**************************** Rumah Tiga Diserang, Dosen Unpatti Tewas ------------------------------------------------------ Kamis 25 November kemarin terjadi lagi kerusuhan bernuansa SARA di beberapa tempat di Ambon. Pk. 12.17 WIT massa Muslim dari Kota Djawa (desa tetangga Rumah Tiga) mencoba menyerang pemukiman warga Kristen di Kelapa Tiga. Insiden ini bermula dari pelemparan terhadap mobil polisi oleh massa Muslim di Kota Djawa, yang mengakibatkan kaca depan pecah dan mengenai pengemudinya. Aparat keamanan yang bertugas di lokasi kejadian segera melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa yang terus mencoba menghadang mobil tersebut. Tim Investigasi Salawaku yang memantau langsung di lokasi kejadian melaporkan bahwa massa Muslim yang sebelumnya terkonsentrasi di Mesjid Kota Djawa dan Perumahan Pertamina, mulai bergerak menerobos barikade aparat yang dijaga oleh aparat dari kesatuan Kostrad 411 Bhala Dhika. Aparat kemudian melepaskan tembakan peringatan. Bunyi tembakan inilah yang mengundang perhatian massa dari Rumah Tiga dan sekitarnya, dan berkumpul sekitar Diklat Ambon dan Politeknik Unpatti. Untuk mencegah gerak maju massa Rumah Tiga, aparat memasang barikade di depan Politeknik. Sekitar pk.12.30 WIT, massa Kota Djawa mencoba menerobos barikade aparat. Meski beberapa aparat telah melepas tembakan peringatan namun, menurut saksi mata Mesakh Limba, massa Muslim tetap bergerak maju dan melewati barikade, menuju rumah kel.Leatemia. Melihat massa penyerang dibiarkan melewati barikade, massa di Politeknik melepaskan tembakan ke arah penyerang. Namun tembakan tersebut dibalas oleh aparat yang berjaga di Kota Djawa. Kejadian ini memancing emosi massa sehingga akhirnya mereka melepari penyerang dengan bom rakitan. Akibatnya satu orang aparat terluka di bagian perut akibat terkena pecahan bom. Hal ini dibenarkan oleh Lettu. Wahyu L., yang menerima kabar bahwa salah seorang anak buahnya terluka dalam insiden ini. Namun ia tidak bersedia memberi keterangan lebih lanjut. Keadaan mulai berangsur tenang setelah aparat Marinir tiba pk. 13.30 WIT dan melakukan pendekatan persuasif terhadap massa Kristen untuk membubarkan diri. Marinir juga memberi jaminan akan bertindak tegas terhadap massa Kota Djawa yang melewati barikade aparat. Pk. 14.00 WIT keadaan sudah kembali tenang walaupun di beberapa tempat masih terlihat kelompok-kelompok kecil masyarakat yang berjaga-jaga. Sementara itu, menurut saksi mata Feky Pelmelay, pada saat yang sama warga Kristen di pantai Poka menembaki sebuah speedboat yang diketahui beberapa kali mengangkut massa Jazirah Leihitu dari Poka ke Kota Djawa. Tembakan tersebut dibalas oleh aparat keamanan dari Den-Zipur 5 yang mengawal speedboat tersebut. Speedboat tersebut terlihat menurunkan massa di Kompleks Den Zipur 5, sebelum akhirnya menuju ke Batu Merah. 15 menit kemudian, sekitar pk.14.30 WIT, terjadi kejar mengejar antara speedboat dari pelabuhan Rumah Tiga dengan speedboat dari Poka. Aksi kejar mengejar ini berlanjut sampai di daerah Tantui dan baru berhenti ketika ada tembakan dari arah pos asrama Brimob Tantui. Aksi saling kejar ini berbuntut panjang ketika terjadi lagi aksi kejar-kejaran antara speedboat dari Wayame dan Kota Djawa terhadap speedboat warga Kristen dari Galala, Rumah Tiga dan Benteng. Akibatnya jalur transportasi di teluk Baguala macet total. Aksi ini baru berhenti ketika regu patroli pantai Den Zipur 5 dan Satpol Air Polda Maluku datang. Namun sekitar pk. 17.30 WIT, warga Rumah Tiga kembali dikejutkan oleh serangan dari 200 - 350 orang massa Muslim yang berasal dari Taenu, Keranjang, Air Ali dan Telaga Pange. Serangan datang dari dua arah, yaitu dari gunung di belakang Politeknik Unpatti dan dari belakang Gereja Fajar Hidup Rumah Tiga. Serangan mendadak ini didahului dengan pelemparan puluhan bom rakitan dan tembakan senjata organik serta senjata rakitan. Akibatnya jatuh korban jiwa atas nama Bp. Drs. Wem Titioka, seorang dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unpatti, yang ginjal kirinya tertembus peluru. Menurut warga yang bersama korban, ketika tertembak korban sedang berusaha menghalau massa yang datang dari belakang Politeknik. Saksi mata juga melihat beberapa penyerang menggunakan senjata organik. Bahkan salah seorang aparat keamanan dari Kostrad 411 yang ikut menghalau penyerang mengatakan bahwa dari bunyi tembakan dan ledakannya diduga kuat para penyerang menggunakan senjata organik sejenis SS1 dan granat standard TNI. Kesaksian yang sama diberikan oleh Rico Wemay dan Coken Mataheru yang melihat penyerang membawa senjata organik seperti yang digunakan aparat keamanan ketika terjadi bentrok fisik di belakang gereja Fajar Hidup. Keadaan berangsur tenang pada sekitar pk.18.30 WIT ketika para penyerang mundur dari lokasi kejadian. Namun situasi tetap tegang sampai pagi ini (Jumat 26 November). Sementara itu sejak pk.03.30 WIT dini hari sampai Jumat pagi pk.07.30 WIT, massa Muslim Kota Djawa kembali melempari pemukiman Kristen Kelapa Tiga dengan bom. Akibat insiden hari Kamis kemarin tercatat korban dan kerugian sbb: *Meninggal : 1 orang (Wem Titioka) *Luka-luka : 6 orang *Rumah rusak: 3 buah *Speedboat rusak ringan: 1 buah Sumber: Yayasan Salawaku "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
