``````````````````````
Laporkan Situasi
Lingkungan Anda
[EMAIL PROTECTED]
^*^*^*^*^*^*^*^*

Penerapan Syariat Islam Tak Boleh Dipaksakan
``````````````````````````````````````````````````````````
Cianjur, CyberNews. Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Akhlul Bait Indonesia
(IJABI) Prof Dr KH Jalalludin Rakhmat Msc mengatakan, penerapan syariat
Islam dalam kehidupan bernegara harus senantisa berpijak pada mekanisme
demokrasi.

"Hal itu dilakukan supaya jangan terkesan penerapan Syari'at Islam itu
dipaksakan sehingga dapat mengundang reaksi dari masyarakat itu sendiri,"
katanya ketika menjadi pembicara pada seminar "Implementasi Ajaran Islam
antara Cita dan Fakta", di Cianjur, Kamis (20/9).

Menurut Jalalludin, umumnya kalau orang berbicara tentang penerapan Syari'at
Islam dalam kehidupan bernegara, cenderung hanya berkutat pada sistem
pemidanaan (jinayah dan jarimah), yang sebenarnya merupakan bagian terkecil
dari ajaran Islam. Di samping, membahas sekitar pelaksanaan dan penerapan
syariat dalam bentuk-bentuk ibadah ritual semata.

"Padahal, sejak dulu juga penerapan Syariat Islam dalam bentuk ibadah dan
kegiatan amal soleh, sebenarnya telah dilaksanakan oleh umat Islam, dan
tidak pernah dipersoalkan," kata Kang Jalal--panggilan Akrab Jalalludin pada
seminar sehari yang diselenggarakan IJABI itu.

Disebutkan, yang belum dilaksanakan selama ini adalah memberikan hukuman
terhadap pelanggaran terhadap syariat Islam. "Untuk memberikan sanksi hukum
terhadap para pelanggaran syariat Islam itu, maka kita perlu mengubah hukum
Islam menjadi hukum positif. Sehingga, apabila pemidanaan belum bisa
dijalankan, maka penerapan syariat Islam baru berada pada dataran sosial,"
jelasnya.

Menurut Kang Jalal, guna menuju kepada terciptanya penerapan syariat Islam
yang dimaksudkan, diperlukan sebuah undang-undang, yakni syariat Islam
seperti apa yang akan dipilih dan dirumuskan, terutama bila ada pelanggaran
hukum terhadapnya. Apakah model penerapan syariat Islam seperti yang ada di
Arab Saudi, yang lebih menekankan kepada hal-hal yang bersifat ubudiah dan
pribadi, namun meninggalkan yang lainnya. Atau seperti yang dilakukan oleh
kelompok Taliban di Afghanistan yang cenderung terlampau mengedepankan
simbol-simbol.

"Kejadian seperti ini juga sering terjadi di negara-negara lainnya yang
konon menerapkan syariat Islam. Namun ujung-ujungnya justru tidak menegakkan
keadilan di tengah-tengah masyarakatnya, atau malah menjadikan syariat Islam
menjadi alat penguasa untuk melakukan penindasan dan kedzaliman,"
sambungnya.

Menurut Jalal, padahal yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana
menerapkan syariat Islam dalam kehidupan nyata. Seperti bagaimana umat Islam
sekarang memberikan kontribusi terhadap penegakkan keadilan dan solidaritas
sosial. Seperti pembelaan terhadap kaum lemah (mustadafin), kaum perempuan,
para buruh, fakir miskin termasuk mereka yang tertindas secara politik.

Jalal malah sangat tertarik kepada mereka yang tidak menggunakan
simbol-simbol Islam, tetapi bersemangat dan penuh pengorbanan membela kaum
lemah dan teraniaya. Seperti melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap
para buruh migran dan kaum perempuan yang mendapatkan ketidakadilan.

"Padahal perintah untuk mengerjakan hal-hal seperti itu sangat banyak
ditemukan dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi. Bedanya mereka yang melakukan
kegiatan pembelaan semacam ini sering tidak dianggap menjalankan syariat
Islam," ujar Jalal. (ant/cn05)
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0109/20/nas10.htm

Kirim email ke