*************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
*************************


Kelanjutan ..................... 2)
-------------
"G E R E J A   D I   P A S C A   P E M I L U"
           Oleh : Eka Darmaputera.
(disampaikan pada Sidang MPH-PGI,
   30 Juni-2 Juli 1999 di Jakarta)
================================

4.   Kita harus memahami kemenangan PDI-P itu secara lebih proporsional:

a. PDI-P  menang! Ini jangan dikecil-kecilkan. Rakyat telah mengambil
keputusan  dan memberikan amanatnya. The people have said. Bila kita
benar-benar mau  berdemokrasi,  janganlah kemenangan itu kita kaburkan
(curang, tidak merata, dsb.) atau belum-belum sudah dengan sengaja hendak
kita tumbangkan. �Dirty/bad politicking�  (bdk. Kasus Clinton di AS; kasus
Sonia Gandhi di India ) sudah pasti hanya akan menghasilkan krisis yang
berkepanjangan  dan kepemimpinan yang rapuh. Dan ternyata beberapa kelompok
elit kita tidak mau mempedulikannya juga.
b. Namun demikian, kita juga jangan membesar-besarkan kemenangan tersebut.
Gus Dur benar ketika ia mengatakan bahwa amat mungkin PDI-P bisa mengambil
alih pemerintahan. Namun apakah PDI-P  dapat memerintah dengan efektif, itu
adalah persoalan lain.  Padahal demokrasi yang sehat TIDAK bisa hanya
ditopang  oleh suatu oposisi yang kuat. Demokrasi juga  menuntut
pemerintahan yang efektif. Tanpa oposisi yang kuat, yang ada ialah tirani.
Tapi tanpa pemerintahan yang kuat, yang ada ialah anarkhi.

Toh apa yang saya katakan itu, tidaklah terlalu mengejutkan. Pada masa pra-
pemilu, saya termasuk orang yang berulang-ulang  mengatakan bahwa  proses
reformasi total baru relatif terjamin, apabila kekuatan-kekuatan reformis
berhasil meraih 77,6 persen kemenangan  (yang hampir mustahil!). Sedangkan
proses reformasi total tersebut dengan mudahnya dibuat terhambat dan
berjalan tersendat-sendat, apabila kekuatan status quo  berhasil meraih 24
persen kemenangan saja. Kita masih harus menantikan pembagian kursi secara
riil di  MPR untuk partai-partai, khususnya untuk utusan golongan dan
daerah. Dalam hubungan ini, amat hakiki bagi  MPH-PGI (yang kemungkinan
besar akan diminta mengusulkan wakilnya untuk utusan golongan) menentukan
sejak sekarang  di pihak mana wakil-wakil kita itu harus berdiri kelak.
Jangan mereka diberikan mandat blanko saja!Jangan mereka diutus ke sana
sekedar untuk  suatu tugas kehormatan. Merekakita utus untuk berjuang!
Perkenankanlah saya menyampaikan aspirasi teman-teman, agar hendaknya
wakil-wakil kita itu benar-benar ditetapkan secara fungsional (yang
benar-benar akan mampu  untuk berfungsi!),  bukan hanya secara
formal-struktural. Ini amat penting, mengingat kemungkinan besar sistem
�one person, one vote� akan diterapkan.

KESIMPULAN :  Hasil pemilu kemungkinsn besar tidak akan
memberikankata putus yang final. Budaya politik yang tanpa etika nampaknya
justru lebih memberi angin kepada tetap bertenggernya  kekuatan-kekuatan
status quo, yang kemungkinan besar akan bersembunyi di balik jargon-jargon
agama. Aliansi-aliansi ataupun koalisi-koalisi �dan oleh karena itu
kompromi-kompromi �agaknya tak terhindarkan. �Deadlck� seperti yang terjadi
dalam sidang  BPUPKI tahun 1945, antara kelompok  �kebangsaan� versus
�kelompok Islam� dalam versi yang jauh lebih buruk rupa-rupanya akan
berulang.  Pertanyaannya :akan munculkah tokoh sekaliber Bung Karno yang
bisa mengatasi kebuntuan bila itu  terjadi ? Saya amat meragukannya.

5.  Kita akan membahas kemenangan PDI-P  lebih lanjut. Di bawah adalah
pembacaan saya pribadi.

a. Kemenangan PDI-P bukanlah terutama kemenangan PDI-P  sebagai
Partai. Bukan pula kemenangan Megawati. Tetapi kemenangan massa pemilihnya,
yang jelas-jelas tidak terbatas pada kader-kader PDI-P. Sebagai partai,
PDI-P  masih mutlak memerlukan upaya konsolidasi intern dan �mental switch�
yang cukup hebat. Yang mempersatukan kader-kader  pimpinannya barulah tekad
dan semangat, belum ideologi, visi atau misi. Kedahsyatan kampanye  PDI-P
menunjukkan kedahsyatan rakyat, bukan kedahsyatan yang mengorganisirnya.
b. Yang membuat PDI-P  menang aalah massa pemilihnya yang spontan,
militan, cenderung fanatik. Yang membuat mereka begitu fanatik  memilih PDI
kali ini (masih tanda tanya besar apakah akan terjadi yang sama di Pemilu
nanti!), adalah :
b.1. perlawanan merekaterhadap arogansi, kesemena-menaan, serta opresi
kekuasaan rezim Soeharto. PDI-P, khususnya Megawati adalah simbol  dari
korban penganiayaan  politik itu.
b.2.    kemuakan mereka terhadap kesewenang-wenangan  agamaniah serta
bentuk-bentuk  sektarianisme etnik-religius. Ini menunjukkan bahwa sebagian
terbesar  rakyat tidak menghendaki dipertentagkannyaantara �agama� dan
�kebangsaan�. PDI-P adalah simbol dari nasionalisme dan inklusivisme,
kontinuitas dari cita-cita Proklamasi 1945.
b.3. Citra yang berhasil ditanamkan, bahwa PDI-P adalah partainya �wong
cilik�.
=====

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke