************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** *Potongan berita dari Jawa Pos tentang kerushan Ambon Kerusuhan Tak Terkendali, 38 Tewas ================================ (alinea 4, 5, 6, 7, hal 1) Suasanan kota semakin mencekam. Pembakaran rumah penduduk maupun pertokoan semakin menjadi-jadi dan meluas ke daerah-daerah lainnya. Pertokoan maupun permukiman yang terbakar, antara lain di Jl. AM Sangadji, Anthoni Rebok, Said Perintah, Sedap Malam, dan Jalan Philip Latumahina. Massa tanpa pandang bulu dengan beringas melakukan pembakaran. Aparat keamanan yang terlihat tidak berdaya hanya berdiri tanpa bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, mobil pemadam kebakaran juga tidak berfungsi. Situasi kota berubah menjadi medan perang, itu pun tidak dapat dikendalikan karena aparat keamanan yang bertugas terkesan berpihak kepada kelompok tertentu. Yang memperihatinkan lagi, para penembak gelap semakin merajalela di mana-mana. Mereka yang diduga dari unsur aparat ini menembak warga sipil dari atas gedung bertingkat, seperti terjadi di kawasan Setia Budi dan Anthoni Rebok. Situasi Ambon ini sudah sama dengan situasi di Sarajevo, Yugoslavia. (alinea 10, hal 1) Gereja Terbakar Sementara itu, jemaat Silo menyesalkan terbakarnya Gereja Silo di kawasan Tugu Trikora sekitar pk. 21.45 hingga pk.02.00 Senin dini hari kemarin. (alinea 2 dan 3, hal 7) Menurut seorang jemaat, longgarnya pengamanan sudah terlihat saat sekelompok massa sudah terkonsentrasi di Jl.AM Sangadji. Sesaat kemudian beberapa di antaranya sudah merangsek masuk mendekati pintu gereja sambil membawa parang dan bom molotov. Beberapa aparat dari Marinir memang sempat mencegatnya tapi mereka tidak mengambil tindakan tegas dengan menahannya malah melepaskannya. Ini membuat massa kelompok lain menjadi marah dan emosional. (alinea 7 dan 8) Saksi mata yang diwawancarai JPNN menyatakan, ketika kawasan gereja Silo dihujani sedikitnya 40-an ledakan bom rakitan dan di duga di antaranya berupa granat tangan, aparat ternyata diam saja. Akibatnya mereka dapat melakukan aksi dengan lebih leluasa. Aparat juga dinilai salah dalam melakukan pengamanan. Sebab panser yang disiagakan ternyata depannya (moncong meriam) tidak diarahkan ke arah penyerang, malah disiagakan ke arah kelompok massa yang bertahan, termasuk menyorot massa dengan lampu sorot. "Percuma aparat banyak, tetapi tidak menghalau massa penyerang. Nanti kalau massa yang hendak bertahan sudah berdatangan dan hendak mempertahankan diri, baru aparat bertindak tegas. Omong kosong. Aparat macam apa itu?," kesal beberapa warga Trikora. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
