********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
********************************

Artikel Eskol-Net
============
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""
"URGENSI  MORALITAS  PEMIMPIN"
"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""

Oleh: Augustinus Simanjuntak

Akhir-akhir ini banyak muncul usulan agar UUD 1945 sebaiknya diamandemen,
termasuk dalam pernyataan beberapa tokoh partai, dengan alasan bahwa
beberapa pasal konstitusi itu sudah tidak sesuai lagi untuk diterapkan di
negeri ini.  Pasal-pasal tersebut berkaitan dengan suatu sistem
ketatanegaraan maupun sistem pemerintahan.  Misalnya, masalah tata cara
pemilihan Presiden, pengaturan keanggotaan MPR, yang menurut UUD 1945
diatur oleh UU, masalah pertanggung jawaban Presiden, pembentukan UU, dan
sebagainya.  Semua ini berkaitan dengan sistem.
Tetapi rupanya kebanyakan partai belum menyinggung mengenai moralitas
seorang calon pemimpin, yang nantinya mengendalikan sistem tersebut.
Pemimpin yang moralnya diragukan (mengalami krisis moral) mengendalikan
sistem maka kiasan yang pas untuk dipakai ialah: bola salju, dimana bola
itu akan jatuh dan kian lama semakin besar.  Begitulah yang nantinya
terjadi: dimulai dari seorang pemimpin yang jahat kian lama kian membesar
(meluas) ke bawahannya, bahkan ke seluruh lapisan masyarakat.  Bisa
dicontohkan di era Orde Baru, para pemimpin negara yang jahat telah memberi
tauladan negatip kepada bawahannya, atau ada mau tidak mau menjadi korban
sistem yang mengakibatkan ia terlibat berbuat jahat, misalnya praktek KKN
(Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), terbentuk bagaikan lingkaran setan.

Dengan kiasan bola salju ini maka : mana duluan ayamnya atau telurnya,
menjadi tidak relevan lagi untuk dipertanyakan.  Karena di sini yang
terjadi bukan lagi hubungan kausalitas, melainkan akibat sudah menjadi
penyebab dan penyebab sudah menjadi akibat. Oleh karena itu, upaya yang
perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana mencairkan batu es itu: artinya
bagaimana memutus lingkaran setan yang terjadi selama ini dalam sistem
pemerintahan kita.

Upaya yang bisa dilakukan ialah; mereformasi kepemimpinan yang dipegang
oleh pihak-pihak yang moralitasnya diragukan, atau dianggap cacat.
Disamping itu, sambil menuju proses terbentuknya kepemimpinan yang
bermoral, sekaligus melakukan perbaikan atas sistem yang ada.  Namun yang
menjadi prioritas untuk kondisi bangsa Indonesia saat ini adalah masalah
moralitas pemimpin.  Mengutip pernyataan Gus Dur, bahwa sistem itu kita
yang buat.  Suatu sistem yang tidak terlalu bagus bisa dimanfaatkan secara
optimal apabila pelaku kekuasaan itu bermoral tinggi.
Sebaliknya, sebagus-bagusnya sistem kalau moral penguasa bobrok maka sistem
itu tidak akan berfungsi secara optimal.  Calon pemimpin yang nantinya
sangat berperan dalam mengendalikan sistem ialah orang-orang yang akan
menempati posisi di tiga pilar utama pemegang kekuasaan.  PERTAMA: pemegang
kekuasaan legislatip (pembentuk UU), eksekutip (pelaksana UU), dan
kekuasaan yudisial (lembaga peradilan).  Lembaga-lembaga pemegang kekuasaan
inilah yang urgen diisi oleh orang-orang yang bermoral baik. Orang-orang di
MPR/DPR, Presiden dan Mahkamah Agung (MA) sangat menentukan terlaksananya
suatu sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa.   Oleh karena itu,
dalam pemilu 7 Juni ini para calon pemilih diharapkan berhati-hati dalam
menentukan pilihannya dengan
melihat pula calon pemimpin yang telah dicalonkan oleh para partai.
**Sekian**

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke