********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
********************************
Artikel Eskol-Net
===============
"Mencermati Politik Jitu Gus Dur"
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Oleh: Augustinus Simanjuntak, S.H
Ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden IV RI, para pendukung berat PDI P
jelas sangat kecewa. Bagaimana tidak, Megawati Soekarno Putri sebagai
pimpinan Partai pemenang pemilu ternyata tidak berhasil menduduki jabatan
Presiden. Salah satu perwujudan Demokrasi berupa memberi kesempatan besar
kepada pemenang pemilu untuk memimpin pemerintahan, menjadi sesuatu hal
yang sangat sulit untuk dicapai. Hal ini tidak bisa lepas dari sebuah
sistem yang dianut oleh UUD 1945, bahwa Presiden harus dipilih oleh MPR.
MPR-lah yang menjalankan kedaulatan rakyat itu.
Sistem pemilihan Presiden tak langsung (dipilih oleh MPR) ini memang
menjadi kendala. Sebab, sistem ini memberi peluang besar bagi anggota MPR
untuk bersaing dengan permainan politik. Terjadilah apa yang disebut oleh
pengamat politik UGM Cornelis Lay, sebagai politik "dagang sapi", dimana
pada tingkat elit politik di MPR terjadi tawar-menawar mengenai
jabatan-jabatan penting. Bisa jadi para elit menghalalkan segala cara untuk
memenangkan jagonya dan menyingkirkan lawan politiknya. Inilah yang sempat
dialami oleh PDIP, bahwa hampir pada setiap voting selalu kalah.
Ketika PDIP menjagokan Matori Abdul Djalil sebagai calon Ketua MPR,
ternyata Poros Tengah telah menjalin kerja sama dengan Golkar. Demikian
juga dalam pemilihan Ketua DPR, Akbar Tanjung akhirnya berhasil memenangkan
voting karena dukungan Poros Tengah sebagai umpan balik.
Kembali kepada persoalan pemilihan Presiden. Setelah pertanggungjawaban
Habibie di hadapan MPR ditolak melalui voting, maka secara etis moral tidak
mungkin lagi bagi Golkar untuk mencalonkan Habibie. Akhirnya di saat
pemilihan, calon Presiden hanya tinggal dua, yaitu Megawati dan Gus Dur,
sebab Prof. Dr. Yusril Hiza Mahendra mengundurkan diri dari bursa
pemilihan. Namun, suatu hal yang patut dicatat dari pengunduran diri
Yusril ialah, pernyataannya yang mengatakan: "demi menghormati dan memberi
kesempatan kepada calon Presiden Poros Tengah, yakni Gus Dur". Pernyataan
ini sebagai ungkapan yang memperkokoh dukungan Poros Tengah kepada Gus Dur,
karena ada kekhawatiran Gus Dur akan mundur. Dengan demikian, pernyataan
Yusril secara moral membuat Gus Dur akan "sungkan" untuk mengundurkan diri
di saat-saat terakhir pemilihan Presiden. Jadi, ada bukti kesungguhan
Poros Tengah untuk mencalokan Gus Dur.
Menjadi pertanyaan, kemana jadinya suara partai Golkar ?. Golkar
diperhadapkan pada tiga pilihan yang sulit, apakah mencalonkan Akbar, atau
abstain, atau menyerahkan suaranya ke Gus Dur ?. Kalau Golkar mendukung
Akbar sebagai Presiden maka dikhawatirkan suara akan pecah ke tiga calon
(Akbar, Mega, Gus Dur), dan ini bisa tidak menguntungkan Golkar. Artinya,
Golkar kemungkinan besar kalah apalagi mengingat Golkar tidak lagi solid.
Selain itu, posisi Akbar sebagai ketua DPR sayang untuk ditinggalkan.
Mau tidak mau, ada kepentingan lain yang perlu diperjuangkan oleh Golkar,
yaitu melindungi Soeharto dan Habibie. Partai yang paling berseberangan
dengan Habibie selama ini ialah PDIP. Kubu Habibie tentu sangat khawatir
kalau Megawati naik menjadi Presiden, berkaitan dengan kasus KKN Pak Harto
dan kasus Bank Bali. Habibie juga tentu sangat tidak senang ketika PDIP
dengan tegas menolak pertanggungjawaban Habibie. Oleh karena itu, Gus Dur,
yang dikenal sebagai "Pemaaf" itu dinilai paling tepat untuk didukung oleh
Golkar dengan harapan Soeharto,Habibie dan Baramuli bisa terlindungi oleh
Gus Dur.
Sebetulnya kalau bukan kepentingan elit politik, Megawati sudah pasti
menjadi Presiden, karena berposisi sebagai pemenang pemilu. Gus Dur tidak
akan mencalonkan dirinya sebagai Presiden kalau tidak ada kepentingan
politik yang mencalonkannya. Sehingga terjadilah tarik-menarik dukungan,
dimana Gus Dur sejak awal konsisten mendukung Megawati sebagai Presiden,
bahkan PKB melalui Ketuanya Matori Abdul Djalil menyatakan dukungannya
kepada Mega, sedangkan Poros Tengah, yang dimotori oleh Amin Rais,
mejagokan Gus Dur. Seolah-olah Poros Tengah menutup mata terhadap Megawati
sebagai pemimpin partai pemenang pemilu.
Dari uraian di atas tampak bahwa ada tiga kekuatan besar yang perlu
diakomodasi oleh Gus Dur, yaitu: kubu Megawati, Poros Tengah, dan kubu
Habibie. Kalau Gus Dur mengundurkan diri dan menyerahkan dukungan penuh
kepada Megawati maka Poros Tengah dan kubu Habibie tidak akan senang.
Kemungkinan besar konflik elit politik dan konflik horizontal akan terus
berlanjut jika Mega menjadi Presiden. Misalnya saja, ketika
pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR gejolak terjadi di Makassar
(Sulawesi). Setelah Gus Dur terpilih menjadi Presiden, gejolak pun sedikit
menurun. Ini berarti kubu Habibie merupakan kekuatan yang patut
diperhitungkan. Poros Tengah menilai Mega sebagai ancaman mengingat isu
Muslim non Muslim di tubuh PDI P. Gus Dur tidak mau Poros Tengah kecewa.
Gus Dur tidak mau bangsa ini pecah. Gus Dur pasti menyadari kesehatan
fisiknya yang kurang mendukung. Namun, sikap Gus Dur ini patut diacungi
jempol dan patut dihargai.
Penulis yakin bahwa Gus Dur tidak akan tega meninggalkan Mega sebagai
pemenang pemilu. Gus Dur tidak mungkin membiarkan PDI P tidak memegang
posisi apa-apa. Pasti Gus Dur mempuyai strategi jitu untuk mengakomodasi
kubu Mega ini. Walaupun pada awalnya seolah-olah sangat menyakitkan bagi
kubu Mega dalam menghadapi beberapa kali voting yang selalu kalah, termasuk
dalam pemilihan Presiden. Namun, sekali lagi, kita harus mengingat politik
Gus Dur.
Mengapa Gus Dur langsung mendukung Amin Rais duduk sebagai Ketua MPR ?.
Ini salah satu cara untuk mengurangi ketegangan di antara para elit
politik.
Sebagai bukti bahwa Gus Dur tidak akan meninggalkan Mega, posisi Wakil
Presiden disiapkan untuk Mega. Itulah akhirnya yang terjadi, ketika voting
pemilihan Wakil Presiden terpilih menjadi wakil Presiden RI. Kemenangan
Mega dalam perebutan kursi Wakil Presiden adalah tergolong kemenangan PDIP
dan kemenangan bagi bangsa Indonesia.
Terakomodasi sudah kekuatan-kekuatan politik di Tanah Air meskipun harus
penuh melalui perjuangan dan persaingan yang ketat, menegangkan, namun
demokratis.
Semoga Indonesia berjaya. Mari kita tetap berdoa untuk bangsa Indonesia.
Sekian.
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l