~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Informasikan Situasi Lingkungan Anda
[EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
August 22, 2002
Target Operasi Harusnya Teroris Bersenjata, Bukan Pelayan Tuhan
=============================================
Aparat keamanan diminta menangkap kelompok teroris bersenjata yang membantai
masyarakat Kristen di wilayah Poso, bukannya menjadikan pelayan Tuhan
sebagai target operasi. Penilaian ini datang dari sejumlah tokoh agama dan
pemuda di Sulut menanggapi sikap Polda Sulteng yang menetapkan Sekum Sinode
GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah), Pdt Rainaldy Damanik MSi sebagai
tersangka.
"Aparat keamanan seharusnya menertibkan masyarakat sipil bersenjata,
bukannya menahan Pdt Damanik dan menjadikannya tersangka,'' tukas Sekretaris
BKSAUA (Badan Kerjasama Antar Umat Beragama) Manado, Pdt Johan Manampiring.
Dia juga melihat, aparat terlalu cepat menetapkan status tersangka, padahal
belum jelas apakah memang Pdt Damanik membawa senjata atau tidak.
Senada disampaikan Ketua GISI (Gereja Injil Seutuhnya di Indonesia), Pdt
Abraham Yuwono. Menurutnya, aparat keamanan harus cermat dalam menangani
kasus ini. Bukannya langsung saja menjadikan seorang pelayan Tuhan sebagai
tersangka. Secara terpisah Ketua Gimkris (Gerakan Intelektual Muda Kristen)
Bitung, Moktar Paraparaga turut menge-cam sikap aparat keamanan di Poso.
"Mereka seharusnya menangkap kelompok teroris bersenjata yang membantai
warga minoritas. Malah yang dijadikan tersangka dan target operasi pelayan
Tuhan yang membantu korban yang dianiaya,'' tegasnya tajam.
Sedangkan Ketua BKSAUA Manado, Pdt Jefrey Saisab STh, saat dihubungi
mengatakan, target operasi tersebut, tidak beralasan, serta tidak
mencer-minkan sikap yang baik kepada masyarakat dan agama. "Aparat keamanan
jangan merekayasa Agama untuk mencapai satu keberhasilan," katanya.
Seharusnya, kata dia, aparat mengusut tuntas dulu, dari mana asal senjata
itu, bukannya lang-sung menetapkan tersangka.
"Mana mungkin seorang pelayan berdusta dan melakukan tindakan kriminal.
Apalagi dia seorang hamba Tuhan yang sekaligus se-bagai sukarelawan untuk
meng-evakuasi korban kerusuhan di tengah-tengah daerah yang ber-gejolak di
Poso.''
Pdt Saisab melihat, tidak ter-tutup kemungkinan ada orang-orang yang dengan
sengaja me-rekayasa peristiwa tersebut. Senada dengan Saisab, Koor-dinator
Provinsial Legium Chris-tum (LC), dr Elly Lasut menan-daskan, apa yang
terjadi atas Pdt Damanik, ada indikasi merupakan ciri khas permainan
intelijen. "Entah dari aparat keamanan atau pelaku kerusuhan, tapi ini ada
kaitan dengan bentuk intervensi intelijen untuk mencari kambing hitam,''
katanya.
Hal ini dilakukan, lanjut Lasut, karena ketidakmampuan aparat. Sehingga ada
keinginan kuat untuk mencari kambing hitam. "Dan kebetulan yang
diformu-lasikan dalam kambing hitam itu adalah Pendeta Damanik. Bukan tidak
mungkin untuk ke depan nantinya, akan ada lagi tokoh agama yang
dikambinghitam-kan,'' kata Lasut.
Di sisi lain, dia menambahkan, skenario ini bisa saja dimainkan oleh
kelompok peneror itu sendiri. Berikut, LC katanya melihat juga sangat aneh,
jika seorang pelayan Tuhan ditangkap, sedangkan ke-lompok sipil bersenjata
seperti Laskar Jihad tetap dibiarkan. "Malah seakan mereka sudah
dilegitimasi sebagai pelindung masyarakat. Tidak pernah di-tumpas. Padahal
jelas-jelas me-reka bersenjata. Ini menunjuk-kan TNI semakin tidak mampu
mengendalikan mereka,'' katanya.
Oleh sebab itu, dia menya-rankan, agar para pemimpin TNI/Polri yang bertugas
di wilayah konflik itu diperiksa. "Ada indikasi mereka sangat lembek dan
tidak mampu berbuat apa-apa.'' Ditam-bahkannya, jika Pdt Damanik ditangkap,
persoalannya akan makin membesar. Sementara itu, anggota Crisis Center
Sinode Am Gereja-gereja Indonesia yang berkantor pusat di Manado, Pnt Dra
Mona Saroinsong MA menya-takan, pihaknya tidak bisa mene-rima tuduhan Polda
Sulteng terha-dap Koordinator Crisis Center, Pdt Damanik. "Bisa jadi ini
adalah satu rekayasa dari orang tertentu.''
Soal bagaimana tindakan Sinode AM Sulutteng dan Gorontalo terhadap kasus
tersebut, menurut dia, pihaknya siap membantu Pdt Damanik dalam
menyelesaikan permasalahan ini dalam bentuk dukungan doa, dan melalui
per-lawanan hukum dengan me-nyiapkan pengacara.
Saroinsong menambahkan, apa-rat keamanan seharusnya me-nangkap masyarakat
sipil ber-senjata, bukannya menangkap pelayan Tuhan yang melaksanakan tugas
kemanusiaan, apalagi men-jadikannya sebagai tersangka.
Reaksi keras juga dilontarkan Ketua Umum Himpunan Generasi Muda Kabupaten
Poso (HGMKP) di Sulut, Ezra Tara'u SH yang menilai aparat keamanan dan
pemerintah di Sulteng tidak mampu me-nyelesaikan konflik. "Gubernur Sulteng,
Kapolda dan Bupati Poso harus mundur dan letakkan ja-batan segera," tandas
Ezra.
Dia menilai konflik di Poso semakin menjadi-jadi, akibat ketidaktegasan
serta tak ne-tralnya para petinggi di Sulteng dan Poso sendiri. Gubernur A
Ponolele, Kapolda Zainal Basri Ishak serta Bupati Poso Muin Pusadan, menurut
Ezra, sudah tak layak dan tak mampu lagi menciptakan iklim kondusif dan aman
di wilayahnya.(rik's/wil/lex)
http://www.hariankomentar.com/hl001.html