*********************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Kelanjutan .................. (4-Habis)
_________________
Pemikiran Dr. A.S. Hikam (Pengamat Politik dari LIPI) dalam Diskusi yang
diadakan oleh Forum Pengkajian Hak Asasi dan Demokrasi (FPHDI), tanggal 20
April 1999 di Wisma Bapindo, Heritage Club Lt.11, Singosari Room Jl.Basuki
Rahmat, 129 - 137, Surabaya. Selamat membaca.
Salam,
Redaksi


"Episode Kekerasan Politik dan Moralitas Bangsa Dewasa Ini"
--------------Dr. A. S  Hikam------------------------------------------


Apabila kita ingin mengurangi tingkat kekerasan, dan kekerasan itu kemudian
hanya sebagai alat yang paling terakhir yang harus dilakukan oleh negara,
maka kita harus melakukan reorientasi terhadap cara kita berpolitik.
Reorientasi cara tidak bisa lain kecuali merubah kebiasaan yang menganggap
negara itu sebagai satu-satunya yang paling dominan menjadi warga negara
itulah yang berdaulat. Tampaknya kalau pemilu dimenangkan oleh kelompok pro
status quo maka harapan reorientasi juga sangat tipis. Paling yang terjadi
adalah konsesi-konsesi kecil yang kemudian ditutup lagi dengan
perbuatan-perbuatan yang penuh dengan kekerasan.

Saya kira sudah saatnya kekerasan itu dihentikan. Bila dihitung selama masa
Orde Baru saja, korban kekerasan bersifat fisik tampaknya tidak akan kalah
dengan apa yang dilakukan oleh Pol Pot.  Mulai dari korban tahun 1965,
kasus Aceh, Lampung, Timor Timur, Irian Jaya, dan lain-lain. Itu jumlahnya
mungkin mencapai jutaan. Apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi
?.

Saya ingin mengakhiri presentasi ini dengan mengatakan bahwa tanpa kita
melakukan reorientasi dari negara yang dominan menuju kepada suatu sistem
politik yang berwarga negara, maka kita akan mendapatkan kutukan sejarah.
Saya kira kalau para "Founding Fathers" kita itu hidup kembali akan menilai
ternyata orang-orang yang ditinggal tidak becus mengurusi negara.  Mulai
dari politisinya, intelektualnya, agamawannya, dan semuanya.

Padahal kita mempunyai tugas yang besar untuk melakukan apa yang diwariskan
oleh para "Founding Fathers" kita itu.   Seharusnya kita jangan
menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh sejarah kepada kita. (Tidak
sepatutnya) kita hanya mewariskan hal-hal yang mengerikan, berupa negara
yang melambangkan kekerasan yang tidak bisa dihentikan.

Dan sangat jelek kalau Indonesia yang pretensinya menjadi bangsa yang
paling ramah, bangsa yang baik, dan jujur, ternyata semuanya itu gagal
dibuktikan di dalam kenyataan.
Oleh karena itu, kita semua sebenarnya bertanggung jawab untuk
membuktikannya. Kita masih punya pintu walaupun pintunya makin lama makin
mau ditutup, yaitu pemilu itu (7 Juni 1999).  Kita mungkin harus berdoa.
Terima kasih.
(Habis)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke