````````````````````````` [EMAIL PROTECTED] Wacana Mingguan ^*^*^*^*^*^*^*^
Salah satu sifat dari Alkitab ialah kejujurannya dalam mengungkapkan realitas kehidupan manusia berdosa. Berangkat dari sifat inilah maka beberapa ayat yang selama ini dipertanyakan akan bisa bisa dipahami. Misalnya saja 1 Samuel 15:2 yang berkata: "Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Ayat 3: "Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." Mengapa Tuhan ingin menghukum orang-orang Amalek? Mengapa perintah Tuhan begitu keras? Ternyata kasus ini tidak ada bedanya dengan latar belakang penghukuman manusia pada peristiwa air bah yang membinasakan semua manusia (kecuali keluarga Nuh), karena semua manusia telah sangat jahat dan najis di hadapan Allah (Kejadian 6 dan 7). Hal yang sama pula terjadi dalam ayat di atas, yang mana selain orang Amalek adalah penyembah berhala, mereka juga bermaksud menghalang-halangi umat Tuhan (Israel) pergi dari Mesir. Dikatakan pula dalam 1 Samuel 13:13: "Ada orang-orang dursila tampil dari tengah-tengahmu, yang telah menyesatkan penduduk kota mereka dengan berkata: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal.." Bila kita perhatikan dengan seksama apa yang menjadi alasan Allah menghukum mereka. Yaitu: mereka adalah dursila, menyesatkan penduduk kota, berbakti kepada allah lain (dewa baal). Kalau sudah begitu, berhakkah Allah menghukum mereka (dalam konteks berdosa dan melawan Allah) yang menghalangi rencana Tuhan? Jawabannya ialah: Tuhan tentu punya otoritas untuk melakukan hal itu. Perlu diketahui bahwa murka Tuhan, seperti diuraikan di atas, merupakan rasa tidak senang atas dasar pertimbangan yang benar-benar matang dan tegas sebagai tuntutan kesucian-Nya. Jadi, murka Tuhan itu tidak diartikan sebagai akibat dendam atau kebencian kepada manusia, melainkan kemarahan sebagai tuntutan hakekat-Nya yang suci. Uraian di atas menjadi refleksi bagi manusia agar jangan main-main dengan Tuhan. Jangan meremehkan otoritas dan kesucian Tuhan. Kasih Tuhan yang selalu menyertai kita, kekal selama-lamanya. Amin. (AS)
