Dear Bung Amin Bakri, Mas Jon, dan rekan-rekan semua
Barangkali tulisan dibawah ini dapat menjadi bahan pencerahan bagi rekan-rekan kita di 
kampus.
wassalam,
N

----- Original Message -----
From: Billy N. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, August 31, 2001 5:24 PM
Subject: [islam-kristen] Fw: Ketekunan yang Langka


> Ketekunan yang Langka
> Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion
>
> SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister Sains Genetika Ikan. Ia 
>melapor akan keberhasilannya itu. Yang ditanyakan
rektornya ialah apa yang membuatnya terkesan dengan program pendidikan pascasarjana di 
Jepang. Maka ia pun menggeleng-gelengkan
kepalanya. Katanya, seumur-umurnya baru pada ketika itu ia selama bangun hanya 
memikirkan dan bericara tentang ikan atau tentang
genetika atau tentang genetika ikan.
> Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan sekerjanya tentang perilaku 
>ikan. Di dalam laboratorium ia diajak berdiskusi
mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela memotong-motong filet 
tongkol, ia berbincang tentang daerah
penangkapan tongkol di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi 
tentang ikan. Tidak diceritakannya apakah
sebelum bermimpi mengenai ikan itu keesokan harinya ia menang undian berhadiah (karena 
ada satu mitos jika mimpi mendapatkan ikan
akan ketiban rejeki).
> Kemudian lagi rektornya bertanya kepadanya peristiwa apa yang paling mengagetkan 
>yang dihadapinya di kampus asalnya (Indonesia,
red) sewaktu ia kembali mengajar. Ternyata ia
> terkejut sekali ketika melihat warga kampus sewaktu sedang beristirahat tidak 
>berbincang mengenai ilmu yang harus ditekuninya,
melainkan mengenai upaya mengokohkan iman dan bagaimana caranya berperilaku sesuai 
dengan iman mereka masing-masing.
> Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana caranya mendukung 
>perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku
di antara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu menyangkut masalah yang 
ada di luar jangkauan, seperti misalnya di
Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak ada 
selesai-selesainya.
> Ini mengingatkan rektornya akan peristiwa seorang anggota tim olimpiade matematika 
>internasional asal Denmark berbincang-bincang
dengan anggota Tim dari Norwegia
> tentang penyelesaian sebuah masalah matematika yang memerlukan pengetahuan tentang 
>teori medan Galois. Percakapan itu mereka
lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal di Laut Bosporus.
> Apa yang dilakukan di Jepang dan Laut Bosporus itu adalah teladan tentang ketekunan 
>yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon
ilmuwan matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu itu sebagai 
perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka.
> Hasilnya adalah bahwa mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika atau 
>matematika itu dan bukan hanya sekadar pengetahuan
tipe-tipe sosial. Beberapa waktu lalu biologiawan IPB mendapatkan penghargaan akademik 
dari suatu yayasan. Untuk itu ia
> diberi tunjangan penelitian kira-kira 40,000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat 
>menekuni bidang ilmunya.
> Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah penelitian dalam bidang ilmu 
>serangga dan lingkungan. Ia juga selalu tekun
bekerja dalam bidang ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen Fakultas Peternakan 
Unsoed yang di Australia menemukan cara
penyimpanan mani beku sapi di dalam tabung sedotan yang terbuat dari plastik setelah 
usahanya berkali-kali gagal. Untuk itu ia
menerima hadiah medali emas penelitian Yayasan Hewlett-Packard.
> Ketekunan ketiganya itu tentu saja didampingi oleh kalayak akademik yang tinggi. 
>Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum
cukup untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan kreativitas dan 
ketekunan>melakukan tugas yang tinggi. Ketiga
ciri ini yang seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya adalah 
menciptakan pengetahuan baru dan atau memperbaiki
manfaat suatu pengetahuan.
> Apakah di masyarakat akademik perguruan tinggi kita suasana ketekuan dan kesetiaan 
>menangani tugas itu ada atau tidak ada, dapat
dirangkum dari poster-poster
> yang ditempelkan di mana saja di dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang 
>sekali, pengumuman yang memenuhi dinding kampus
bukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melainkan 
mengenai siraman rohani, bedah buku tentang
solidaritas Palestina dan berbagai diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi 
di tanah air. Tidak ada gagasan-gagasan ilmiah
dalam bidang ilmu tertentu yang diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai 
pemeliharaan iman, solidaritas
> keimanan hingga aplikasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Namun kalau yang 
>ditangani hanya itu saja, tidak perlu susah-susah
belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya bermaksud mendapatkan gelar dan 
ijasah saja, bukan kemampuan dan
> keahliannya. Jika hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti ujian persamaan 
>B.Sc, M.Sc, Ph.D dan MBA di berbagai yayasan
"gombal".
> Bagaimana lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat mengimbangi kemampuan akademik 
>lulusan perguruan tinggi yang sudah mapan di
negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan tinggi bukanlah bidang 
ilmunya sendiri. Apakah dengan "kematangan
> bermasyarakat" dengan berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra kurikuler kita mampu 
>menjadi ilmuwan bertaraf internasional? Melalui
media internet saya pernah diserang habis-habisan ketika yang menjadi pemenang 
medaliperunggu pada olimpiade matematika tingkat
Asia-Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah siswa SMU yang bertapak 
di Jawa. Ketika itu saya dituduh
mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu memang pantas 
muncul di zaman reformasi seperti sekarang. Namun
> seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa pascasarjana matematika itu mesti 
>menggunakan nalarnya dan bukan pemikiran
dengkulnya. Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa yang dengan 
kecintaan menekuni matematika dan kebanyakan dari
mereka berasal dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan 
dari sekolah yang diselenggarakan negara
(negeri). Atau kalau ia berasal dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan 
keluarganya adalah lingkungan yang menghargai
ketekunan kerja.
> Siapa mereka itu? Boleh ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana yang dapat 
>membedakan kapan harus menekuni pelajaran
tentang keimanan dan ilmu naqliah dan kapan lagi harus tekun menuntut ilmu aqliah. 
Karena itu, hendaknya semua orang yang sedang
belajar apa saja, untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar 
mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang
yang diminatinya. Jangan terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah 
otak dilakukan dengan cara berendam semalam
suntuk di Sungai Nil. Jangan juga terjerumus ke keadaan di Pakistan, ketika seorang 
Ph.D Fisika Nuklir lulusan MIT AS melamar
menjadi tenaga akademik. Pertanyaan
> penguji bukan hal-hal yang pelik mengenai dentuman besar (big bang). Sederhana saja, 
>namun cukup mengejutkan karena Doktor Fisika
itu diminta melafalkan Doa Qunut. Jika ia tidak hafal doa Qunut, maka pastilah ia 
seorang Wahabi.
> Mari kita renungkan, apa saja yang dapat kita perbaiki mengenai kehidupan akademik 
>di kampus, baik oleh tenaga akademik, tenaga
administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu, seharusnya tenaga 
akademiknya merasa bersalah, karena hal itu
pertanda bahwa tenaga akademik belum dapat membawakan suasana akademik ke dalam 
kampus, termasuk membawa mahasiswanya ke suasana
ingin mengetahui. Pernah seorang dewan penyantun suatu universitas besar di Jakarta 
yang diselenggarakan masyarakat bertanya pada
saya, universitas apa di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai
> suatu universitas penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan ketika ia 
>menanyakan alasannya, saya katakan bahwa di kampus
saat ini banyak mahasiswa termasuk juga mahasiswa pascasarjana serta dosen hanya 
menghadiri seminar karena harus menandatangani
daftar hadir. Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan ia tidak boleh 
ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya
tidak cukup. Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan karena 
ingin tahu lebih banyak,
> melainkan karena takut tidak lulus ujian atau tidak naik pangkat.***
>
> Penulis adalah guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ketua Sekolah Tinggi 
>Teknologi (STT) Telkom Dayeuhkolot Bandung.
>
>
>
>
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke