Daftar berita terlampir: * Tentang Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan * Penduduk Dunia Mencapai 6,1 Miliar Jiwa * Hadapi Bahaya El Nino, Pemerintah Masih Tidur * Pemerintah Kesulitan Cegah Kebakaran Hutan * Danau Dendam Tak Sudah Menjadi Cagar Alam * Bandung Kurang Pepohonan * Sistem Penanganan Kebakaran Hutan Masih dalam Penantian * Seluruh SPBU Telah Menerima Bensin tanpa Timbel * NTT Galakkan Penanaman Berbagai Jenis Tanaman * Dicari Pahlawan Lingkungan * Merawat Kendaraan, Mengurangi Emisi * Jepang berusaha cari dasar kesepakatan dengan AS soal Kyoto * A'lia tanam pohon di Vietnam untuk serap CO2 dunia Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di http://www.terranet.or.id/terramilis.php http://www.terranet.or.id/berita.php TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id ================================================================ Tentang Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1179 Oleh HM Rozy Munir, Kepala Badan Kependudukan Nasional ADALAH Thomas Robert Malthus di awal revolusi industri di Eropa mengingatkan bahwa pertumbuhan penduduk akan mengikuti deret ukur sedangkan pertumbuhan pangan mengikuti deret hitung. Akan terjadi suatu keadaan yang sangat memprihatinkan jika pertumbuhan penduduk tidak dapat dikendalikan. Memang kemudian ada terobosan di bidang teknologi --baik teknologi kedokteran, rekayasa genetika, informasi, teknologi pangan dan sebagainya-- tetapi toh tidak semua negara dapat mencipta atau mengadopsi teknologi dengan baik. Dan pernyataan Malthus tetap menjadi peringatan kelabu bagi negara-negara yang sedang berkembang. (Media Indonesia, 2001-07-11) Penduduk Dunia Mencapai 6,1 Miliar Jiwa http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1183 Populasi penduduk di dunia bertambah dua kali lipat sejak 1960, khususnya di sebagian besar negara berkembang, menjadi 6,1 miliar jiwa. Sebaliknya, sejak 1970 konsumsi bertambah dua kali lipat, di mana 86 persennya berasal dari negara maju. Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Koffi Annan mengungkapkan hal tersebut dalam rangka menyambut `Hari Penduduk se-Dunia`, yang tahun ini mengambil tema `Kependudukan, Pembangunan, dan Lingkungan`. (Media Indonesia, 2001-07-11) Hadapi Bahaya El Nino, Pemerintah Masih Tidur http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1184 Menghadapi ancaman global El Nino yang diperkirakan akan berdampak pada kemarau panjang tahun ini (2001), belum tampak ada tanda-tanda munculnya peringatan, penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat, terutama petani. Padahal dampak kemarau panjang anomali cuaca global yang mulai bulan Mei 2001 itu bisa terjadi seketika, berbentuk kelangkaan bahan pangan, melambungnya harga sembako. Pemerintah pusat dan daerah tampaknya sedang tertidur dan terlena agenda politik, tidak lagi mengambil ancang-ancang terhadap ancaman El Nino. Demikian dikatakan Rektor Institut Pertanian Malang (IPM) Ainnurrasjid MS menjawab pertanyaan Kompas di Malang, Selasa (10/7). "Informasi yang saya peroleh pekan-pekan lalu waktu mengikuti Rakor Bimas, dari staf Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta, sangat mungkin kemarau tahun ini paling cepat baru akan berakhir Maret atau Juli 2001. Kalau kita tidak segera mengumumkan pentingnya mengubah strategi tanam, menyiapkan tandon-tandon air, harga beras bisa melonjak seperti tahun 1998 lalu," tegas Ainnur. (Kompas, 2001-07-11) Pemerintah Kesulitan Cegah Kebakaran Hutan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1185 Pemerintah mengaku kesulitan mencegah kebakaran hutan. ''Kita selama ini belum mempunyai sistem kebakaran hutan,'' ungkap Menhut Marzuki Usman beralasan. Menurut Marzuki, secara ideal akan lebih efisien jika ada sistem pencegahan kebakaran hutan. Pencegahan ini pasti akan menghemat dana karena hutan tak terbakar. Dana yang ada pun cukup hanya untuk memeliharanya. ''Jika kita sudah tahu ada titik api kita harus mencegah kebakaran itu. Tapi, selama ini kita asyik memikirkan diri sendiri sehingga kita tak punya sistem untuk menanggulangi kebakaran hutan,'' ujarnya. (Republika, 2001-07-11) Danau Dendam Tak Sudah Menjadi Cagar Alam http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1198 Kawasan obyek wisata Danau Dendam Tak Sudah seluas 577 hektar di Kodya Bengkulu akan tetap dipertahankan sebagai kawasan cagar alam, sehingga kegiatan pembangunan perumahan dan peladangan yang merusak fungsi cagar alam itu harus dihentikan. Kepala Bappedalda Bengkulu Ir Lumban P. Sitorus, Selasa, mengatakan ada kecenderungan kawasan danau Dendam makin menyusut sejalan dengan maraknya berbagai kegiatan di seputar danau. Kegiatan ini juga telah menyebabkan fungsi danau sebagai cadangan air dan mengatasi polusi air laut kurang maksimal dan Bappedalda kini sedang menginventarisasi kawasan danau yang masih bersisa. (Republika, 2001-07-11) Bandung Kurang Pepohonan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1200 Akibat berkurangnya pepohonan kota, warga Bandung terancam kekurangan air. Selain itu, Bandung akan menjadi tempat yang tak layak huni karena udaranya semakin panas, tak sehat, pengap, dan mengandung racun. Dinas Pertamanan saat ini baru menanam sekitar 650 ribu pohon sebagai paru-paru kota, dari jumlah 1,2 juta yang seharusnya ditanam di kota Bandung. Kepala Dinas Pertamanan Bandung Ernawan mengakui, secara kuantitas pohon pelindung di kota Bandung tak sesuai standar lingkungan. ''Tapi kami sudah berupaya maksimal,'' ujarnya. Tahun ini pihaknya akan menanam sekitar sebelas ribu pohon. (Republika, 2001-07-11) Sistem Penanganan Kebakaran Hutan Masih dalam Penantian http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1205 MENTERI Kehutanan Marzuki Usman mengungkapkan, hingga kini Indonesia belum memiliki sistem penanggulangan kebakaran hutan. Tak heran, bila sampai saat ini kebakaran hutan dalam jumlah besar masih saja terjadi. Dephut bermaksud memulai pembuatan sistem tersebut. Namun masih membutuhkan waktu mengingat sampai saat ini belum pernah ada. Pada kebakaran hutan terbesar, 1997, kerugian yang diderita Indonesia pada peristiwa yang melumat 5 juta hektare lahan mencapai US$ 4,071 miliar. Dari jumlah tersebut, kerugian dari kehilangan potensi kayu senilai US$ 500 juta, potensi kebun sebesar US$ 470 juta, dan kerugian terbesar yang mencapai US$ 1,077 miliar terjadi akibat kerusakan tidak langsung terhadap ekosistem hutan. (Koran Tempo, 2001-07-11) Seluruh SPBU Telah Menerima Bensin tanpa Timbel http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1207 Unit Pembekalan dan Pemasaran Dalam Negeri (UPPDN) III Pertamina menyatakan, seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jabotabek telah menerima dan mendistribusikan bensin premium tanpa timbel (TT). "Tidak benar kalau mereka belum menerima bensin TT," kata Kepala Humas UPPDN III M. Awi Adil kepada Koran Tempo kemarin. Selama sepuluh hari, Awi mengatakan, seluruh SPBU yang berjumlah 382 buah telah disalurkan Depo Plumpang sekitar 70 ribu kiloliter bensin premium TT. Jumlah tersebut, menurut dia, berdasarkan perhitungan rata-rata 7.000 kiloliter per hari dikalikan 10 hari pengiriman. (Koran Tempo, 2001-07-11) NTT Galakkan Penanaman Berbagai Jenis Tanaman http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1191 Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT bersama masyarakat di 14 kabupaten/kota secara bertahap akan menggalakkan penanaman berbagai jenis tanaman. Kegiatan itu merupakan dukungan terhadap pelaksanaan program Gerakan Nasional Penanaman Sejuta Pohon yang dicanangkan beberapa waktu lalu. Untuk itu, perlu dilakukan sosialisasi di daerah-daerah, kata Gubernur NTT Pieter Alexander Tallo SH kepada Pembaruan, Minggu (8/7) sore, di Kupang. Dikatakan, Menhut Marzuki Usman melalui suratnya Juni 2001 mengharapkan dukungan masyarakat dan Pemprov NTT untuk menyukseskan pelaksanaan program penanaman sejuta pohon. (Suara Pembaruan, 2001-07-10) Dicari Pahlawan Lingkungan http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1193 Oleh: Caroline Pintauli Seorang perempuan biasa bernama Erin Brockovitch ikut andil dalam memenangkan US$ 333 juta, atas ganti rugi pencemaran lingkungan. Tidak mengherankan jika film ini mengantar Julia Roberts meraih Piala Oscar 2001. Seandainya cerita dari kota kecil Hinkley dengan setting Tahun 1993 ini bukan kejadian sebenarnya, mungkin kita menganggap Erin B. adalah pahlawan film, layaknya Rambo. Apalagi kita sadar, kemenangan korban pencemaran lingkungan, belum pernah terjadi, bahkan sulit terjadi sepanjang 20 tahun lebih gerakan lingkungan di Indonesia! (Sinar Harapan, 2001-07-10) Merawat Kendaraan, Mengurangi Emisi http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1202 JAKARTA berada pada urutan ketiga sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara tertinggi setelah Meksiko dan Bangkok. Sekitar 80 persen pencemaran dipicu oleh emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. Pada hal jika penggunaan bahan bakar lebih hemat, tingkat emisi bisa ditekan. Ditambah dengan keseriusan penggunaan bensin non-timbal, maka bajaj pun tidak perlu kena gusur. Jadi, dari pada sibuk mengumpat kenaikan harga Bahan Bakar Migas (BBM), cobalah iseng mengamati laju roda bus kota. Dengan penumpang berjubel, roda depan bus tidak mungkin berada pada sudut lurus. Pada hal, dengan kemiringan 0,5 derajat saja konsumsi bahan bakar naik hingga 1 persen. Perilaku buruk berkaitan dengan pemborosan bahan bakar juga dilakukan kelompok kelas menengah yang gemar memanaskan mobil sebelum berangkat kerja. Pada hal mobil keluaran sekarang tidak perlu lagi pemanasan. (Sinar Harapan, 2001-07-10) Jepang berusaha cari dasar kesepakatan dengan AS soal Kyoto http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1175 Jepang berusaha mencari dasar kesepakatan dengan AS menyangkut Protokol Kyoto dalam upaya membawa Washington kembali ke perjanjian perubahan iklim tersebut. "Jadi jelas dalam pemikiran PM bahwa partisipasi AS sangat penting," ungkap Tsutomu Himeno, Deputi Sekretaris Pers PM Junichiro Koizumi, Senin. "PM telah memerintahkan para menteri dan pejabat untuk mencari dasar-dasar kesepakatan (dengan AS) tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin," ungkap Himeno seperti dikutip AFP. Dalam protokol tersebut disepakati 38 negara industri sama-sama memangkas produksi gas rumah kaca 5,2% dari tingkat tahun 1990 pada tahun 2010. Namun beberapa bulan lalu Presiden AS George Bush menolak protokol tersebut. (SatuNet Com, 2001-07-09) A'lia tanam pohon di Vietnam untuk serap CO2 dunia http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1176 Pemerintah Australia mengeluarkan dana ratusan ribu dolar AS untuk meningkatkan kemampuan hutan secara genetis di Vietnam dalam upaya menyerap karbon dioksida (CO2) semurah dan seefektif mungkin. Badan Riset Industri dan Ilmiah Australia (CSIRO) bekerja sama dengan Pusat Riset untuk Peningkatan Pohon Hutan (RSFTI) bagi program senilai 242.000 dolar AS untuk menanami hutan seluas 8.250 hektare. Program yang berlangsung selama lima tahun ini diperkirakan dapat menyerap 21.500 ton CO2 atau 15% lebih banyak ketimbang peningkatan kemampuan hutan secara nongenetis. (SatuNet Com, 2001-07-09) --------------------------------------------------------------------- Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED] Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
