*************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
*************************
Para Netters Yth,
Berikut ini kami sampaikan hasil sebuah seminar tentang Era Multipartai.
Para Netters boleh setuju atau tidak setuju dengan hasil seminar ini, sebab
sebagian pokok-pokok hasil seminar ini merupakan pendapat pribadi
nara-sumber. Mudah-mudahan bermanfaat.
Salam dan Doa,
Redaksi Eskol-Net
=============
...........................................................................
Pokok-Pokok Hasil Seminar bertema:
"Sikap Gereja dalam Era Multipartai"
--------------------------------------------------
Diadakan oleh: GPIB Torsina Surabaya
Tempat : GPIB Maranatha Surabaya
Pelaksanaan : Jumat, 21 Mei 1999
Pembicara : Rm. Eko Budi Susilo
Dr. Hotman Siahaan (FISIP Unair)
Prof. Dr. J.E. Sahetapy, S.H,. M.A (Guru Besar
Emeritus FH Unair)
Pdt. O.E. Ch. Wuwungan. D.Th.
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
-------------------------
Rm. Eko Budi Susilo, Pr
-------------------------
(Dengan mencuplik Surat pimpinan gereja Jawa Timur), gambaran umum
PARTAI-PARTAI YANG LAYAK DIPILIH antara lain :
1. Memperjuangkan kesejahteraan umum berdasarkan persamaan hak, tidak
membeda-bedakan suku, agama, ras dan gender;
2. Memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi dalam pemerintahaan;
3. Mempunyai komitmen kebangsaan dan memperjuangkan bertumbuhnya Hak Asasi
manusia dalam kebebasan beragama, menghormati dan menerima pluralisme
budaya sebagai Rahmat Allah;
4. Mempunyai program yang terarah bagi perkembangan masyarakat sipil yang
memperjuangkan masyarakat yang tertib hukum, menempatkan hukum sebagai
penguasa tertinggi dalam menentukan kebijakan;
5. Tampil bersahabat, memberi rasa aman, bukan sebaliknya tampil dengan
menakutkan, beringas, bahkan merusak milik orang lain;
6. Dipimpin oleh orang-orang yang memiliki moralitas yang tidak tercela,
tidak terkena KKN, dekat dengan rakyat, memberi perlindungan pada rakyat,
mampu memberikan program yang realistis, tidak memberikan janji-janji.
Sampai di sini mungkin masih banyak pertanyaan dan kebingungan di kalangan
umat. Umat biasanya ingin jelas, "Katakan saja partai mana yang harus kita
coblos". Berdasar Surat Gembala Paskah 1999, Frans Seda mengeliminir 48
partai.
1. Menghindari partai yang berbau primordial entah agama/etnis: 16 partai
yang berasaskan Islam gugur, 1 partai Krisna, dan 1 partai Katolik
Demokrat;
2. Menghindari partai yang berbau status quo, warisan masa lalu, yang
sikapnya terhadap perubahan atau reformasi dipertanyakan; partai Golkar dan
PDI Budi Harjono, dicoret;
3. Melihat program partai. Apakah partai itu mementingkan kesejahteraan
umum, atau hanya untuk kepentingan segmen tertentu (ada 6 partai yang
gugur);
4. Bagaimana besar kecilnya dukungan masyarakat terhadap partai dan mutu
pimpinannya, sehingga dengan metode mengeliminir tersebut tinggal 5 partai
yang layak dipilih, yaitu: PDI Perjuangan (No. 11), Partai Amanat Nasional
(PAN, No. 15), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB, No. 35) dan Partai Keadilan
dan Persatuan (PKP, No. 41), Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB, No. 14).
Menurut saya, dari begitu banyak partai, banyak aliran ideologi, sebenarnya
kalau disederhanakan dari pandangan Kristiani hanya ada dua kekuatan
politik, yaitu kekuatan nasionalis kebangsaan dan kekuatan Islam sayap
kanan. TENTUNYA UMAT KRISTIANI AKAN MENDUKUNG KEKUATAN-KEKUATAN NASIONALIS
INI. Dari 5 (lima) partai yang dieliminir di atas kira-kira mana yang
sungguh-sungguh nasionalis yang sudah teruji ?.
------------------------------------
Prof. Dr. J.E. Sahetapy, S.H,. M.A
------------------------------------
**(Tampil tanpa makalah), mengungkapkan bahwa tokoh Partai Keadilan dan
Persatuan (PKP) merupakan tokoh yang "lari" dari Golkar karena tidak
mendapat posisi strategis di Golkar. Orang-orang PKP kebanyakan dari rezim
lama (Orde Baru). Sahetapy mempertanyakan latar belakang berdirinya PKP,
yang menurut salah seorang peserta seminar sebagai reaksi terhadap bahaya
disintegrasi bangsa, sehingga perlu partai ini dibentuk.
**Prof. J.E. Sahetapy juga menilai bahwa PDKB merupakan partai sektarian
terselubung, dengan memakai simbol "Kasih", yang menunjukkan bahwa
sebenarnya partai ini masih tergolong primordial.
Orang Kristen bersaksi (menyuarakan suara kenabian) tidak harus lewat
partai, tetapi bisa dalam berbagai aspek kehidupan lainnya.
**PAN termasuk partai yang tidak lepas dari sorotan Guru Besar Unair ini,
dengan mengungkapkan tulisan Achmad Soemargono (tokoh KISDI) di Harian
Kompas, 12 Maret 1999 tentang Amin Rais. Dikatakan bahwa dulu Amin Rais
merupakan tokoh yang anti Amerika, China dan Kristen. Artikel selengkapnya
dapat dilihat di alamat ini:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/9903/12/OPINI/perl04.htm
**Terakhir, Sahetapy sedikit menyoroti Partai Kebangkitan Bangsa, bahwa
masih banyak para Kyai yang menolak kepemimpinan wanita. Sahetapy
menambahkan, bahwa yang perlu kita perjuangkan adalah "Rule Of Law".
---------------------
DR. Hotman Siahaan
---------------------
Dalam seminar itu Dr. Hotman mempertanyakan, bisakah partai yang sektarian
bersikap nasionalis, atau bisakah partai itu dilihat oleh golongan lain
sebagai partai nasionalis ?. Hal ini menjadi problem. Menurut Hotman,
agama lebih baik sebagai sumber moralitas. Di era sekarang tidak masanya
lagi memperjuangkan sekelompok orang/golongan tertentu saja, tetapi
berjuang untuk semua golongan, demi kebaikan bersama.
Pada kesempatan itu, Hotman juga menyoroti masalah ketakutan gereja dalam
berpolitik. Ia mengatakan bahwa gereja-lah yang menciptakan rasa takut itu.
Hotman mencontohkan,"rasa takut itu tidak perlu ada kalau jemaat tidak naik
mercy ke gereja. Kalau naik becak, itu kan malah membantu para tukang becak
dalam mencari nafkah". Salah satu kesalahan kita sebagai umat ialah
image/anggapan orang bahwa orang Kristen itu kaya.
--------------------------------
Pdt.O.E.Ch. Wuwungan D.Th
--------------------------------
Gereja bukan partai, dan oleh sebab itu ia bukan wadah dan kancah partai.
Partai adalah upaya manusia untuk sampai pada wadah-wadah kekuasaan dalam
melakukan pemerintahan. Keberhasilan partai atau gabungan partai adalah
jalan untuk mewujudkan aspirasi atau kepentingan-kepentingannya. Multi
partai mencerminkan multi aspirasi, bisa sama, bisa mirip, bisa berbeda
sama sekali. Tujuan untuk meraih kemenangan, atau paling sedikit memperoleh
kursi bisa menghalalkan segala cara, yang mungkin saja tidak menghiraukan
kepentingan dan hak hidup pihak lain. Dalam alam demokrasi yang sering
digembar-gemborkan, masih saja ada dorongan untuk memaksakan kehendak. Dan
selalu menghitung jumlah karena menyadari kekuatan jumlah, lalu melakukan
perhitungan terhadap mereka yang tidak masuk hitungan. Orang lupa bahwa
semua gerak aspirasi tidak akan terlepas dari cita-cita pendiri Republik
ini pada awal sejarah bangsa ini yakni Sumpah Pemuda, yakni "Satu Tanah
Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa." Oleh sebab itu kesatuan bukan keseragaman,
sehingga rangkaian pedoman kebangsaan adalah :"kesatuan dan persatuan".
Dalam kebersamaan hidup itulah kita telah tumbuh melewati berbagai
tantangan zaman. Angkatan kita ini pada peralihan ke Era baru ditantang,
apakah masih loyal pada sumpah itu. Yang menyolok ialah bahwa agama dipakai
sebagai alat pemikat atau penarik suara. Dapat dipertanyakan apakah masih
ada pemahaman semacam "theokrasi". Pemahaman itu mengandung arti bahwa
agama dan negara itu satu, yang bisa saja menghasilkan aspirasi 'negara
agama' dengan langkah berikutnya 'agama negara'.
-----oo000oo------
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l