````````````````````````` S P O T - N E W S [EMAIL PROTECTED] ^*^*^*^*^*^*^*^*
Gerakan Moral Nasional Sebuah Hasrat Kebangsaan =================== Eskol-Net: Jumat, 8 Maret 2002 Krisis ekonomi ditambah dengan krisis kepercayaan membuat bangsa ini seolah kian rapuh tulang punggungnya. Belum lagi ditambah dengan krisis moral yang dialami bangsa ini, baik di kalangan pejabat maupun rakyat secara menyeluruh. Entah apa yang menyebabkannya. Yang pasti keadaan ini makin memperparah keterpurukan bangsa yang kian menggeliat bagai cacing kepanasan ini. Menyadari akan kondisi ini, beberapa pemimpin bangsa bertemu dalam sebuah forum informal beberapa saat lalu dan menyerukan akan adanya gerakan moral nasional. Gerakan ini dipandang perlu untuk mengembalikan bangsa ini pada kepribadiannya yang sejati. Forum Persaudaraan Sejati memandang perlu untuk memasyarakatkan gerakan ini dan sebagai langkah awal, mereka memilih Jawa Timur sebagai tempat pemasyarakatan gerakan ini, yang bertempat di Hotel Equator Surabaya pada tanggal 5 & 6 Maret 2002. Di hadapan sekitar 500 peserta dari kalangan Kristiani, Muslim, Hindu, Budha, penganut Kepercayaan pada Tuhan YME dan juga dari Kong Hu Chu, dua narasumber, yakni KH. Hasyim Muzadi (ketua PB NU) dan Prof. Dr. Sjafii Maarif (Ketua PP Muhammaddiyah) membagi ide dan pengalaman mereka dalam pembentukan dan pemasyarakatan gerakan ini. Kyai Muzadi menyatakan bahwa sebelumnya, ia beserta 6 orang pemimpin keagamaan lainnya, seperti Dr. Yewangoe, Kardinal Mgr. Julius Darmaatmadja, Dr Sjafii Maarif, Ibu Gedong, telah berkumpul dan membicarakan perihal keprihatinan mereka atas masalah bangsa yang kian berlarut. Dalam pertemuan itu, disepakati akan pentingnya membuka kembali wawasan perihal gerakan moral dalam jiwa bangsa ini. Bahkan, dalam sebuah pertemuan dengan Presiden RI, Ibu Megawati Soekarnoputri, Kyai Muzadi telah menyatakan keinginannya agar Ibu Megawati selaku Presiden memberikan dukungan penuh bagi gerakan ini. Dan, harapan ini disanggupi oleh Ibu Mega. Hanya saja, bagaimana dukungan ini juga mendapat penerapan yang tepat di lapangan, mungkin ini masih menjadi sebuah harapan yang lain. Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan keinginan para pemuka agama untuk turun langsung ke daerah konflik. Tampaknya, keinginan nomor dua ini juga bakal teralisasi dalam waktu tak lama lagi. Tanggal 3 Februari yang lalu, Kyai Muzadi diundang oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti National Breakfast Prayer bersama dengan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush. Menurut Kyai Muzadi, undangan yang diterimanya itu didasari karena dunia internasional tertarik pada gerakan moral yang mulai didengungkan di Indonesia. Dalam pertemuan itu, Kyai Muzadi mengakui bahwa gerakanmoral nasional di Indonesia ini disambut positif oleh dunia internasional. "Tentu saja, Indonesia harus mengambil bentuk sendiri dalam penerapannya," tutur mantan Ketua NU Jawa Timur ini. Pada prinsipnya, menurut Kyai Muzadi, bangsa kita membutuhkan sikap moral yang tepat dalam menjalankan jati dirinya sebagai bangsa. Pertama, kita perlu melakukan pelurusan wacana keagamaan pada masing-masig agama sebagai pegangan hidup, bukan sebagai potensi konflik. Yang kedua adalah, antar tokoh perlu menjalankan fungsi persaudaraan, baru kemudian kondisi itu ditularkan pada umat. Sedangkan Dr. Sjafii Maarif langsung memberikan penekanan bahwa dalam menjalankan kebangsaan, bangsa Indonesia perlu beragama secara otentik dan monolog. "Kita harus memahami kitab kita masing-masing secara cerdas dan tulus," ungkapnya dengan nada prihatin. "Masalah terbesar yang harusnya menjadi agenda kita bersama adalah bagaimana menyelamatkan bangsa ini dari kerusakan moral dan kebangkrutan total. Sebab, kehancuran bangsa ini sudah mendekati sempurna." Ia menggarisbawahi, bahwa yang seharusnya dapat menyelamatkan masalah bangsa ini adalah agama. Ironisnya, agama telah menjadi alat politik dan diperalat untuk kepentingan politik sehingga tidak lagi mampu membentengi kerusakan ini. "Kalau begitu, apa lagi yang akan diharapkan?" tanyanya. Karena itu, Dr. Maarif menyerukan agar umat beragama dengan tepat menjalankan persaudaraan dalam perbedaan meskipun berbeda dalam persaudaraan. Malam sebelumnya, Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) juga membagi pemahamannya berkaitan dengan topik yang digelar tersebut. Hanya saja, pertemuan dengan Gus Dur ini hanya diperuntukkan bagi para pemimpin dan bersifat agak tertutup.(FL/Eskol-Net) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
