********************
REPUBLIKA
Republika, 06 Aug 1999
====================

Awas, Kristenisasi Berkedok Islam!
==============================

Hampir setiap Sabtu antara Mei hingga Juni 1999, ratusan pelajar dan
mahasiswa Muslim di Padang, Sumatra Barat, turun ke jalan. Mereka berdemo
dengan tuntutan utama: hentikan gerakan permurtadan dan tertibkan misi
Kristenisasi 'liar' di Sumbar.

Kantor Pengadilan Negeri Padang pun menjadi target utama lokasi unjuk rasa
karena di sinilah kasus pemurtadan dan perkosaan digelar. Salmon dan
istrinya Lisa Zuriana, keduanya jemaat sebuah gereja, dukung sebagai
tersangka dengan tuduhan terlibat dalam kasus pengkristenan dan perkosaan
terhadap Wawah (17), panggilan akrab Khairiah Enniswati, pelajar di
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2, Gunung Pangilun, Padang. Menurut sumber
Republika, Wawah adalah satu dari 500 orang Minang yang mengalami konversi
agama, dari Islam ke Kristen.

Gadis manis yang berjilbab ini diculik, diperkosa, dan dipaksa keluar dari
agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang dari kalangan
Kristen.

Peristiwanya berawal dari Maret 1998. Suatu hari [Maret 1998], Wawah
berkenalan dengan Lia, seorang gadis berjilbab. Orangnya manis, semanis
Wawah. Ramahnya bukan main. Hari-hari berikutnya mereka sering terus
bertemu. Keakraban terjalin sudah, maklum sama-sama gadis berjilbab.

Ternyata Lia penganut Kristen Protestan. Kepadanya Wawah, ia bercerita
betapa indahnya berkelana dalam dunia Protestan. Tak hanya itu, ia juga
berkisah tentang dunia seks yang bagi Wawah teramat tabu.

Pada kesempatan lain, Lia mengajak Wawah berkeliling kota dan singgah
Gereja Protestan di Jl Bagindo Aziz Chan, Padang. Di sini, keduanya berbaur
dengan puluhan jemaah pimpinan Pendeta Willy.

Singkat cerita, Wawah dipaksa membuka jilbab, menuju altar dan dipaksa
masuk Kristen, kendati gadis ini menangis dan meronta. Selanjutnya Wawah
diserahkan kepada Salmon, seorang jemaat gereja yang bekerja di PDAM
Padang. Di rumah keluarga Salmon itulah, Wawah juga diperkosa saat Lisa
Zuriana, istri Salmon keluar rumah. Lisa sendiri adalah warga Tangah Sawah,
Bukittinggi, asli Minangkabau yang kini memeluk Kristen setelah kawin
dengan Salmon. Ia juga bendahara Persatuan Kristen Protestan Sumatera Barat
(PKPSB).

Dr Daud Rasyid, dosen IAIN Syarief Hidayatullah, mengaku sangat prihatin
dengan peristiwa itu. ''Itu cara-cara biadab yang kelewat batas dan bisa
memancing kemarahan ummat.'' Bayangkan, di Padang saja berani, apalagi
daerah lain, tambahnya.

Sementara itu Franz Magnis-Suseno SJ, gurubesar STF Driyarkara, berharap
kejadian di Padang itu merupakan satu-satunya kejadian. ''Itu sangat jelek
dan tidak mungkin gereja melakukannya.'' Seradikal apapun, kata dia, tidak
mungkin gereja melakukan hal seperti itu.

Menag Malik Fajar mengaku Depag belum mengetahui secara pasti tentang
terjadinya Kristenisasi di Sumbar. Menurutnya, kasus ini perlu dilihat dan
ditelaah secara cermat oleh semua pihak. ''Depag sedang menunggu hasil
kajian Balitbang.''

Masalah Kristenisasi sempat juga disinggung dalam Rakernas MUI, 23-26 Jul.
Dalam pernyataan sikapnya, MUI menegaskan akan mendesak pemerintah dan DPR
untuk segera membentuk UU tentang Pelaksanaan Kerukunan Hidup Umat
Beragama. ''Kehadiran UU ini telah lama dinanti umat Islam,'' kata Ketua
Umum MUI Prof Ali Yafie.

Tetapi, menurut laporan majalah Sabili, kasus serupa juga terjadi di
Jakarta. Kali ini menimpa keluarga Ridwan, pria asal Ujungpandang yang
belum satu tahun menikahi Darma. Di luar pengawasan suami, Darma terbujuk
misi pengkristenan lewat jalur pengobatan.

Kasus Wawah dan istri Ridwan itu memperpanjang daftar aksi Kristenisasi di
Indonesia. ''Gerakan itu malah kian berani,'' kata Insan Mokoginta, mantan
pendeta yang kini aktif menangkal gerakan Kristenisasi berkedok Islam,
seperti dikutip Sabili. Salah satunya dibidani Yayasan Doulos yang punya
misi mengkristenkan orang Sunda [Jawa Barat]. Mereka punya target pata
tahun 2000 membuat 2000 posko penginjilan di Jawa Barat. Itulah sebabnya
proyek itu disebut Yeriko 2000.

Pemurtadan berkedok Islam juga dilaporkan seorang aktivis dari Bandung.

Kami bekerja pada suatu instansi pemerintah di Bandung. Pada hari Senin
tanggal 26 Juli 1999, salah seorang rekan kerja kami -- yang kebetulan
seorang mualaf -- mendapat surat via pos yang berisi selembar surat tulisan
tangan dan selember buletin. Surat tersebut tidak secara jelas menyebutkan
identitas pengirimnya.

Melalui surat dan buletin, misionaris meminta orang Islam bertobat dan
mengajak kembali untuk percaya pada Tuhan Yesus. Buletin itu berjudul
Rahasia Jalan ke Surga yang diterbitkan oleh ''Dakwah Ukhuwah'' PO Box
1272/JAT Jakarta 13012. Sepintas buletin tersebut mirip buletin yang
diterbitkan oleh kalangan Islam, apalagi di dalamnya dijumpai
kutipan-kutipan ayat Alquran serta diawali dan diakhiri dengan tulisan
assalaamua'laikum wr. wb. Akan tetapi, setelah dikaji dan dipelajari,
ternyata ayat-ayat Alquran tersebut telah disalahartikan dan digunakan
untuk kepentingan penyebaran agama mereka. Hampir semua ayat yang dikutip
adalah ayat yang berkaitan dengan Nabi Isa As.

Kristenisasi memang bukan fenomena baru. Ia punya akar yang panjang dan
terkait dengan kolonialisme, kata Dr Bahtiar Effendy dalam dialog Membedah
Politik Kristenisasi dan Islamisasi di Indonesia yang diselenggarakan Madia
(Masyarakat Dialog Antar Agama) di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu [24/7].
Keterkaitan antara kolonialisme dan penyebaran Injil ini melahirkan
pemberontakan Islam di berbagai daerah seperti Jawa, Aceh, dan Sumatera
Barat. Umat Islam memberontak sebagai sikap protes terhadap perlakuan
diskriminatif politik keagamaan dan kolonialisme Belanda.

Bahtiar menyebutkan, umat Kristen di Indonesia meski minoritas tapi
'mayoritas' dalam kekuasaan politik (negara) di Indonesia. Sebaliknya, umat
Islam selalu dicurigai oleh kekuasaan (pemerintah) sejak Orde Lama hingga
Orde Baru.

Jan Aritonang mengakui, hubungan antara Kristen dan Islam pada masa
kolonialisme harus diakui bahwa Kristen Barat mewarisi dan membawa
pemahaman dan sikap yang negatif, untuk pada gilirannya menularkannya pada
masyarakat Kristen pribumi yang mereka Injili dan Kristenkan. ''Semangat
triumfalistik dalam rangka penginjilan ini membuat hubungan di antara kedua
belah pihak diwarnai ketegangan dan kecurigaan,'' katanya. Menurutnya,
karena hubungan yang seperti itu sudah berlangsung berabad-abad, tidak
mengherankan jika hingga kini beban sejarah itu belum dapat ditanggalkan.

H. Sudarto dalam buku Konflik Islam-Kresten [diterbitkan PT Pustaka Rizki
Putra Semarang, April 1999] memaparkan bahwa gerakan Kristenisasi pun terus
berlangsung setelah Indonesia merdeka hingga sekarang. Puncaknya mulai awal
Orde Baru. Cara-cara misionaris menyebarkan Kristen sering tak etis dan tak
fair dengan mengintervensi keimanan. Mereka datang ke rumah-rumah orang
Muslim dan membangun gereja di kawasan Muslim. Sampai-sampai tokoh Islam
semacam Prof HM Rasjidi pun pernah terang-terangan dibujuk oleh dua
misionaris. padahal waktu itu dia juga Menteri Agama RI.

Dalam satu Musyawarah Antaragama 1967, gurubesar Hukum Islam UI itu
berkata: ''Saya yakin bahwa tak ada seorang propagandist Islam [mubaligh]
pernah mendatangi Pak J. Kasimo [mantan Ketua Partai Katolik Indonesia] dan
Pak Tambunan [tokoh Kristen dan mantan Menteri Sosial] dan mengajak mereka
untuk pindah agama, sebagaimana saudara-saudara yang beragama Kristen telah
mencoba melakukan hal itu terhadap diri saya.''

Lewat makanan, bantuan pendidikan dan kesehatan, pacaran dan perkawinan,
serta bujukrayu lewat informasi yang diputarbalikkan memang banyak kalangan
awam dan ekonomi lemah 'terpaksa' pindah agama. Dengan gerakan misionaris
yang agresif tak aneh jika statistik umat Kristiani bergerak cepat. Dari
hanya 2,8% pada 1931 menjadi 7,4% pada 1971 dan hampir 10% pada 1990.
Dampak lainnya, seperti kita saksikan, adalah munculnya konflik dan
kerusuhan seperti terjadi di Dili, Timtim [1994], Maumere, NTT [1995],
Surabaya dan Situbondo, Jatim [1996], Tasikmalaya [1997], Ketapang dan
Kupang, serta Ambon dan Sambas [1999].

Untuk meredam konflik laten, Islam-Kristen, Dr Alwi Shihab mengajak semua
pihak ke inti dari ajaran agama, yakni: mu'amalah datu interaksi sosial.
''Iman itu kan berasal dari kata aman yang berarti damai. Jadi agama itu
menciptakan rasa aman,'' ujarnya.
(vie/rus/jun)
===========

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke