Para netters yang terkasih,
Berikut kami postingkan STUDI KRITIS TERHADAP TRAGEDI KERUSUHAN BERDARAH di
AMBON deari Forum Pengkajian Hak Azasi dan Demokrasi Indonesia (FPHDI),
kiranya tulisan ini dapat mengajak kita untuk turut mendoakan dan membantu
penyelesaian kasus di Ambon.

Salam dan Doa
Redaksi Eskol-Net




STUDI KRITIS TERHADAP TRAGEDI KERUSUHAN BERDARAH di AMBON

PENDAHULUAN

Hampir 10 bulan kerusuhan di Ambon tidak kunjung reda. Hal ini tentu
menimbulkan tanda tanya besar, mengapa kerusuhan (Islam versus Kristen),
yang memakan korban harta benda dan nyawa manusia yang tidak sedikit itu,
dibiarkan berlangsung terus? Para pelaku kerusuhan ternyata dibiarkan lolos
oleh aparat keamanan. Bahkan dalam beberapa kasus, oknum-oknum aparat ikut
melakukan penyerangan. Kelompok masyarakat yang seharusnya mendapatkan
perlindungan keamanan, justru terancam kehilangan nyawa oleh oknum-oknum
aparat tertentu. Ada pejabat birokrasi tertentu ditengarai terlibat di
belakang kerusuhan tersebut. Persoalan rumit ini ternyata masih ditambah
lagi dengan munculnya kelompok-kelompok sektarian di atau dari luar Maluku
yang memperuncing permusuhan kelompok yang sedang bertikai. Tragedi Ambon
tampaknya merupakan proyek permainan elite politik tertentu. Hati nurani
mereka sudah tidak berfungsi lagi. Mereka tidak lagi takut terhadap Tuhan.
Jika pemerintah yang lalu menutup mata terhadap persoalan kemanusiaan ini,
maka pemerintah yang sekarang hendaknya menyelesaikan secara adil dan benar
persoalan kemanusiaan, baik di Ambon, maupun di tempat-tempat lain.

FAKTA-FAKTA TRAGEDI AMBON

Berdasarkan studi kritis terhadap tragedi berdarah di Ambon (Maluku Tengah
dan Tenggara) dan pulau-pulau sekitarnya (selanjutnya disebut Ambon),
ditemukan bahwa kerusuhan itu dilakukan secara terencana, sistematis, dan
digerakkan oleh tangan-tangan tersembunyi(invisible-hand) yang memanipulasi
sentimen keagamaan. Hal ini ditengarai dair beberapa hal.

1. Kerusuhan Ambon dari satu tempat ke tempat lain terjadi secara
bersamaan,
atau kalau tidak serempak, waktu kejadiannya hanya selisih beberapa jam.

2. Setiap kerusuhan selalu ditandai dengan pola penggerakan massa secara
serentak dalam jumlah minimal 500 orang.

3. Massa yang melakukan aksi dari satu tempat ke tempat lain diangkut
dengan
mobil jika melalui jalan darat dan dengan kapal motor bagi yang melalui
jalan laut dalam jumlah yang besar.

4. Massa menggunakan senjata tajam, panah, tombak, maupun senjata rakitan,
bahkan di beberapa tempat diketahui menggunakan senjata otomatis dengan
peluru standar militer.

5. Frekuensi kerusuhan cukup tinggi dengan pola kerusuhan yang hampir sama,
yaitu perusakan, pembakaran, penjarahan, dan pembunuhan.

6. Kerusuhan di Ambon tidak hanya melibatkan masyarakat awam, tetapi juga
oknum aparat keamanan, oknum pejabat birokrasi, dan tokoh-tokoh masyarakat.


KERUSUHAN AMBON

Berdasarkan studi secara seksama menghasilkan pemetaan kerusuhan Ambon
sebagai berikut :

Waktu : Sebelum JAN'99
Peristiwa :
- Pertemuan organisasi politik dan ormas Islam di Mesjid Al-Fatah dipimpin
Abdullah Soulissa (Ketua Yayasan Al-Fatah) memutuskan: (Sumber : FKKM
Yogyakarta)
    - Berposisi strategis dalam pemerintahan
    - Membentuk Posko Penanggulangan Idul Fitri Berdarah. (Ormas NU dan PKB
tidak setuju dan meninggalkan rapat, lalu melaporkannya kepada Gus Dur via
telepon). (Sumber : Surat Pemimpin-pemimpin Gereja di Maluku)
- Ceramah M. Nour Tawainela kepada mahasiswa HMI tahun 1994, yang inti
ajarannya adalah cita-cita untuk mengIslamkan Ambon.

Waktu : 6 JAN'99
Peristiwa : Pembentukan Seksi Advokasi dan Hukum Penanggulangan Korban
Idul Fitri Berdarah (Sumber  : Surat Pemimpin-pemimpin Gereja di Maluku )

Waktu : 14-17 JAN'99
Peristiwa : Kerusuhan Dobo sebagai pemicu pendahuluan (Sumber : FKKI/dari
berbagai sumber)

FASE : KERUSUHAN I

Waktu :  19 JAN'99, k.I. pukul 15.00-17.30 WIT
Peristiwa :
- Pemalakan terhadap Joppy Leuhery oleh Nursalim bin Kadir, sebagai pemicu.
- Penyerangan Kelompok Islam dari Batu Merah terhadap warga Kristen dan
pembakaran rumah-rumah warga Kristen di perbatasan Batu Merah-Mardika, di
Silale, Waihaong, Soabali dan Jalan Baru. (Sumber : FKKI/dari berbagai
sumber)

Waktu : 19 JAN'99 (18.00-dst)
Peristiwa : Pematangan kondisi konflik:
- Ada peningkatan konsentrasi massa di kedua belah pihak (Batu Merah).
- Meluasnya isu gereja dan masjid yang dibakar. ( Sumber : Tekad,
No.13/Tahun I,
25-31 Jan'99)
- Keterlambatan aparat keamanan untuk mencegah dan meredam kerusuhan.
- Tuduhan di media massa berupa stigma RMS dan separatisme Kristen,
kecemburuan kelompok Kristen terhadap BBM, dan “moeslim
cleansing yang tidak berdasar sama sekali. (Sumber : Tekad, No.13/Tahun I,
25-31 Jan'99; Media Dakwah Muharram 1420/ Mei 1999)

Waktu : 20 JAN-APRIL '99
Peristiwa :
- Pelebaran konflik ke berbagai lokasi di kota
Ambon, Sanana (Maluku Utara), Pulau Manipa, Pulau Seram, Kep. Lease
(Haruku,
Kariu dan Wainital, Saparua, Nusalaut), Banda Neira (Maluku Tengah),
Saumlaki, Tanimbar, Kep. Kei (Maluku Tenggara). (Sumber : FKKI, YSWM, FKKM
Yogyakarta)
- Kelompok Islam memprovokasi aparat keamanan untuk melakukan aksi
represif terhadap warga Kristen dan menyerang di bawah lindungan aparat
keamanan (Kerusuhan Gudangarang, 23/1/99; Jalan OSM-Mardika, 28/1/99.
Sumber
: FKKM
Yogyakarta, TPG, FKKI, YSWM
- Kelompok Islam menggunakan mobil-mobil pemerintah untuk mengangkut massa
dan senjata tajam, serta melakukan penculikan. (Sumber : FKKI dari berbagai
sumber)
- Jumlah pengungsi dan korban terus meningkat di dua belah
pihak (Sumber : Republika, Minggu 4/4/99)
- Kehadiran Mayjend. Suaidy Marasabessy di Kailolo beberapa hari sebelum
desa Kariu (di Pulau Haruku) dibumihanguskan)
- Lima negeri adat Kristen dibumihanguskan (Hila, 20/1/99; Kariu, 14/2/99;
Negeri Lama, 20/1/99; Waiheru; Hunuth, 20/1/99). Tidak ada negeri adat
Islam
yang hancur. (Sumber : FKKI dari berbagai sumber)

FASE : PRA KERUSUHAN II

Waktu : PERTENGAHAN MARET S.D. APRIL
Peristiwa :
- Aksi kekerasan bergeser dari Maluku Tengah ke Maluku Tenggara (Kep. Kei
– 25/4/99, Saumlaki,
Tanimbar). (Sumber : FKKI dari berbagai sumber)
- Upaya pemerintah tidak jelas dalam menghentikan kekerasan dan gagal
menguasai keadaan (Sumber :Republika, 13/3/99)

Waktu : 15 MEI
Peristiwa :
- Aksi kekerasan dan penembakan membabi buta di depan kantor KODAM,
Batu Gajah, terhadap warga Kristen yang melakukan aksi damai memprotes
penembakan aparat keamanan terhadap warga Kristendi perbatasan Batu
Merah-Mardika. (Sumber : YSWM, dalam Perayaan Hari Pattimura Berdarah)

Waktu : 22 MEI - 7 JULI '99
Peristiwa :
- Hasil Pemilu mengecewakan kelompok Islam di Kodya Ambon (Sumber : FKKM
Yogyakarta)
- Sebelum kerusuhan kedua meletus, Kelompok Islam melakukan
ceramah-ceramah dan khotbah-khotbah provokatif di mesjid-mesjid di
Ambon.(Sumber : FKKI dari berbagai sumber)
- Isu penyerangan dari Kelompok Islam kepada Kelompok Kristen membuat
ketegangan (Peristiwa Waab Kristen, 20/6/99) (Sumber : FKKI dari berbagai
sumber)

FASE : KERUSUHAN II

Waktu : MULAI  9 JULI'99
Peristiwa :
- Penyerangan dan provokasi Kelompok Islam di pulau Saparua yang dibalas
dengan penyerangan oleh desa-desa
Kristen terhadap Sirisori Islam (15/7/99) (Sumber : FKKM Yogyakarta, FKKI
dari berbagai sumber)

Pematangan kondisi konflik:
- Konsentrasi massa dengan menggunakan simbol-simbol agama (Peristiwa Banda
Eli, 26-27/7/99; Kampung Timur Benteng, 27/7/99). (Sumber : FKKI dari
berbagai)sumber
- Penyerangan oleh Kelompok Islam dari jazirah Leihitu (Desa Hitu, Mamala,
Wakal) terhadap pemukiman Kristen di Poka dan Rumah Tiga.

Konflik dan Pelebaran konflik: (Sumber : FKKI dari berbagai sumber,
11/8/99)
- Isu dan teror untuk menciptakan ketegangan (di OSM Pantai warga muslim
melempari rumah warga Kristen), kecurigaan internal, perpecahan dan
memancing emosi warga Kristen (Ejekan "Yesus pencuri becak"). (Sumber : EM,
YSWM (FKKI))

- Kelompok Islam menyerang di bawah lindungan aparat keamanan (Peristiwa
di Poka, 24/7/99; Banda Eli Wainitu, 26-28/7/99; Tanah Lapang, 27/7/99;
Aster-Galala, 11/8/99; Ahuru-Sirimau, 12/8/99; Suli, 18/8/99; Batu Merah,
3/10/99, 9/10/99; Benteng Atas, 3/10/99). (Sumber : FKKI dari berbagai
sumber)
- Dalam penyerangan Kelompok Islam di Ambon terdapat warga yang
dipersenjatai dengan senjata organik dan berseragam militer (milisi).
(Sumber : YSWM)
- Terjadi perluasan aksi kekerasan Kelompok Islam di kapal-kapal penumpang
PELNI yang melalui route Ujung Pandang (KM Bukit Siguntang, 24/9/99,
18/9/99). (Sumber : FKKI dari berbagai sumber)
- Kedatangan 60 pemuda Ujung Pandang dengan Kelompok Kristen Lambelu pada
29 Juli 1999.
- Dalam berbagai kasus aparat membiarkan dan membantu massa Kelompok Islam
melakukan penyerangan. (Sumber : FKKI dari berbagai sumber)
- Meskipun Marinir cukup lugas dan represif terhadap massa Kelompok Putih
yang melakukan penyerangan, namun protes dilakukan terhadap Brimob yang
dianggap memihak Kristen.
- Aksi kekerasan kolektif dan penyerangan Kelompok Islam meluar ke Pulau
Seram (Loki, dll, 18-21/8/99).( Sumber : Station Kairatu/IRA)

Cat:
- FKKI (Forum Komunikasi Kristiani Indonesia)
- YSWM (Yayasan Salawaku Maluku)
- FKKM (Forum Kepedulian Kerusuhan Maluku)
- TPG (Tim Pengacara Gereja)

Rekomendasi :

Berdasarkan berbagai fakta di atas, maka kami menyampaikan beberapa
rekomendasi, sebagai berikut:

1. Perlu keterbukaan pemerintah mengenai fakta-fakta kerusuhan di Ambon.

2. Perlu ketegasan dari pimpinan Polri dan TNI untuk menindak pimpinan dan
anggotanya dari penyusupan politik sektarian dan dalang intelektual atau
provokator yang secara jelas dapat merusak citra TNI dan Polri di mata
masyarakat, dan menempatkan Marinir dari Surabaya yang dapat menjamin
kenetralan pendekatan keamanan.
3. Menggantikan pejabat birokrasi di daerah yang berideologi politik
sektarian dan yang telah terbukti melakukan tindakan-tindakan yang memicu
kerusuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

4. Tokoh-tokoh dari luar Ambon jangan dilibatkan dalam penyelesaian masalah
Ambon, biarlah diselesaikan sendiri oleh tokoh-tokoh adat setempat dengan
Ibu Megawati Soekarno Putri sebagai mediator.

5. Perlu dibentuk tim independen guna melakukan investigasi secara obyektif
untuk mengungkap pelaku, provokator dan aktor-aktor di balik kerusuhan
Ambon.

6. Diharapkan agar pernyataan-pernyataan tokoh-tokoh agama dan media pers
di
Jakarta tidak mengganggu proses rekonsiliasi dengan penyajian berita yang
tidak proporsional dan tendensius.

7. Untuk sementara waktu tidak memperkenankan orang-orang dari luar Maluku
Tengah berdomisili di Maluku Tengah, kecuali yang berasal dari Maluku
Tengah.

Demikian sumbang saran kami, semoga dapat membantu mencari jalan ke luar
persoalan yang terjadi di Ambon.

FPHDI (Forum Pengkajian Hak Asasi dan Demokrasi Indonesia)
======================================================

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke