`````````````````````````
H O T   S P O T
[EMAIL PROTECTED]
^*^*^*^*^*^*^*^*

"Sejenak Tentang Golkar"
```````````````````````````````

Kekhawatiran akan munculnya instabilitas politik pasca penahanan Akbar
sebenarnya tidak perlu ada jika mengamati posisi Golkar dalam peta kekuatan
politik nasional sudah bergeser dari ABG (ABRI/TNI, Birokrat, dan Golkar)
menjadi TMAP (TNI, Mega, Aliansi Partai). Patut diakui bahwa untuk masa-masa
sekarang salah satu kunci penting dalam kekuatan politik maupun dalam
menjaga stabilitas politik ialah komitmen bersama antara TNI, birokrat, dan
aliansi partai-partai pemenang pemilu.

Salah satu kelemahan Gus Dur ketika masih menjabat Presiden adalah kebijakan
politik yang terlalu radikal dalam mereposisi TNI. Hal ini tentu sedikit
banyak menimbulkan kurang mengenakkan bagi TNI, sehingga tampak dalam Sidang
Istimewa tahun lalu TNI enggan mendukung Gus Dur untuk bertahan sebagai
presiden. Berbeda dengan sikap politik Megawati yang tidak radikal terhadap
TNI. Namun demikian, keberhasilan Gus Dur dalam mereposisi TNI itu patut
dihargai sebagai prestasi yang gemilang.

Ketika Golkar masih satu 'bathin' dengan TNI dan birokrat tentu Golkar masih
bisa mengandalkan dua kekuatan 'saudara'-nya itu. Dengan kata lain, bila
komitmen Golkar ingin selamat dan berkuasa maka TNI dan birokrat masih bisa
diandalkan, entah cara apa pun yang bisa dipakai.

Namun sekarang iklimnya sudah berbeda. Di era Mega ini TNI tentu tidak mau
dirugikan oleh berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh Golkar. TNI tentu
tidak ingin bercitra buruk hanya karena mendukung Golkar. Sudah barang tentu
bila TNI ingin dicintai oleh rakyat maka ia harus mengambil posisi netral
serta dalam kenetralannya itu ia harus menunjukkan loyalitas terhadap
pemerintahan yang sah.

Oleh karena itu, apabila Golkar masih ingin eksis maka langkah yang
dilakukan bukan dengan 'ancaman' yang mengarah pada instabilitas politik.
Akan tetapi lebih bijaksana apabila Golkar memisahkan antara urusan partai
dengan urusan pribadi Akbar Tanjung cs. Karena tidak ada hubungan sama
sekali antara Golkar dengan kasus Akbar cs mengingat penyalahgunaan dana non
budgetter Bulog dilakukan di saat Akbar menjabat sebagai Mensesneg, bukan
dalam kaitan urusan Golkar. Kecuali kalau Golkar terlibat dalam kasus itu.
Semoga Golkar untuk kebaikan bangsa bukan untuk sebaliknya.

Salam,
Dari Meja Redaksi

Kirim email ke