan tidak ada impor untuk tahun ini. "Ini menyulitkan Bulog, bagaimana nanti menjualnya. Dengan beras yang ada saat ini saja mereka tidak bisa menjual. Kalau, toh, dijual, pada harga berapa? Kalau dijual dengan harga lebih rendah dibanding harga pasar, maka harga beras petani akan jatuh," katanya. Sebaliknya, jika dijual dengan harga yang tinggi, maka tidak ada yang mau membeli. Ia menyayangkan kalau alasan imbal dagang itu hanya demi menghidupi industri pesawat terbang, padahal itu bisa menekan harga beras petani. Pendekatan Sumber-sumber Kompas mengatakan, Pemerintah Thailand berencana membeli dua pesawat CN 235 produksi PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Pendekatan ke berbagai pihak terus dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia. Beberapa waktu lalu, pendekatan dilakukan ke Pemerintah Thailand melalui Departemen Pertanian dan Koperasi yang akhirnya berencana membeli dua pesawat itu dengan imbal dagang sejumlah komoditas asal Thailand. Pemerintah Thailand meminta pembelian pesawat itu dengan pola seperti yang telah dilakukan pada transaksi dua pesawat pada tahun 1996, yaitu imbal dagang. Untuk imbal dagang itu, Pemerintah Thailand telah menawarkan beras, gula, dan tapioka. Selain melakukan pendekatan terhadap Thailand, manajemen PT Dirgantara Indonesia juga melakukan pendekatan kepada Bulog. Bulog telah diminta menentukan pilihan komoditas. Seperti pada tahun 1996, Bulog juga diminta mengurus komoditas imbal dagang itu. "Beliau (Presiden Abdurrah-man Wahid) tidak merestui untuk menukar pesawat dengan beras. Dan sampai saat ini perlu diketahui juga bahwa kebijakan Bulog masih tetap, tidak mengimpor beras," kata Widjanarko menampik kabar imbal dagang itu. Widjanarko mengatakan, ke-tersediaan beras dalam negeri saat ini tak perlu dikhawatirkan karena panen tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu. Stok nasional saat ini cukup untuk enam bulan ke depan. Maksudnya, tiga bulan untuk konsumsi dan tiga bulan untuk stok. Persediaan pangan secara nasional saat ini di atas 1,5 juta ton. Imbal dagang Pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara lain pernah dilakukan dua kali. Pada tahun 1996 Menristek BJ Habibie dengan Menteri Pertanian Thailand Suwit Khun-kuntti meneken nota kesepahaman imbal beli dua pesawat CN 235 senilai 34 juta dollar AS atau sekitar Rp 69 milyar dengan 110.000 ton beras ketan. Sebelumnya, imbal dagang juga dilakukan PT IPTN dengan menjual enam pesawat CN 235 senilai 100 juta dollar AS dengan 2.500 mobil Proton Saga produksi Malaysia. (mar) --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
