|
"Penyerangan Poso Pesisir dan Poso Kota" ---------------------------------------------------------------
Setelah memporak-porandakan Desa
Beteleme, Kecamatan Morowali, gerombolan tak dikenal, kembali
menyerang lima desa sekaligus. Pada Hari Minggu
12-10-2003 lima Desa yang menjadi sasaran penganiayaan itu
ialah: Pantangolemba, Pinedapa, dan Saatu (Poso Pesisir), Serta Mandale,
dan Sayo (Poso Kota). Penyerangan yang berlangsung selama 30 menit
itu, mengakibatkan sembilan Korban Jiwa, masing-masing Sinta (8), Yohanes
(28), Pebrian (45), Mortin (23) dan Nawas (25).
Kelima korban jiwa
itu tewas di Desa Pantangolemba, sedang empat korban yang
tewas di Desa Saatu adalah, Tandi, Lesman, Aco dan Ayub
27 tahun, jenasanya telah tiba di Tentena, sejak pukul
07.00 tadi pagi. Ayub yang merupakan korban jiwa yang terakhir ini,
meghembuskan nafas terakhirnya di jalan, subuh tadi. Kini jenasah
korban asal Desa Saojo itu, telah tiba di Tentena sejak pagi tadi sekitar pukul
08.00 waktu setempat. Mengenai jumlah korban yang mengalami luka
berat, telah Teridentifikasi sebanyak 11 orang mereka sedang mengalami
perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU Poso).
Saksi mata yang ditemui tim
investigasi Pokja-RKP di desa Pantangolemba, tadi pagi
mengatakan, setelah penyerangan, masyarakat setempat menemukan
berbagai selongsong
peluru jenis M
16 dan AK 47.
Berbeda dengan peristiwa Beteleme, Kabupatem Morowali yang terjadi
jum'at (11/10) lalu. Penyerangan selama 30 menit di lima Desa itu,
tidak terjadi
pembakaran masal, kalaupun ada di desa Pantangolemba, masih sempat di padamkan oleh masyarakat sebelum api bergolak. "Ada yang bilang (penyerang, red), tidak usah membakar, tembak saja)," kata sumber Pokja ?RKP di lapangan. Hasil pemantauan Pokja-RKP di kecamatan Poso Pesisir, hingga saat ini sudah mulai terkendali. Ini bisa dilihat dari lancarnya arus transportasi yang menghubungkan Desa Tokorondo dan Poso Kota. Hal yang sama juga nampak di Poso Kota, aktivitas masyarakat di pasar dan pusat pembelanjaan lainnya masih normal. Sementara itu, laporan dari
Tentena yang masuk ke Pokja-RKP menyebutkan, arus pengungsi
sejak pukul 13.00 mulai merangsek ke kota Tentena. Mereka
berasal dari Desa
Batugencu, Malei, Galuga
dam Matako. Guna mengantisipasi penyerangan
lebih lanjut kedesa lainnya, Polres Poso telah mendatangkan satu SSK
Brimob dari Makasar ? Sulsel dan satu SSK lagi
berasal dari Manado - Sulut. (rkp news) Catatan: 1. Kelompok penyerang tak dikenal menggunakan pakaian ala ninja (cadar) dengan pakaian gelap, celana loreng dan sepatu lars, disinyalir berjumlah 20 - 30 orang dengan bersenjata laras panjang (M16 & AK 47) serta Pistol; 2. Saat melakukan penyerangan di
Desa Pantangolemba kelompok penyerang berteriak dengan bahasa poso "Aco,
Boy, Papa Weki, pesue ane makejo" artinya " Aco, Boy, Papa
Weki, keluar kalau berani". Aco, Boy, Papa Weki adalah nama-nama warga
Pantangolemba yang dapat dikatakan tokoh pemuda desa.
3. Korban Yohanes Malonta (28) ; adalah
anak kepala desa Pantango. saat penyerangan terjadi pintu
rumah Kepala Desa di gedor dengan keras oleh beberapa
orang dari kelompok tak dikenal sambil berteriak
"Keluar, keluar dari rumah). setelah pintu di buka,
Salah seorang masuk dan terus berteriak memaksa
penghuni rumah untuk keluar sedangkan dua
orang temannya menjaga di halaman depan dan belakang rumah.
Dengan penuh ketakutan, Kepala Desa serta anggota keluarga
memohon untuk tidak diniaya "kalau mau bakar rumah
dan mau ambil barang-barang silahkan pak, asal
kami jangan diapa-apakan. kami permisi pak." setelah di
luar rumah 2 butir peluru menembus anggota tubuh Yohanes.
Melihat itu, kepala desa dan anggota keluarga yang lain
tak dapat berbuat apa-apa dan terus saja
berjalan mencari erlindungan yang terdekat (kebun) bersama warga desa
lainnya.
4. Korban Sinta (8) : adalah anak yang tengah
menduduki kelas 2 SD. Saat penyerangan terjadi, Shinta dibangunkan oleh
Ayah dan Ibu-nya. Orang Tua Shinta mencoba
keluar dari rumah untuk mencari tempat
perlindungan terdekat sambil ayahnya menggendong Shinta di Pundaknya. Saat ingin
keluar melalui pintu belakang rumah, rentetan senjata yang dilepaskan
oleh kelompok tak dikenal terus terdengar di luar
rumah.
Saat dalam kepanikan berjalan ke tempat
perlindungan, orangtua Shinta dikagetkan oleh darah yang terus mengucur
deras membasahi tubuh ayah shinta. barulah mereka sadar bahwa buah
hati mereka telah diterjang peluru. Shinta tertembah saat dalam
gendongan ayahnya dengan peluru tepat mengenai hidung. dan tengkorak bagian
belakang hancur. (Sumber: Kelompok Kerja Resolusi Konflik Poso
(Pokja-RKP))
Eskol
Net |
