''''''''''''''''''''''''''''''''''''''' Sari Berita: Kamis, 19 Agustus 1999 """""""""""""""""""""""""""""""" **Untuk Dinginkan Konflik Ambon Tokoh Maluku Minta Pemerintah Gantikan Kostrad dan Brimob **Diperiksa 12 Jam, Rudy Ramli Stres **Rp 286,9 Milyar Telah Ditransfer Lagi ke BB **KPU Berutang Rp 50,6 Milyar **Ichlasul Amal: "Kaki" Baramuli Harus Dipotong -------------Berita Luar Negeri-------------- **Imelda dan 3.000 Pasang Sepatu **Bangunan Buruk, Pembunuh Saat Gempa '''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''' Untuk Dinginkan Konflik Ambon Tokoh Maluku Minta Pemerintah Gantikan Kostrad dan Brimob --------------------------------------------------------- JAKARTA -- Sejumlah Tokoh Maluku di Jakarta mendesak pemerintah segera menggantikan pasukan keamanan dari Kesatuan Kostrad dan Brimob dengan Marinir. Pernyataan ini mereka kemukakan saat berkunjung ke kantor Republika, kemarin. ''Masyarakat trauma dengan pasukan Kostrad dan Brimob yang justru ikut dalam pertikaian. Pasukan Marinir jauh bisa diterima karena lebih objektif dan persuasif,'' ujar Pendeta Alex Pattianakotta. Selain Alex, juga hadir Sosiolog FISIP UI Tamrin Amal Tomagola, Ketua Umum DPP Pewaris Perjuangan Martha Christina Tiahahu Ny Djaelani Mietje Saimima, pengurus Lembaga Kebudayaan Maluku (LKM) Ny Muskita dan R Behito. Selengkapnya: http://www.republika.co.id/9908/19/22034.htm Diperiksa 12 Jam, Rudy Ramli Stres Buyung: Yang Jadi Tersangka Seharusnya Novanto ------------------------------------------------------------- Jakarta, Jawa Pos.- Pemeriksaan terhadap mantan Direktur Bank Bali Rudy Ramli berkait dengan kasus Bank Bali kemarin memecahkan rekor. Sejak memasuki ruang pemeriksaan di kantor Ditserse Mabes Polri, Jalan Trunojojo, Kebayoran Baru, Jakarta pada pukul 10.00 WIB, hingga pukul 22.00 WIB kemarin pemeriksaan belum juga selesai. Para wartawan yang sejak pagi nyanggong di halaman Ditserse Mabes Polri akhirnya banyak yang putus asa dan meninggalkan tempat. ''Wah, nunggu sejak pagi, pemeriksaan belum tahu kapan selesainya,'' gerutu wartawan yang langsung pulang karena terbentur deadline di medianya Selengkapnya: http://www.jawapos.co.id/19ags/de19h15.htm Rp 286,9 Milyar Telah Ditransfer Lagi ke BB ------------------------------------------------------ Jakarta, Kompas Hingga hari Rabu (18/8), sejumlah Rp 286,9 milyar dari dana Bank Bali (BB) sebesar Rp 546 milyar yang telah sempat mengalir ke rekening PT Era Giat Prima (EGP), telah ditransfer kembali ke BB. Demikian Kepala Tim Manajemen BB yang baru, Douglas Beckett, kepada wartawan di Jakarta, Rabu. Rinciannya adalah, Rp 112 milyar ditransfer melalui Bank BNI hari Senin (16/8), dan Rp 174,9 milyar ditransfer lewat Bank Lippo hari Rabu. Beckett menolak menjelaskan dari rekening siapa, atas nama siapa transfer dana tersebut dilakukan, karena alasan perjanjian kerahasiaan (confidentiality) yang ketat. Ia juga tak menjelaskan kapan Rp 259,1 milyar sisanya akan diserahkan ke BB. Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/9908/19/UTAMA/mily01.htm KPU Berutang Rp 50,6 Milyar ----------------------------------- Jakarta (Bali Post) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) ternyata masih menunggak Rp 50,6 milyar kepada PT Pos Indonesia. Meski demikian, KPU meminta pihak Pos Indonesia tidak khawatir, karena lembaga penyelenggara pemilu ini akan melunasinya. Kepala Biro Humas KPU Djohermansyah Djohan kepada wartawan di kantor KPU Jakarta, Rabu (18/8) kemarin, membenarkan KPU masih punya tunggakan sebesar itu. ''Utang KPU kepada PT Pos Indonesia sebelumnya Rp 62,9 miliar. Itu biaya pengiriman bahan-bahan perlengkapan penyelenggaraan pemilu dengan menggunakan jasa pengiriman PT Pos Indonesia,'' katanya. Djohermansyah mengungkapkan, dari jumlah tersebut sudah dibayar Rp 12,3 milyar, sehingga sisa tunggakan KPU kepada PT Pos Indonesia Rp 50,6 milyar. Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/1999/8/19/n3.htm Ichlasul Amal: "Kaki" Baramuli Harus Dipotong -------------------------------------------------------- Yogyakarta, Kompas Prof Dr Ichlasul Amal MA mengingatkan elite politik-khususnya Partai Golkar-untuk mengambil tindakan atas sosok trouble maker Baramuli, dengan memotong "kaki" pengaruhnya ke bawah, sehingga menghindarkan Golkar dari kejatuhannya. Ichlasul Amal heran, mengapa Presiden BJ Habibie tidak segera mendepak Baramuli dari lingkarannya. "Kalau semua menyadari, 'kakinya' Baramuli itu harus dipotong. Orang seperti Akbar Tandjung, Marzuki Darusman dan sebagainya itu, saya sendiri belum yakin bisa menggaet banyak pendukung di kalangan Golkar. Paling tidak target yang paling gampang, bagaimana mengeluarkan Baramuli dari lingkaran itu, karena dia lebih banyak menjadi persoalan dan beban," kata Ichlasul, menjawab pertanyaan pers, Rabu (18/8), di ruang kerjanya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/9908/19/NASIONAL/kaki06.htm --------Berita Luar Negeri--------- Imelda dan 3.000 Pasang Sepatu ---------------------------------------- Manila, Rabu Ketika melarikan diri dari Filipina bersama suaminya diktator Ferdinand Marcos tahun 1986, Imelda Marcos meninggalkan lebih dari 1.000 pasang sepatu. Kini, dia mengatakan, mengumpulkan sepatu lagi dan mungkin tak lama lagi koleksinya akan cukup untuk mengisi sebuah museum sepatu lagi. "Rasanya saya akan punya lebih banyak sepatu dibanding dulu," kata janda Ferdinand Marcos itu hari Selasa (17/8) pada acara peluncuran dua buku yang ditulis oleh para pendukungnya, yang diharapkannya dapat meluruskan beberapa kebohongan mengenai pemerintahan suaminya. Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/9908/19/LN/imel20.htm Bangunan Buruk, Pembunuh Saat Gempa ------------------------------------------------ Istanbul, Rabu Rendahnya kualitas bangunan di Turki dituding sebagai penyebab utama banyaknya korban gempa yang terjadi hari Selasa lalu. Para pakar gempa bumi hari Rabu (18/8) mengungkapkan, para pejabat tidak mampu menegakkan hukum/ peraturan pembangunan gedung-gedung yang dapat mencegah terjadinya begitu banyak korban bila terjadi gempa. Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri Turki memperkirakan, 65 persen bangunan di Turki dibangun tanpa izin, atau tanpa memperhatikan keamanan konstruksi bangunan. Akibatnya walau gempa bumi yang berkekuatan 6,7 - 7.0 skala Richter berlangsung sekitar 45 detik, jumlah korban tewas mencapai ribuan. Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/9908/19/LN/bang19.htm "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
