PESAN SIDANG MAJELIS PEKERJA LENGKAP PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA 16-18 NOVEMBER 1999 DI KINASIH, CARINGIN-BOGOR Salam Sejahtera dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, Sidang MPL-PGI 1999 yang berlangsung pada tanggal 16-18 November 1999 di Wisma Kinasih Caringin-Bogor, dihadiri sekitar 89 peserta, dengan thema: " Carilah Tuhan Maka kamu akan Hidup" (Amos 5:6a) dan sub tema : Bersama-sama memperkukuh Persatuan, Kesatuan dan Moralitas Bangsa, Menegakkan Hukum, Keadilan dan Kebenaran, memelihara Keutuhan Ciptaan berdasarkan Kasih dalam memasuki abad ke-21" Sidang ini telah menerima masukan dari Kata Sambutan, Ceramah, Laporan MPH-PGI, Pokok-pokok pikiran Peserta dan Pesan-Pesan Firman Tuhan melalui Ibadah dan Pemahaman Alkitab (PA) di bawah tuntunan Rohul Kudus. Dengan semua masukan itu sidang MPL ini menggumuli perjalanan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan melihat tanggung jawab yang lebih besar dalam menyongsong Abad ke-21 atau MILLENIUM III yang segera kita masuki. Untuk itu kita berharap bahwa arak-arakan kita akan semakin teguh dan kukuh dengan keyakinan penyertaan Tuhan akan memampukan kita menunaikan panggilan gerejawi. Kita bersyukur atas kehadiran HKBP yang telah utuh kembali, yang bersama GKPI Siantar dan GITJ telah kembali dalam arak-arakan oikumene dan berharap bahwa dengan Sidang Raya XIII PGI di Palangka Raya Maret 2000 semua gereja-gereja anggota PGI akan secara bersama-sama melaksanakan panggilan-Nya. Kita juga bersyukur atas berhasilnya bangsa kita menyelesaikan salah satu krisis nasional yang dihadapi dengan terpilihnya pimpinan nasional kita yang baru dalam diri Presiden Bapak K.H. Abdurahman Wahid dan Wakil Presiden Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai buah reformasi yang telah bergulir. Kita berharap atas dukungan kita semua pimpinan nasional akan mampu memperbaiki keadaan dan mengembalikan harkat hidup, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosbud dan hukum/keadilan. Untuk itu kami mengajak semua warga masyarakat agar memberi kesempatan kepada pimpinan nasional menunaikan tugas konstitusionalnya. Meskipun demikian kita merasa prihatin bahwa di beberapa wilayah terjadi gejolak-gejolak yang mengarah ke disintegrasi bangsa seperti yang terjadi di Aceh, Maluku, dan Irja. Menyikapi berbagai perkembangan yang berhubungan dengan kecenderungan disintegrasi bangsa Indonesia, kami menggumuli bahwa di satu sisi perlu semua pihak menghargai kehendak masyarkat untuk menentukan nasib sendiri. Namun demikian, di sisi lain kami juga hendak mengajak saudara-saudara sebangsa di wilayah-wilayah yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya, untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan semua orang dari berbagai kesulitan yang sedang melanda negeri kita. Sebab secara obyektif kita semua juga menderita dan harus menghadapi berbagai berita kematian, kemiskinan, penganiayaan; walau kualitas dan kuantitasnya tidak sebanding dengan apa yang terjadi di Aceh, Timor-Timur dan Irian Jaya. Oleh karena itu kehendak untuk memperjuangkan kemerdekaan tersebut hendaknya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang memisahkan kitasebagai bangsa yang sama-sama menderita. Justru saatnya sekarang, di tengah era baru, kita memperjuangkan kemerdekaan bersama seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat dan seluruh wilayah. Berhubung dengan itu, kami mengajak semua pihak untuk tidak menyikapi berbagai aksi-aksi damai dengan tindak kekerasan, karena kekerasan tidak menyelesaikan masalah malah membuat luka baru di atas luka yang telah ada. Sejalan dengan itu, menyangkut berbagai tindak kekerasan dan berbagai bentukpelanggaran HAM yang terjadi di berbagai belahan wilayah RI selama ini, kami menghimbau kepada pemerintah untuk segera merealisasi kan komitmen politisnya dengan dialog langsung bersama rakyat yang menjadi korban. Kami mengajak pula semua pihak untuk menghormati apapun hasil dialog tersebut. Dalam rangka penyelesaian menyeluruh, sudah saatnya pula dibentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi serta peradilan khusus HAM untuk mengadili para pelanggar HAM di Timor-Timur, Aceh dan Irian. Dalam pada itu kita juga mensyukuri kenyataan kemajemukan kehidupan bangsadan masyarakat kita. Lita wajib menerima, menghayati dan melestarikan kenyataan tersebut dalam rangka kesatuan dan persatuan bangsa. Untuk itu, dengan ini kami mengajak semua warga Gereja, masyarakat dan pemerintah untuk lebih menghargai perbedaan-perbedaan yang ada dengan semangat kebersamaan serta berupaya menghentikan tindakan-tindakan yang menyalahgunakan SARA untuk kepentingan sesaat. Kita wajib mengembangkan kehidupan yang mengarah kepada penghormatan atas sesama sebagai ciptaan Tuhan. (Matius 22:37-42) Didalam keprihatinan atas terjadinya arus pengungsi seperti yang terjadi di Timor Timur, Maluku, Aceh, Kalbar, dan Sulut, kita juga merasakan kepahitan kehidupan yang mereka derita. Untuk itu marilah kita memberikan bantuan kemanusiaan sejalan dengan panggilan iman kristiani kita. Disamping itu tak dapat dipungkiri bahwa dibeberapa wilayah Tanah Air kita masih melihat banyak saudara-saudara kita yang mengalami ketertinggalan dalam semua bidang kehidupan. Hal tersebut perlu ditanggulangi dangan memegang asas pemerataan pembangunan dalam satu negara kesatuan, sehingga mereka juga dapat menikmati hasil-hasil pembangunan sama dengan saudaranya di daerah lain. Berhubung dengan maraknya pemakaian narkoba akhir-akhir ini, kami menyerukan kepada generasi muda dan semua orang yang berkehendak baik untuk menahan diri dari pemakaian, pengedaran dan menjualnya. Kepada pemerintah kami mengusulkan agar menghukum seberat-beratnya para pengedar dan pelindung pengedar narkoba tersebut. Serentak dengan itu kami mengajak segenap lapisan masyarakat untuk dengan sungguh-sungguh memerangi judi, meningkatkan gizi dan pendidikan anak-anak demi menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik. Kini kita sedang mempersiapkan diri untuk penyelenggaraan Sidang Raya XIII PGI di Palangkaraya tanggal 24-31 Maret 2000, oleh karenanya kami mengajak semua gereja dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri dan mendukung secara optimal agar pelaksanaan Pertemuan Raya Pemuda Gereja dan Pertemuan Raya Wanita Gereja serta Pesta Iman Sidang Raya XIII PGI tersebut dapat berlangsung dan bermanfaat bagi kehidupan gereja dan bangsa Indonesia. Dalam Sidang Raya itu gereja di Indonesia akan memantapkan visi keesaan dan tekad untuk menjemaatkan dan menggerejakan Lima Dokumen Keesaan Gereja. (LDKG). Ini semua adalah untuk mewujudkan GKYE (Gereja Kristen Yang Esa) yang harus mengakar di jemaat-jemaat lokal dan diharapkan dapat memampukan gereja-gereja untuk menjawab tantangan globalisasi. Pada akhirnya kita sebagai gereja yang adalah tanda Kerajaan Allah, perlu tetap berdiri teguh, tidak goyah dan giat selalu dalam pekerjaan Tuhan, sebab kita tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia. (I Korintus 15:58). Damai Tuhan kiranya meliputi umat Islam dalam bulan Puasa dan umat Kristen dalam menyongsong Natal. Kinasih, Caringin-Bogor 18 November 1999 Pdt. Dr. Soelarso Sopater Ketua Umum Pdt. Dr. J.M Pattiasina Sekretaris Umum "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
