********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
********************************

Artikel Eskol-Net
=============
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
Sikap Terhadap Penderitaan Sesama Orang Percaya
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
Oleh: Augustinus Simanjuntak
...........................................................................


Percaya Kristus mengandung konsekuensi menderita bagi Dia, yang telah
memberikan anugerah terbesar  bagi kita Umat Percaya berupa
jaminan/pengharapan hidup kekal (memikul Salib). Konsep menderita bisa
menderita bathin, fisik (dengan segala tingkatannya) bahkan bisa sampai
penderitaan yang membawa kepada kematian fisik. Tetapi, menderita di sini
bukan berarti asal menderita. Menderita di sini adalah menderita yang
bermakna, yakni menderita karena Dia (Yesus), yakni menderita karena tugas
pelayanan, karena memberitakan Injil, menderita karena menyuarakan
kebenaran dan keadilan Tuhan, bahkan menderita karena pengakuan iman kita
terhadap Yesus Kristus. Namun, Firman Tuhan juga menyatakan bahwa
penderitaan yang diijinkan oleh Tuhan terjadi bagi umatNya tidak akan
melebihi kemampuan kita untuk menanggungnya. Kecuali, kalau Tuhan mempunyai
kehendak lain untuk menggenapkan suatu rencanaNya.

Penderitaan yang dialami oleh Umat Kristiani bisa juga sebagai ujian agar
keimanan umatNya semakin tumbuh dewasa, semakin mampu menghadapi cobaan
dari si iblis. Penderitaan mulai dari yang paling "ringan" hingga kematian
fisik (martir) karena Kristus pasti merupakan bagian dari rencana Tuhan
bagi umatNya.  Sebagai contoh, makna kematian fisik yang dialami oleh
Yohanes Pembabtis (kepalanya dipenggal), makna pemenjaraan Rasul Paulus,
Stevanus dirajam dengan Batu, dan masih banyak para rasul lainnya yang
mengalami penderitaan, baik secara bathin maupun secara fisik.

Pada masa sekarang ini, tentu Umat Kristiani pasti tidak lepas dari suatu
penderitaan.  Hanya saja sulit untuk memilah-milah, mana yang betul-betul
menderita karena memikul Salib (menderita bagi Kristus), dan mana yang
menderita bukan karena Kristus walaupun ia sebagai orang Kristen.  Itu
tergantung pada pribadi yang mengalami penderitaan itu.  Manusia hanya bisa
melihat "sisi luar" yang terjadi pada diri manusia yang menderita itu,
sedangkan keimanan dan motivasi (hati) dalam penderitaan itu kita tidak
akan tahu.  Hanya Tuhan yang tahu.

Ketika ada sebuah lembaga Kristen yang mengurusi masalah
penderitaan-penderitaan yang dialami oleh dunia Kekristenan, sempat muncul
pandangan yang mengatakan bahwa Kekristenan itu memang harus menderita
(memikul Salib) agar Kekristenan tidak terlena dengan kenikmatan duniawi,
agar Kekristenan diingatkan akan kesalahan-kesalahannya, agar Kekristenan
teruji imannya, agar Kekristenan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan
sebagainya.  Sepintas, pandangan ini memang benar. Tetapi PERSOALANNYA
SEKARANG, APAKAH LEMBAGA INI HARUS MENGHENTIKAN KEGIATANNYA ITU AGAR
PENDERITAAN SAUDARA SEIMAN ITU TETAP BERJALAN TERUS ?  ATAU DIBIARKAN AGAR
UJIAN ITU BERJALAN TERUS  ?  Pertanyaan ini lebih lanjut bisa dianalogikan
terhadap seluruh Umat Kristen, bagaimana seharusnya sikap Umat Kristiani
ketika mereka mengetahui/ melihat saudaranya seiman mengalami penderitaan ?

Tentu, tidak bijaksana kalau Umat Kristen hanya bertindak sebagai
penonton/pengamat ketika saudaranya mengalami penderitaan.  Untuk lebih
jelasnya, diambil contoh sebagai berikut:  Bila seseorang saudara seiman
kita ketahui sedang mengalami ujian berat, SIAPA SAJA YANG SEBENARNYA
MENGALAMI UJIAN ?  Jawaban persoalan-persoalan ini sebenarnya cukup
singkat.  Jawabannya ialah bahwa UJIAN TERHADAP SESAMA KITA JUGA MERUPAKAN
UJIAN BAGI KITA.  SEBAB, DALAM PENDERITAAN SAUDARA KITA, KITA YANG
MENGETAHUI/MELIHATNYA SEBENARNYA DIPERHADAPKAN JUGA  PADA UJIAN, YAKNI
UJIAN APAKAH KITA SUDAH BISA MENUNJUKKAN RASA KASIH PERSAUDARAAN  KEPADA
SESAMA YANG MENGALAMI PENDERITAAN ITU ?   Kalau dalam penderitaan sesama,
kita tidak menunjukkan rasa belas kasihan kepadanya, itu berarti patut
dipertanyakan mengenai Kekristenan kita.  Padahal, Umat Kristen terkenal
dengan Hukum Kasih, apalagi kasih terhadap saudara seiman.  Oleh karena
itulah, kadang-kadang Tuhan mengijinkan suatu penderitaan atau musibah
terhadap umatNya agar umatNya itu memulihkan kembali kesadaran akan
KESATUAN TUBUH DALAM KRISTUS dan KESEHATIAN.
Penderitaan sesama juga merupakan penderitaan
bagi kita semua orang percaya, sehingga kewajiban kita untuk menolong dan
mendoakan mereka. Itulah wujud kesatuan Tubuh dalam Kristus.  Semoga
Kristus mamampukan kita semua.  Amin.





"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
BII Cab. Pemuda Surabaya, a.n. Robby (FKKS-FKKI) Acc.No. 2.002.06027.2
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke