Salam sejahtera,
Para Netters yang terhormat, berikut ini kami postingkan pandangan Gus Dur
(Ketua PB NU) menyangkut Kristenisasi dan Islamisasi.  Semoga bermanfaat.

Salam dan doa,
Redaksi


********************
REPUBLIKA
Republika, 06 Aug 1999
(Dialog Jum'at)
====================

KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)Ketua Umum PBNU
*********************************************
Kalau kita berbicara masalah topik ''Membedah Politik Islamisasi dan
Kristenisasi di Indonesia'' menunjukkan suatu sakitnya proses modernisasi.
Karena dalam hal ini terjadi proses pengerasan sikap di antara
masing-masing pemeluk agama berbeda. Tetapi kalau positif itu tidak
apa-apa.

Ketika terjadi modernisasi, orang akan kembali kepada akar masing-masing.
Yang beragama Islam akan kembali kepada hukum-hukum Islam, dan begitu juga
agama yang lain.

Sering terjadi proses destruksi, seperti di Situbondo. Tetapi setelah itu,
akan tumbuh saling pengertian dan hidup berdampingan.

Dalam proses modernisasi, orang biasanya takut kehilangan akar. Dan karena
kondisi masyarakat Indonesia sangat plural, maka akar-akar itu bisa
berbeda. Masing-masing memiliki kecenderungannya sendiri-sendiri. Inilah
intinya. Proses modernisasi itu terjadi dari waktu ke waktu, bahkan
lahirnya pesantren pun pada awalnya juga karena proses modernisasi.

Yang kemudian menjadi masalah atau problem, terkadang orang kesulitan
menemukan identitas atau akarnya itu. Identitas itu tidak diketemukan,
sehingga menimbulkan kemelut dalam diri orang tersebut. Di sinilah peran
agamawan harus sanggup memberikan penerangan kepada semuanya.n lha Franz
Magnis-Suseno
Guru Besar STF Driyarkara

Hubungan kerukunan beragama selama 32 tahun tidak bisa dikatakan semu,
karena selama ini di masyarakat sendiri telah tumbuh toleransi beragama.
Buktinya dengan adanya beberapa konflik agama di beberapa tempat pada tahun
yang lalu yang tidak meluas ke beberapa daerah, menunjukkan hal tersebut.
Itu menunjukkan di dalam masyarakat ada kerukunan, tetapi yang diupayakan
oleh pemerintah memang semu.

Kristenisasi masih berlanjut? Kejadian di Padang kemarin saya harap
merupakan satu-satunya kejadian, karena itu sangat jelek dan tidak mungkin
gereja melakukannya. Seradikal apapun, tidak mungkin gereja melakukan hal
seperti itu. Itu benar-benar diluar yang dibayangkan.

Tindakan kristenisasi di Padang tersebut harus ditindak secara hukum, sebab
sudah kriminal. Dan menurut saya betul-betul merupakan suatu kekecualian.
Saya tidak mengetahui latar belakang persoalan sebenarnya.

Yang jelas, gereja baik gereja Katolik dan gereja besar tidak menggunakan
pola kristenisasi seperti yang dilakukan di Padang itu. Yang agak agresif
memang beberapa gereja, yang kami sebut sebagai sekte, yang kebanyakan
mengarahkan kegiatannya kepada orang Kristen karena biasanya berargumentasi
dengan Kitab Perjanjian Baru. Jadi yang paling terganggu justru agama
Protestan oleh sekte-sekte tersebut.n lha Dr Alwi Shihab
Dosen Hartford Seminary AS

Soal Kristenisasi atau Islamisasi itu masalahnya adalah terkait dengan
pendidikan. Kita harus meningkatkan pendidikan atau pemahaman kita terhadap
agama. Dan upaya Madia menggelar diskusi ini adalah sebagai salah satu
upaya untuk meningkatkan kadar pemahaman kita agar hal-hal yang bisa
menyebabkan friksi atau ketegangan bisa dihindari.

Dialog ini digalakkan agar bisa dicapai titik-titik temu untuk mengurangi
ketegangan-ketegangan.

Penyebaran agama itu pemahamannya bagaimana, dari aspek kualitatif atau
aspek kuantitatif. Kalau orang Islam atau orang Kristen hanya mengacu pada
aspek kuantitatif, jumlah orang, upaya Kristenisasi atau Islamisasi itu
betul dianggap sebagai suatu kemenangan. Tapi menurut saya, lebih baik
kecil tapi berbobot ketimbang banyak tapi tak ada bobotnya. Hal-hal ini
yang harus diupayakan.

Menurut saya dengan adanya pemahaman keagamaan dan kualitas umat beragama
yang baik, akan mengurangi ketegangan karena ada apresiasi terhadap agama
lain.n rus Dr Jan S Aritonang
STT Jakarta

Hubungan Kristen dan Islam pada masa imperialisme-kolonialisme yang lebih
dari empat ini, harus diakui bahwa pihak Kristen Barat mewarisi dan membawa
pemahaman dan sikap yang negatif, untuk pada gilirannya menularkannya
kepada masyarakat Kristen pribumi yang mereka injili dan kristenkan.
Akibatnya saudara-saudaranya yang Islam lebih sering dilihat sebagai target
yang harus ditaklukkan. Semangat triumfalistik dalam rangka penginjilan ini
membuat hubungan di antara kedua-belah pihak diwarnai ketegangan dan
kecurigaan. Karena hubungan yang seperti ini sudah berlangsung
berabad-abad, tidak heran bila hingga kini 'beban sejarah' itu belum dapat
ditanggalkan.

Upaya menanggalkan beban sejarah dan membangun hubungan yang lebih saling
menghargai itu semakin sulit lagi ketika sejumlah organisasi misi dari
berbagai aliran gereja baru datang dari Amerika. Tokoh-tokohnya, karena
tidak mempunyai hubungan sejarah dengan Indonesia, tidak mau peduli bahwa
pengalaman masa lalu yang pahit itu kini sedang hendak diperbaiki.
Berdasarkan corak pemahaman kristiani yang fundamentalistik mereka dengan
enteng melontarkan klaim sebagai pemegang kebenaran mutlak dan pemilik
jalan keselamatan satu-satunya. Kehadiran mereka ini, terutama sejak
1960-an, kembali membawa hubungan Islam-Kristen kepada serangkaian
ketegangan baru. Gereja-gereja yang bercorak nasional maupun kedaerahan,
yang lebih sering disebut 'gereja-gereja arus utama' juga terganggu oleh
kehadiran saudara-saudaranya ini, sementara kalangan Islam tidak begitu mau
tahu tentang kepelbagaian doktrin dan pemahaman atas arti Injil dan
penginjilan yang terdapat di kalangan Kristen.

Berbagai ketegangan dan pengalaman pahit yang muncul dalam rangka hubungan
Kristen dan Islam pada tahun-tahun terakhir ini di pihak Kristen tidak
hanya dipahami sebagai upaya penekanan yang sistematis dan semakin gencar
dari kalangan Islam, melainkan juga sebagai kesempatan untuk berkaca dan
mawas diri, agar pemberitaan isi imannya tidak menjadikan orang lain
terganggu dan merasa dilecehkan. Sebab pada hakikatnya Injil itu adalah
kabar baik, berita sukacita, yang mestinya mengundang rasa senang dan
bahagia, bukan sebaliknya.  (Dikutip dari makalah Dr Jan S Aritonang pada
Dialog Madia bertajuk Membedah Politik Kristenisasi dan Islamisasi di
Indonesia).
-----------------------------

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke