****************************
TANTUI RUSUH LAGI

Kerusuhan yang terjadi di Ambon (Maluku) sepertinya tidak akan pernah
kunjung selesai. Aparat keamanan yang didatangkan ke daerah ini untuk
menghentikan pertikaian, ternyata ikut "memeriahkan" kerusuhan yang
sementara terjadi.

Bahkan dalam beberapa hari terakhir ini kerusuhan yang terjadi di Ambon
pada daerah-daerah seperti Waiheru, Nania, Perigi Lima, dan Tantui justru
terjadi tidak jauh dari instansi militer.
Sejak Selasa sore, tanggal 23 Agustus 1999, sekitar jam 17.00 WIT keadaan
kota Ambon kembali menjadi tegang, sebagai akibat dari aksi pelemparan bom
rakitan dan granat tangan yang berlangsung sampai dengan jam 23.40 WIT di
daerah Tantui, Kecamatan Sirimau Kotamadya Ambon.

Menurut laporan Tim Investigasi kami yang berada di lokasi kejadian, aksi
pelemparan bom dan granat ini dilakukan terhadap pemukiman warga Kristen di
sekitar Kampung Jawa, oleh massa Muslim yang terkonstrasi di kawasan
Galunggung dan Batu Merah Atas.

Salah seorang saksi mata, ANER LEUNUFNA dalam keterangannya kepada Tim
Investigasi kami menyebutkan bahwa, massa Muslim dari kedua lokasi tersebut
telah terkonsentrasi di sekitar Kampung Jawa sejak sore hari. Namun sangat
disayangkan bahwa konsentrasi massa dalam jumah yang besar itu (+ 300 - 500
orang) sama sekali tidak dihalau oleh aparat keamanan (Armed 11 dan Yonif
733/BS) yang bertugas di lokasi tersebut.

Pada jam 18.00 WIT, salah seorang warga jemaat Efrata Tantui, Edy Leasa,
yang bermaksud mengecek ke lokasi kejadian (sekitar 200 - 400 m dari
rumahnya), tiba-tiba "dibawa" oleh seorang oknum aparat keamanan yang
berasal dari kesatuan Yonif 733/BS. Sampai informasi ini kami terima dari
Tim Investigasi pada pk. 23.45 WIT, Edy Leasa belum juga kembali ke
rumahnya. Sementara itu sejak pk 23.45 WIT massa Muslim mulai melakukan
penyerangan terhadap perumahan warga Kristen di kampung Jawa. Penyerangan
tersebut diawali dengan ledakan puluhan granat tangan, yang diselingi
dengan rentetan tembakan senjata organik maupun rakitan. Bahkan berdasarkan
hasil pantauan kami, setiap 1 menit, 2 granat tangan diledakkan.

Sejak pk.00.05 WIT Rabu dini hari, terdengar bunyi rentetan tembakan
senjata organik yang terus berlangsung dalam interval waktu yang cukup
lama. Diduga kuat telah terjadi kontak sejata antar aparat di kedua belah
pihak yang berbeda. Salah seorang saksi mata menyebutkan bahwa ada bunyi
tembakan yang berasal dari senjata SS1 dan ada bunyi tembakan yang diduga
dari senjata jenis AK.

Rentetan tembakan dan ledakan granat sempat terhenti sekitar lima menit
pada pk. 00.30 WIT. Namun setelah itu terdengar lagi bunyi ledakan granat
yang kemudian disusul dengan tembakan beruntun dari aparat keamanan. Peluru
dari tembakan aparat keamanan pada lokasi pertikaian sampai mengenai
jembatan Waiheru - Galala dan rumah-rumah penduduk setempat.

Berdasarkan hasil laporan sementara yang dapat kami terima dari Tim
Investigasi kami yang berada di lokasi kejadian bahwa akibat insiden ini
seorang warga bernama Yerry Labetubun mengalami luka pada bagian perut
akibat serpihan granat. Sementara itu sebuah SD di sekitar perumahan Polri
Tantui  dibakar massa perusuh beserta puluhan rumah warga Kristen lainnya.
Sampai dengan pk. 03.25 WIT, pertikaian antar kedua kubu masih berlangsung.
Sementara itu dilaporkan bahwa telah terjadi pengeboman, penembakan dan
pelemparan bola api (bola tenis yang diisi bensin) di sekitar Markas Polisi
Resort (Mapolres) P.Ambon dan P.P Lease yang berlangsung sejak hari Senin
malam hingga Selasa dini hari (23/11). Insiden ini diduga kuat ditujukan ke
rumah sdri. Merry Rikumahu (saksi mata yang melihat Ketua MUI Maluku,
H.R.R. Hasanussy membawa massa dari Ujung Pandang dengan KM.Lambelu, Juli
yang lalu). Hal ini cukup beralasan karena sasaran utama dari insiden ini
adalah rumah milik keluarga Merry Rikumahu.
Sementara itu dalam keterangannya kepada Tim Investigasi kami, Merry
Rikumahu menyebutkan bahwa lemparan bola api mulai berjatuhan di atap
rumahnya pada pk. 01.00 WIT. Lima belas menit kemudian bom berjatuhan
disertai tembakan beruntun yang diarahkan ke rumahnya dari seberang sungai,
kawasan Tanah Lapang Kecil.
Malah Merry menyaksikan sendiri, ada oknum aparat keamanan (Armed 11) turut
melepaskan tembakan ke arah rumahnya. Salah seorang yang ia kenali adalah
Mulyadi, komandan regu yang bertugas di lokasi tersebut. Merry juga
mendengar teriakan dari massa di seberang sungai, di antarnya berbunyi:
"bakar rumah dia. Dia yang lapor ketua MUI."
Kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya, melainkan sudah sering
kali terjadi. Sebagai bukti, Merry mengatakan di atas atap rumahnya
didapati 24 bekas bola tenis terbakar.

Kapolres P.Ambon dan P.P. Lease, Letkol (Pol) Gufron yang datang ke lokasi
kejadian yang tak jauh dari rumahnya sempat bersitegang dengan aparat dari
Armed soal lemparan bom dan bola api tersebut. Menurut Armed, lemparan
berasal dari Batu Gantung sementara Kapolres bersikeras bahwa lemparan
berasal tidak jauh dari lokasi kejadian (rumah Merry).

Sementara itu dari desa Poka dilaporkan ketegangan kembali melanda kawasan
tersebut setelah pada hari Selasa, 23 November 1999 sekitar pk. 20.00 WIT,
6 truk menurunkan massa Muslim yang berasal dari Jazirah Leihitu di PLN
Poka dan sekitarnya.

YAYASAN SALA WAKU

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke