Mundurnya Hamzah Haz, Berakhirnya Bulan Madu? ------------------------------ Setelah sekitar tiga minggu terjadi tarik-ulur antara jadi tidaknya Hamzah Haz mundur dari jabatannya sebagai Menko Kesra dan Taskin, akhirnya Presiden Gus Dur memberi 'jawaban' dengan menyatakan "menerima permohonan mundur Hamzah Haz" dan segera menunjuk penggantinya pada Jumat 26 November yll. Pernyataan 'menerima permohonan mundur' ini menjadi agak aneh, karena Hamzah Haz mengaku belum mengajukan permohonan secara tertulis. Selain itu beberapa hari sebelumnya Hamzah Haz sudah meralat pernyataannya, tidak jadi mundur dari jabatannya. Tindakan Presiden Gus Dur (mengganti menterinya) tidaklah melanggar konstitusi. Namun dilihat dari sisi kepatutan dan etika berpolitik, jelas tindakan ini tidaklah pantas. Apalagi hal ini dilakukan di awal-awal terbentuknya kabinet (kabinet baru berusia 7 minggu) dan ditengah tajamnya sorotan masyarakat terhadap kinerja Kabinet Persatuan Nasional. Namun bila kita menelusuri sejarah terbentuknya kabinet (yang penuh kontroversial ini), maka nampaknya Gus Dur ingin mengakhiri 'pengaruh' Poros Tengah (PT). Kabinet yang dibentuk atas dasar kompromi-kompromi politik ini memang nampak didominasi oleh orang-orang PT. Sebut saja Hamzah Haz, Zarkasih Nur, Yusril Ihza Mahendra, Nur Mahmudi Isma'il, Hasballah M. Saad, Al Hilal Hamdi, dan Bambang Sudibyo adalah orang-orang dari partai PT yang 'dititipkan' ke dalam kabinet Gus Dur, dan Gus Dur menerimanya (nampaknya) sebagai 'balas jasa' karena sudah membantu meraih kursi presiden. Namun dalam beberapa kesempatan, Presiden Gus Dur menunjukkan 'sikap keterpaksaan' nya menampung orang-orang tersebut. Berkali-kali ia menekankan bahwa kabinet yang 'gemuk' ini adalah hasil kompromi politik, demi mengakomodasi semua kekuatan dan kepentingan. Akan tetapi hal ini tidak berarti Gus Dur selamanya mau 'ditekan' dan diatur oleh pihak lain. Terbukti dengan keputusannya untuk 'melancong' ke negara-negara ASEAN dan beberapa negara lain di awal jabatannya, sementara kritik masyarakat begitu deras (termasuk dari Ketua MPR dan DPR) terhadap sikapnya yang 'masa bodoh' terhadap krisis dalam negeri. Begitu juga kebijakannya untuk membuka hubungan dagang dengan Israel yang segera menimbulkan gelombang demo besar-besaran dari berbagai kelompok dan kritik dari pemuka agama Islam. Adalah seorang Hamzah Haz yang mencoba 'bermain dan menekan' Gus Dur dengan pernyataan akan mengundurkan diri karena tidak sepaham dengan Presiden sehubungan dengan rencana membuka hubungan dagang dengan Israel. Mungkin Hamzah sedang mencobai Gus Dur atau ia mengira Gus Dur masih bisa ditekan dan diatur. Dan Hamzah salah besar. Kali ini Gus Dur, yang dari awal memang tidak begitu 'nyaman' dengan tekanan kelompok PT, benar-benar memanfaatkan wewenangnya sebagai Presiden: "menerima permohonan (lisan) mundur Hamzah Haz." Dengan 'kasus perdana' ini, Gus Dur seakan-akan ingin mengatakan bahwa "masa bulan madu dengan para pendukungnya sudah selesai." Tidak ada lagi kompromi dan jangan coba-coba menekan. Ini menjadi pelajaran dan pukulan telak bagi PPP dan kelompok PT. (Lpd) +++++++++++ "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
