Artikel Eskol-Net
---------------------

Ini Agamaku, Itu Agamamu

Siapa Memahami Siapa?

Pola pendekatan represif yang dilakukan  rezim Orde Baru rupanya sudah
tidak  mempan lagi. Karenanya, untuk meredam kemarahan rakyat, dibutuhkan
pendekatan agama.Pendekatan agama masih dapat dilakukan karena tak satu pun
agama di muka bumi ini yang mengajarkan untuk saling membenci dan membunuh.
Namun, secara manusiawi, yang malahan timbul adalah perasaan bahwa hanya
ajaran agamaku yang paling benar. Sedangkan, ajaran agama orang lain,
kurang benar, tidak benar atau salah sama sekali. Di sini nampak pemahaman
yang kurang dari satu pemeluk agama terhadap ajaran agamanya sendiri,
maupun ajaran agama orang lain. Akibatnya, segala sesuatu dilihat dari
konteks keakuannya sendiri tanpa memandang keberadaan ajaran agama lainnya.

Menurut Pdt. Dr. Eka Darmaputra, jika kita mau memahami ajaran agama lain,
tentunya kacamata yang dipakai bukan kacamata kita sendiri tetapi kacamata
pemeluk agama itu. �Bila kita memahaminya dengan kacamata kita sendiri,
nanti akan timbul banyak konflik karena ketidaktahuan. Konflik bisa muncul
antara lain karena kita punya stereotip tertentu tentang satu agama, dan
ada gambaran tentang orang lain yang tidak sesuai dengan realita. Kalau
sudah begitu biasanya muncul juga sikap apriori. Biasanya sikap apriori ini
negatif. Jarang yang positif,� ujar Eka, serius. Diakui olehnya, untuk
memahami ajaran agama lain tak mungkin dilakukan 100 persen. �Pasti
terbatas. Tapi tidak menutup kemungkinan, kita dapat memahami secara
maksimal,� kata pendeta GKI Jakarta ini.

Senada dengannya, Said Aqiel Siradj, salah seorang tokoh NU menyatakan
untuk memahami ajaran agama orang lain dengan kacamata yang sebenarnya,
berarti memahami dengan kacamata mereka dan membandingkan dengan kita
seobyektif mungkin. �Pada dasarnya semua agama memiliki nilai universal
yang 95% sama. Yang beda hanya ritualnya,� tutur Said.

Pemahaman yang sempit terhadap suatu ajaran agama, entah itu agama sendiri
maupun agama orang lain menyebabkan banyak uamt yang terjebak dalam
fanatisme sempit.  Fanatik, menurut Said, disebabkan karena keharusan
berdisiplin dalam menjalankan ibadah. �Bukan fanatik sempit. Kita harus
saling menghormati dan mengembangkan sikap persaudaraan. Bersaudara bukan
berarti mencampuradukkan agama,� jelasnya.

Eka sendiri memilah fanatik menjadi dua. Fanatik yang baik adalah bila
orang rela mati karena keyakinannya, sedang  yang negatif adalah bila
seseorang bersedia membunuh orang lain karena keyakinannya. Ini yang
membuat kehidupan kerukunan beragama tercoreng.  Baginya kerukunan beragama
ditentukan oleh pemahaman yang benar tentang apa yang diyakini orang lain.
Kalau kita salah memahami ajaran orang lain, berarti kita memiliki
stereotip negatif. Kedua, kita harus menghargai dan menerima perbedaan. Ia
mengutip ajaran Yesus Kristus, apa yang kita ingin orang lain lakukan untuk
kita, lakukan itu untuk orang lain. Said pun berpendapat kerukunan hidup
beragama di Indonesia sekarang ini memang kurang baik. Ini bisa terjadi
karena pendalaman agamanya dangkal dan tidak mendalam. Untuk mengatasinya,
umat harus kembali ke agama masing-masing dan belajar bertoleransi. Bila
seseorang memahami dam mendalami ajaran agamanya, maka ia akan lebih bisa
bertoleransi karena dalam agama diajarkan tentang mencintai orang lain.
Menurutnya, kalau kehidupan beragama sering dijadikan pemicu dalam
kerusuhan, itu sebenarnya karena ada kecemburuan dan kesenjangan sosial.
Untuk mengantisipasi hal ini, dibutuhkan dialog antar pemuka agama.

�Perbedaan agama bukan berarti ada konflik. Karena seperti di Libanon,
kerukunan hidup beragamanya sangat bagus,� ujarnya memberi contoh. Eka
sependapat, kerukunan beragama di Indonesia tidak sekokoh yang digambarkan.
Sekarang ini kerukunan agama sering menjadi sasaran atau dijadikan pemicu.
�Memang masalah ini sangat sensitif. Ambon contohnya. Tetapi memang itu
bukan masalah agama saja. Antar etnis dan golongan pun peka. Dari situ kita
bisa melihat ada orang-orang jahat yang memakai hubungan kerukunan beragama
ini sebagai sasaran. Ini perlu dihindari,� papar Eka, prihatin.
Dalam kerukunan beragama, kita harus belajar hidup sebagai anggota keluarga
besar. Selama ini kita hidup seperti anak tunggal atau sepertinya hanya ada
satu agama saja, padahal kita punya saudara-saudara yang lain. Bukan
sebagai saudara tiri melainkan sebagai saudara kandung. Jadi masing-masing
umat belajar mengakui kemajemukan ini dan berusaha menerima sebagai
saudara.(Majalah Penabur no 3,1999)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
BII Cab. Pemuda Surabaya, a.n. Robby (FKKS-FKKI) Acc.No. 2.002.06027.2
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke