```````````````````````````````
    [EMAIL PROTECTED]
    Hot Spot: 19/1/2002
^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

WN Indonesia Ditahan di Filipina
````````````````````````````````````````
Manila, Jumat (Kompas)
Petugas imigrasi, intel militer, dan polisi Filipina menahan seorang warga
negara Indonesia (WNI), yang diduga anggota kelompok yang menjadi bagian
dari jaringan teroris Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Dari hasil
pemeriksaan, polisi Filipina juga menemukan lebih dari 1 ton bahan peledak,
yang ditimbun tersangka di sebuah kota di Filipina selatan.Keterangan yang
dikeluarkan bersama oleh polisi dan militer Filipina, Jumat (18/1), WNI
tersebut adalah seorang laki-laki berusia 30 tahun bernama Fathur Rohman
al-Ghozi alias Abu Saad. Ia, yang diduga memiliki hubungan dengan kaum
militan Filipina, adalah anggo-ta Jamaah Islamiyah, kelompok yang memiliki
hubungan dengan Al Qaeda.

"Dalam pemeriksaan, ia mengaku sebagai warga Indonesia yang untuk sementara
tinggal di Filipina untuk mendapatkan bahan peledak," kata juru bicara
militer Filipina Letnan Kolonel Jose Mabanta.

Al Ghozi ditangkap di Distrik Quiapo, Manila, Selasa lalu, beberapa jam
sebelum ia meninggalkan Filipina. "Pada hari penangkapan, ia sebenarnya
berencana terbang ke Bangkok," jelas Senior Superintenden Jaime G Caringal
pada para wartawan, kemarin.

Penangkapan dilakukan berdasarkan petunjuk yang berasal dari Pemerintah
Singapura, yang menduganya sebagai pemimpin kelompok Jamaah Islamiyah.
Sejumlah 13 anggota kelompok militan-yang juga memilik sel-sel di Indonesia
dan Malaysia-ini sudah ditahan di Singapura. Menurut polisi Singapura,
delapan orang di antara mereka pernah dilatih Al Qaeda di Afganistan.

Awalnya, Al-Ghozi ditahan karena dicurigai memalsukan dokumen-dokumen
perjalanan. Namun, kemudian ia mengaku telah terlibat dalam berbagai aksi
peledakan bom di Filipina, termasuk peledakan lima bom di lima tempat
Manila, 30 Desember 2001, yang mengakibatkan setidaknya 14 orang tewas dan
sekitar 100 orang lainnya cedera.

Saat diinterogasi, Al-Ghozi juga mengaku, tahun lalu ia membeli sekitar satu
ton bahan peledak dari sebuah sel teroris di Filipina bagian selatan. Bahan
peledak itu akan dikirim ke negara-negara Asia Tenggara lain untuk digunakan
dalam berbagai aksi teror. Bahan peledak itu kini disembunyikan di kota
General Santos, kota pelabuhan di Filipina selatan.

Berdasarkan petunjuk Al-Ghozi ini, polisi kemarim menyerbu sebuah rumah di
kota General Santos dan berhasil mememukan timbunan bahan peledak seberat
sekitar 1,1 ton. Selain itu juga disita 17 pucuk senapan serbu, 300 unit
detonator, dan bahan-bahan lain untuk merakit bom. Menurut polisi, alat
pemicu bahan peledak yang ditemukan kemungkinan diproduksi di Filipina,
sementara detonatornya buatan India.

Pasukan AS
------------
Sementara itu, kemarin, para pejabat Filipina menolak kemungkinan akan
segera digelarnya operasi militer besar-besaran bersama pasukan Amerika
Serikat (AS) untuk memburu kaum pemberontak yang memiliki kaitan dengan
jaringan Al Qaeda. Pernyataan ini dibuat sehubungan dengan kian meningkatnya
kritik di dalam negeri sehubungan dengan adanya rencana pelibatan pasukan AS
dalam perang melawan kaum gerilyawan separatis Filipina selatan.

Juru bicara kepresidenan Filipina Rigobrto Tiglao mengatakan pada media
massa, partisipasi pasukan khusus AS dalam perang melawan kelompok
gerilyawan Abu Sayyaf itu baru akan terjadi secepat-cepatnya pada April
mendatang.

Mengomentari kekhawatiran sementara kalangan pada kemungkinan akan
terjadinya intervensi AS di daerah basis Abu Sayyaf di Filipina selatan,
Tiglao menyatakan, evaluasi yang seksama dan mendalam masih akan dilakukan
sebelum diputuskannya keterlibatan AS dalam rencana serangan itu.

"Kesepakatan yang ada sekarang tidak mempertimbangkan keterlibatan personel
AS lebih dari satu kompi (sekitar 100 orang-Red). Untuk operasi yng lebih
besar dari itu, masih harus dibuat sebuah keputusan politik," demikian
Tiglao.

Seorang pejabat Filipina lain menyatakan, hingga April mendatang pasukan AS
akan mengadakan pelatihan kontraterorisme bagi para personel Angkatan
Bersenjata Filipina, termasuk latihan penggunaan persenjataan teknologi
tinggi khusus untuk perang pada malam hari. (AP/AFP/Reuters/muk)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0201/19/LN/wnin02.htm

Kirim email ke