******************** REPUBLIKA Republika, 06 Aug 1999 ==================== Ketua Umum MUI Sumbar Prof Amir Syarifuddin: Kristenisasi yang terjadi di Sumbar kabarnya sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Apa upaya yang telah dilakukan ulama Sumbar menyangkut kasus sensitif ini? Ketika muncul Kristenisasi, MUI Sumbar yang pertamakali memberikan tanggapan. Kita menyatakan bahwa program Kristenisasi itu tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Pemerintah. Setelah ditanggapi MUI Sumbar, baru bermunculan tanggapan dari ormas lain yang isinya mendukung sikap MUI Sumbar. Sejak kapan Kristenisasi terjadi di Sumbar? Sudah lama. Sejak masuknya orang Kristen sudah ada upaya untuk mengkristenkan orang-orang di Sumbar. Tapi, sayangnya upaya mereka itu sulit sekali dibuktikan. Apalagi masalah Kristenisasi atau pemaksaan agama tidak bisa dibawa ke Pengadilan. Kebetulan kasus Kristenisasi yang terjadi menimpa korban Wawah menimbulkan masalah, yaitu pemerkosaan. Akibatnya Kristenisasi itu bisa terbongkar. Pola apa yang mereka lakukan sehingga membuat masyarakat di Sumbar tergiur pindah agama? Mereka (orang Kristen. Red) memang terlalu aktif, sedangkan kita bisa saja kurang sensitif. Sedangkan pola yang mereka lakukan tidak ada bedanya seperti yang dilakukan di daerah-daerah lain. Mereka sangat sensitif terhadap orang-orang yang kesulitan. Lalu mereka menawarkan bantuan materi, tapi diselipi pesan tertentu, yaitu pindah ke Kristen. Pola seperti ini sudah banyak terjadi di wilayah lain. Memang pola mereka ini bukan termasuk kejahatan negara, tapi telah melanggar aturan main yang ditetapkan oleh Menag. Dimana, kita tidak boleh berdakwah terhadap orang-orang yang telah memiliki agama. Berapa jumlah orang Muslim Sumbar yang telah pindah ke Kristen? Kalau bicara jumlah sulit dibuktikan dengan angka. Tapi tidak sampai ratusan seperti isu beredar saat ini. Karena mereka (orang Kristen) bisa saja mengklaim orang Islam yang sudah menerima 'hadiah' otomatis pindah menjadi pemeluk Kristen. Padahal bagi orang Minang tidaklah mudah keluar dari agama Islam. Sanksinya sangat berat. Kalau mereka keluar dari Islam, akan dikeluarkan dari Adat Minang. Mereka tidak diakui dalam komunitas orang Minang. Makanya, tidak ada orang Minang yang mau keluar dari Islam, karena berat sekali sanksinya. Apalagi, orang Minang itu sudah identik dengan agama Islam. Tapi, benarkah ada orang Minang yang pindah ke Kristen? Mungkin saja ada. Tapi saya yakin, mereka itu pindah agama bukan karena tertarik dengan keyakinan agama Kristen, melainkan karena masalah perut. Setiap wilayah di Sumbar pasti ada gereja. Tapi banyaknya gereja bukan berarti banyak pula orang Minang yang pindah ke Kristen. Sumbar itu tidak identik dengan Minang loh. Jadi bisa saja orang-orang pendatang yang banyak menganut agama Kristen. Wilayah mana saja yang menjadi sasaran Kristenisasi? Sasaran mereka lebih ke daerah transmigrasi. Di daerah sana kan banyak pendatangnya. Upaya apa yang telah dilakukan MUI Sumbar untuk menyelesaikan kasus Kristenisasi ini? Kita telah melakukan upaya pendekatan sesama pemimpin agama. Kita menghendaki agar sama-sama mematuhi aturan yang telah ditetapkan Pemerintah. Kalau aturan ini bisa dilaksanakan dengan baik, saya yakin tidak akan terjadi konflik. Apalagi saya sangat yakin bahwa tidak ada orang Minang dengan sendirinya ingin pindah ke Kristen, tapi dilakukan karena keterpaksaan kebutuhan materi. Anda sudah mengetahui bahwa sasaran Kristenisasi adalah orang miskin. Selanjutnya upaya apa yang akan dilakukan terhadap kaum Muslim dhuafa? MUI akan berupaya agar umat Islam tidak terpengaruh dengan pola seperti itu. Kita pernah datang ke suatu tempat, di mana ada seorang warga yang diberi seekor sapi asalkan masuk agama Kristen. Kepada kami, dia mengatakan agar sapi ini dikembalikan (ke orang Kristen) dan minta (kepada orang Islam) diganti saja dengan seekor kambing. Hal ini menandakan bahwa mereka sebenarnya masih sadar keberagamaannya. Tapi sayangnya, kita tidak bisa memberikan bantuan tersebut. Kabarnya Kristenisasi di Sumbar dilakukan pula melalui penyebaran buku-buku? Memang banyak sekali buku-buku yang beredar berkenaan dengan hal itu. Buku-buku itu berupa buku pelajaran yang masuk ke sekolah-sekolah. Dalam buku pelajaran itu 'terselip' pesan khusus. Kalau anak-anak tidak menyadari, bisa terjerat. Misalkan, buku pelajar PMP yang mencoba mementahkan akidah Islam. Dalam buku itu dijelaskan bahwa semua agama itu sama dan digambarkan tentang gereja yang terbuka selebar-lebarnya bagi siapapun. Ini kan bahaya. Apalagi guru-gurunya banyak yang mendapat iming-iming. Kalau muridnya banyak membeli buku, maka akan mendapat diskon plus bonus. Tapi untungnya sekarang buku-buku itu tidak beredar lagi. Bagaimana tanggapan dari pihak Kristen dengan terbongkar Kristenisasi? Orang-orang gereja cuci tangan. Menurut mereka (kasus Wawah --Red) bukan program gereja, tapi dilakukan oleh oknum tertentu. Sehingga mereka tidak bisa melarangnya. Alasan mereka, di Kristen itu banyak cabang-cabangnya sehingga mungkin dilakukan oleh kelompok tertentu. Alasan seperti itu yang selalu mereka katakan dalam posisi terpojok. Padahal upaya Kristenisasi yang dilakukan oleh GBIP menjelajah sampai ke kampung-kampung. Berbeda sekali dengan Katolik yang hanya melakukan kegiatan lewat lembaga pendidikan atau rumah sakit. Makanya, selama ini hubungan kita dengan Katolik tidak pernah ada masalah. Setelah Kristenisasi terbongkar, adakah hubungan antara umat Islam dengan Kristen terganggu? Sejauh ini aman tidak ada masalah. Apalagi, selama ini konflik antar agama tidak pernah terjadi di Sumbar. Tapi, kalau masalah Kristenisasi itu ada yang memprovokasi, bisa saja menjadi masalah. Tapi MUI sudah berusaha menenangkan umat dan mengeluarkan himbau agar umat Islam tidak terpancing. Kita juga meminta agar umat Islam tidak main hakim sendiri, tapi biarlah aparat yang menyelesaikan masalah ini. Ketika Rakernas MUI (23-26 Juli) di Jakarta masalah Kristenisasi di Sumbar sempat menjadi perhatian. Tindak lanjut apa yang akan dilakukan MUI Sumbar? Masalah Kristenisasi bukan saja menjadi masalah MUI Sumbar, tapi masalah nasional. Karena masalah Kristenisasi bukan saja terjadi di wilayah Sumbar, tapi juga di wilayah lainnya. Kebetulan saja beberapa waktu lalu masalah tersebut mencuat di Sumbar. Terhadap masalah Kristenisasi ini Rakernas MUI telah memberikan rekomendasi mendesak Pemerintah dan DPR untuk membentuk UU Pelaksanaan Kerukunan Hidup Umat Beragama. Tujuan UU tersebut agar aturan lalu lintas berdakwah tidak disalahgunakan seperti sekarang ini. Apalagi aturan yang telah ditetapkan oleh Menag tidak mempunyai sanksi hukum. Diharapkan, kalau UU ini ada sanksi hukum yang jelas, sehingga jika ada misi agama yang bertentangan seperti itu bisa diselesaikan di pengadilan. Apakah masalah ini akan dibahas di Rakerda MUI Sumbar? Hasil Rakenas MUI akan dibawa ke Rakerda. Rakerda MUI Sumbar akan berlangsung bulan-bulan ini juga (Agustus). Dalam Rakerda nanti masalah Kristenisasi akan kita bahas, berikut dengan penyelesaiannya. (susie evidia y) ------------------- "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
