REFLEKSI LIMA PULUH EMPAT TAHUN KITA MERDEKA
-----------------------------------------------------------------------
Oleh Rm Benny Susetyo Pr

Dalam perjalanan sejarah lima puluh empat tahun bangsa ini telah jatuh ke
dalam sebuah rimba belantara yang tidak bertuan. Bagaikan medan yang
terbuka tempat anak -anak bangsa saling membunuh, menikam, bertarung satu
dengan yang lainnya. Sedangkan para elite politik berpesta pora
memperebutkan kursi ditengah -tengah cucuran darah rakyat Aceh, Ambon,
Irian dan Timor-timor. Mengapa semua ini harus terjadi di bumi pertiwi yang
katanya masyarakatnya penuh kehalusan, keramah -tamahan, kehormanisan,
tiba-tiba menjadi liar, beringas, mudah mengamuk. Rasanya nurani bangsa
tersentak menyaksikan peristiwa kelabu ini. Ketika warga sebangsa harus
mati merana dibantai oleh mereka yang katanya
pelindung rakyat ? Mengapa mereka dibantai ! Bukankah selama ini rakyat
berjasa untuk mencapai kemerdekan? Bukankah rakyat selama ini telah
habis-habisan berkorban ? Bukankah selama ini rakyat berusaha menahan amuk
amarahnya?

Rakyat selalu mengalah demi anjuran bijak: demi kehormisan, kejayaan
negeri, persatuan dan kesatuan. Dia dijadikan tumbal para penguasa yang
pongah, yang tidak ingat lagi dari mana asal mereka. Mereka tak mau berkaca
diri bahwa mereka bisa menikmati segala fasilitas yang luar biasa itu
asalnya dari cucuran keringat rakyat yang selama ini harus menanggung beban
biaya tinggi yang disebabkan oleh kegagalan elite politik untuk mengurus
negara ini. Mereka menganggap negara ini milik moyangnya, sehingga mereka
bisa dengan sewenang-wenang memperlakukan rakyat. Rakyat dijadikan
bulan-bulanan para penguasa, harta mereka dikuras habisan-habisan, rasa
aman tak pernah ada. Yang ada adalah intimidasi, teror, dan merampok uang
rakyat untuk melestarikan kekuasan. Dengan Ideologi darwismisme--yang kuat
menggilas yang lemah-- dan dengan retorika -retorika mengatasnamakan
rakyat,demi rakyat. Realitanya, hak rakyat dibungkam, dipasung, diambil
alih oleh kekuasan. Rakyat selama 32 tahun hidup dalam dunia para bandit,
pencoleng, ninja dimana Kekerasan selalu menjadi wacana dalam mengatasi
segala persoalan. Senjata selalu menunutut darah rakyat.

Sudah cukup kita akhiri sejarah petulangan Ken Arok yang selalu memakan
darah--darah anak- anak negeri sendiri--dengan mengakhiri situasi yang
tidak normal ini. Dalam situasi tidak normal negara diperintah oleh mereka
yang jagoan.  Tetapi dalam situasi yang normal pemerintahan bangsa harus
dikembalikan kepada kaum sipil. Mereka yang memiliki senjata harus tunduk
kepada kaum sipil. Inilah hukum alam disetiap bangsa yang berabab. Bangsa
yang beradab selalu mengedepankan kaum sipil untuk mengatur negara. Karena
dalam kondisi yang normal dibutuhkan rasionalitas,dan nalar dalam mengatur
negara. Bukan lagi bedil dan kaum jagoan. Oleh karena itu, marilah diakhiri
era pemerintahan Ken Arok yang selalu mengedepan kekuatan senjata untuk
menakuti rakyat dengan menciptakan potensi konflik untuk mempertahankan
kekuasaan, yang memperalat agama, para teknorat,intektual, serta
membeli rakyat untuk menjadi tukang stempel,  tukang gebuk, demi kekuasaan.

Sudah saatnya kita kembali pada jaman yang normal yang mendepankan
kearifan, yaitu dengan nalar, logika,akal sehat. Dalam tata negara yang
menjamin  realisasi Pancasila ,khususnya kemanusiaan yang adil. Kaum
bersenjata  hendaknya anda sudi kembali kepada habital anda. Sebab dalam
suasana demokrasi  rasanya tidak afdol bila anda memiliki dua mulut-- mulut
alami, dan mulut laras senjata-- karena bisa melenyapkan prinsip
keadilan,kemanusian dan keberadaan. Celakanya hal ini tidak hanya berlaku
dalam pertemuan individual, tetapi juga dalam pertemuan antar lembaga. Bisa
saja peserta bersenjata itu baik hati, lemah lembut, dsb. Tetapi masalahnya
disini kita berbicara tentang sistem, The rules of the game bukan soal
pribadi. Oleh karena itu,jika kita serius menghendaki suatu tata negara
yang berkemanusiaan yang adil dan beradab ,maka kita harus kembali ke
prinsip negara modern dan dewasa; ke prinsip dan praktis Revolusi 1949-1950
dan prinsip Jenderal Soedirman yang selalu mengatakan "TNI tidak
berpolitik. PolitikTNI adalah politi pemerintah." Ini perlu dijelaskan agar
TNI sadar akan peranannya yang hanya sebatas menjaga kedaulatan negara ini;
yakni menjadi pelindung rakyat, dan tunduk pada pemerintah sipil yang
dimanefestasikan diri Soekarno-Hatta-Syahiri. Meskipun mereka tidak puas
dengan segala kebijakan Seokarno-Hatta-Syahir, semua laskar tentara tunduk,
konsekuen dan secara ksatria tahu peranannya dan posisinya. Itulah kearifan
Soedirman yang sadar tugas menjaga negara,bangsa bukan menjaga kekuasaan.
Oleh karena itu di usia yang sudah dewasa ini kita berharap agar bangsa ini
semakin cerdas dan bukan diperdungu oleh bintang jasa maha putera, dan
gelar-gelar lain, yang hanya menciptakan manusia robot penguasa, yang hanya
bisa berkata ya terhadap kekuasan karena hidup tergantung dengan mesin
birokrat. Oleh karena bangsa semakin cerdas dan maju (ini cita pendiri
bangsa ini) dan lebih rasional maka ia tidak mudah dijadikan, provokator,
dibeli, dijadikan centeng, dijajah oleh warga sebangsa. Isu Sara tidak laku
lagi karena negara yang menggunakan prinsip rasional dan logika sehat;
selain itu negara semakin efesien sebab mentalitas para birokrat bukan lagi
mentalitas para pencoleng, perompok. Pemerintahan menggunakan dasar logika
yang sehat, lebih mengedepan pembagian kerja efesien; mengedepan
profesionalitas dalam mengelola negara bukan berdasarkan koneksi karena
dekat dengan kekuasan, birokrat, saudara misan (karena pengelolaan negara
semacam inilah yang membuat bangsa ini mengalami kebangkrutan).

Oleh karena itu mari kita akhiri semua sandiwara yang menyengsarakan rakyat
dengan menciptakan sistem pemerintahan yang bisa dikontrol oleh rakyat.
Dengan cara mengembalikan daulat rakyat sebagai tuan dan mengembalikan
fungsi pemerintah sebagai pelayan rakyat yang harus mendengar suara rakyat.
Bukan lagi menjadi tukang membuat intruksi, peraturan, larangan ini itu,
melainkan harus kembali kepada tugas pokoknya, yaitu menjamin berkembangnya
rasa kemanusiaan yang adil dan beradab (bukannya dipinggirkan). Ini erat
kaitannya dengan kesadaran akan kemanusiaan yang adil dan beradab serta
hak-hak asasi manusia yang pada gilirannya amat menunjang bermekarnya
produksi serta kreativitas kerja yang bersumber dari keunggulan sumber daya
manusia, alam serta kultural.

Permasalahan kita di Indonesia saat ini ialah, sanggupkah para elite
politik dan militer sampai pada
derajad kecerdasan, kedewasan, rasionalitas instrumental, dan rasionalitas
nilai -nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, untuk sadar dan merealisasi
pembagian tugas tata masyarakat dan negara. Problemnya
adalah apakah hubungan antara kaum bersenjata dan tak bersenjata itu
dilakukan secara dewasa atau belum? Bahwa semua harus dijalankan secara
bertahap itu jelas. Namun yang penting sudahkah TNI memiliki kematangan
berpikir dan kedewasan niat dalam menyikapi permasalahan kedudukan kaum
bersenjata itu, seperti yang pernah ditunjukkan dan dibuktikan oleh
pemerintahan Revolusi Indonesia 1945-1950 termasuk kearifan Jenderal
Soedirman. Memang tidak mudah untuk menuju ke situ, sebab di jaman
pemerintahan Soeharto dan Habibie negara ini salah ditata. Akibatnya
menimbulkan persoalan yang menggunung yang disebabkan ketidak ada kemauan
untuk melaksanakan pemerintahan pada rel yang benar. Oleh karena itu demi
hari depan yang cemerlang sudilah kita tidak larut dalam penderitaan
ini.Tetapi kita harus melihat ke depan, kepada hari esok yang lebih baik
dengan mengembalikan pembangunan Republik ini kepada kaum sipil yang
memiliki otak cerdas, rasional ,anti kekerasan. Itu hanya terjadi bila
mulut anda tidak diam membiarkan kelaliman merajalela, dan penindasan
terus-menerus terjadi. Ini tugas baru angkatan muda 99 yang masih
suci,murni,idealis, belum tercemar nikmatnya aroma kekuasan dan kursi
eksekutif. Tugas anda adalah menjadi penjaga gerbang bangsa, agar tidak
terulang lagi dragedi yang memilukan, bencana berdarah yang bercucuran,
bencana kekurangan gizi pada anak cucu kita, dan cap sebagai bangsa
pengutang terbesar.

Sudah waktunya kita tinggalkan dunia para jagoan, bandit berdasi, koneksi,
penguasa. Saatnya kita gunakan senjata nalar kita untuk memperbaiki wajah
masa depan yang memang kelam, dengan membedah kembali hal yang ditabukan
selama ini dengan mengkeramatkan para penguasa yang seolah -olah tidak bisa
disentuh, dikritik. Mereka bukanlah mumi menakutkan, melainkan manusia yang
perlu diawasi agar tidak menyalahgunakan janji setia kepada rakyat. Karena
kekuasan selalu cenderung korup maka perlu diawasi oleh rakyat dengan
menciptakan sistem pengawasan yang mandiri/ indepen dan memiliki kredilitas
dimata rakyat. Itulah peranan kita sisa orba yang masih memiliki hati
nurani. Mungkin kita ini kaum tersisih, tetapi bila kita mau kita bisa
memberikan sinar di tengah-tengah kegelapan. Mari kita bersatu menyatukan
visi untuk mengawasi para dipertuan agung yang duduk disinggasana agar
mereka tidak rakus,tamak, lalim lagi. Mari berseru. Merdeka .
merdeka -merdeka.

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke