''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''' SARI BERITA : Jumat, 14 Januari 2000 ==================================== @ Konflik Berlarut Akibat Friksi di TNI Menguat @ Galela Diisolasi'Bantuan belum bisa Tersalur' @ Glenn Yusuf Diganti karena Lamban @ Gus Dur Gusur Sudrajat Diganti oleh Marsda Graito @ Gus Dur: Korban Galela hanya Lima @ Amien Rais Peringatkan Pembisik Presiden @ Gus Dur Tunggu Laporan Akurat @ Feisal Tanjung: Tak Pernah Lihat Dokumen Garnadi ---------- Luar Negeri ------------------- ** PBB Masih Perpanjang Sanksi Irak ** Malaysia Sapu Pembangkang --------------------------------------------- S E L A M A T M E M B A C A ''''''''''''''''''''''''''''''''''''' Konflik Berlarut Akibat Friksi di TNI Menguat -------------------------------------------------------- Jakarta, Kompas Berbagai peristiwa kerusuhan dan konflik antarmasyarakat yang cenderung berlarut-larut secara langsung atau tidak langsung merupakan akibat semakin menguatnya friksi-friksi dalam tubuh TNI. Sehubungan itu, "pembersihan" dalam tubuh TNI perlu dilakukan. Akan tetapi "pembersihan" yang didasarkan pada loyalitas perorangan tidak banyak manfaatnya tanpa disertai upaya menjadikan TNI sebagai tentara profesional yang tidak ikut bermain politik. Demikian dikemukakan pengamat politik Dr Hermawan Sulistyo dan Dr J Kristiadi kepada Kompas di Jakarta, Kamis (13/1). Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/0001/14/UTAMA/konf01.htm Galela Diisolasi'Bantuan belum bisa Tersalur' ------------------------------------------------------- TERNATE -- Galela seakan menghilang karena diisolasi. Menurut Ketua Tim Penanggulangan dan Rehabilitasi Pengungsi Korban Kerusuhan Massa Halmahera Utara (Togamo) Husein Alham, Kamis (13/1), menghilangnya Galela karena dalam tiga hari ini hubungan dari dan ke wilayah Muslim itu terputus. ''Kami hingga saat ini belum tahu nasib mereka yang masih ada di sana,'' kata Husein. ''Soalnya, Galela terisolasi bukan hanya karena matinya saluran telepon ke kawasan di Halmahera Utara itu, tapi juga karena tak berfungsinya transportasi laut,'' ujarnya. Selengkapnya: http://www.republika.co.id/2001/14/14828.htm Glenn Yusuf Diganti karena Lamban ------------------------------------------- JAKARTA - Tampil cerah dan murah senyum, namun Glenn MS Yusuf tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Bukan karena dia dicopot dari jabatan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan digantikan oleh wakilnya, Cacuk Sudarijanto, melainkan karena ia merasakan dukungan Pemerintah terhadap BPPN saat dipimpinnya sangat minim. Mengenakan batik sutra cokelat hitam, yang dilapisi kaus dalam putih sebatas leher, mantan Presdir BUMN Danareksa ini menuturkan, selama ini Pemerintah Gus Dur memang tidak mengintervensi BPPN secara politis. "Tetapi saya rasa kalau pressure point ada. Saya rasa itu yang paling utama. Tetapi Pak Cacuk sepertinya mendapat dukungan penuh dari Gus Dur,'' ujarnya. Selengkapnya: http://suaramerdeka.com/harian/0001/14/nas2.htm Gus Dur Gusur Sudrajat Diganti oleh Marsda Graito -------------------------------------------------------------- JAKARTA - "Perseteruan'' Presiden Abdurrahman Wahid dan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal TNI Sudrajat, ternyata diakhiri dengan tindakan Gus Dur menggusur Sudradjat dari jabatannya. Presiden KH Abdurrahman Wahid mengumumkan penggantian Sudrajat oleh Marsekal Muda TNI Graito itu dalam acara halalbihalal dengan wartawan di Bina Graha kemarin. Di samping itu, diumumkan pula Marsekal Muda Ian Santoso Perdanakusumah sebagai Kepala Bais (Badan Intelijen Strategis) menggantikan Mayjen Tyasno Sudarto yang telah diangkat menjadi KSAD. Selengkapnya: http://suaramerdeka.com/harian/0001/14/nas1.htm Konflik Maluku mulai Reda, Gus Dur: Korban Galela hanya Lima --------------------------------------------------------------------------- - JAKARTA -- Pantaslah kalau pemerintah, khususnya Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), terkesan tidak menganggap terlalu serius kerusuhan di Maluku Tengah dan Maluku Utara. Sebab, menurut laporan yang sampai kepadanya, korban kerusuhan di sana hanya lima orang. ''Untuk yang di Maluku kita sedang menunggu laporan karena tidak seluruhnya benar. Contohnya, di Maluku Tengah, di Pantai Galela itu, beritanya ngeri banget. Saya tanya ke sana lima orang. Nah, ini kan susah, yang mana yang betul, berita yang diterima pers atau laporan kepada saya. Nah, ini memerlukan waktu berhari-hari untuk tahu,'' ujar Gus Dur dalam halal bil halal dengan wartawan di Bina Graha, Jakarta, Kamis. Selengkapnya: http://www.republika.co.id/2001/14/14831.htm Amien Rais Peringatkan Pembisik Presiden Dongkel Gus Dur, Konstitusi Amburadul ------------------------------------------------ JAKARTA-Ketua MPR Prof Dr M. Amien Rais akhirnya berbicara soal keterlibatannya dalam Aksi Sejuta Umat di Silang Monas, 7 Januari lalu. Dia membantah dugaan bahwa aksi tersebut bermaksud untuk menggulingkan KH Abdurrahman Wahid dari kursi kepresidenan. Tokoh poros tengah ini justru menjamin dirinya akan menjadi orang pertama yang akan mempertahankan Gus Dur untuk menjadi presiden sampai 2004. Dia berjanji akan menghubungi presiden untuk mengingatkan Gus Dur agar jangan mau diadu dengan dirinya, maupun sebaliknya. Aksi Sejuta Umat di Monas dan kehadiran Amien memang menimbulkan reaksi beragam. Gus Dur sendiri berang karena aksi tersebut dan menyebutnya sebagai cari-cari penyakit. Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi juga mengingatkan, jika Gus Dur diganti, prahara besar bangsa ini mengintai. Selengkapnya: http://www.jawapos.co.id/ Gus Dur Tunggu Laporan Akurat -------------------------------------- Jakarta. Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengemukakan, ia masih menantikan laporan yang akurat dari Maluku, bukan yang simpang siur, dan meminta pers untuk tidak mengompori suasana kerusuhan. "Di Maluku kita sedang menunggu laporan. Karena tidak seluruhnya (laporan yang masuk-red) benar. Contohnya di pantai Galela, Maluku Tengah, beritanya ngeri banget, saya tanya ke sana korbannya lima orang. Nah ini kan susah. Mana yang betul, berita yang diterima pers atau laporan pada saya," kata Kepala Negara dalam Halal Bil Halal dengan wartawan di Bina Graha, Jakarta, Kamis. Selengkapnya: http://www.jawapos.co.id/ Feisal Tanjung: Tak Pernah Lihat Dokumen Garnadi ------------------------------------------------------------ Jakarta, Kompas Mantan Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal (Purn) Feisal Tanjung menyatakan tidak mengetahui dan tidak pernah melihat dokumen yang disebut-sebut sebagai "dokumen Garnadi". "Saya tidak tahu ada dokumen Garnadi. Saya tidak pernah melihat. Saya tidak perlu membaca itu," kata Feisal kepada pers usai dimintai keterangan oleh Komisi Penyelidik Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Timor Timur, di Jakarta, Kamis (13/1). Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/0001/14/utama/tak01.htm ---------- Luar Negeri ----------------- PBB Masih Perpanjang Sanksi Irak -------------------------------------------- NEW YORK - PBB masih saja memperpanjang sanksi atas Irak dan melakukan pemeriksaan senjata pemusnah massal, kendati kini dengan nama lembaga baru. Namun, Sekjen PBB Kofi Annan menghadapi sejumlah kesulitan berkaitan dengan penunjukan ketua Unmovic (UN Monitoring, Verification and Inspection Commission) sebagai pengganti Komisi Khusus Pemeriksa Senjata (Unscom) di Irak. Annan mendapat mandat dari Dewan Keamanan PBB untuk mengumumkan penunjukan itu Jumat ini, atau sekitar sebulan setelah badan PBB itu membentuk Komisi Pengawasan, Verifikasi dan Pemeriksaan PBB (yang diharapkan dapat menghidupkan kembali pemeriksaan senjata di Irak. Misi Unscom belakangan ini menghadapi jalan buntu dan terhenti. Selengkapnya: http://suaramerdeka.com/harian/0001/14/int2.htm Malaysia Sapu Pembangkang ---------------------------------- Kuala Lumpur, Kamis Secara mendadak, polisi Malaysia hari Rabu (12/1) menciduk sejumlah orang yang bersuara vokal mengritik PM Mahathir Mohamad, menahan seorang redaktur senior, seorang pemimpin oposisi, serta seorang pengacara yang mantan deputi PM Anwar Ibrahim yang kini terpenjara. Polisi beraksi pada hari PM Mahathir bertolak untuk kunjungan liburan ke Argentina selama dua pekan. Pengacara, redaktur serta penerbit tabloid oposisi Harakah diseret ke meja hijau dan mulai disidangkan Jumat (14/1) ini dengan tuduhan tindak pembangkangan terhadap pemerintah, sementara seorang pemimpin senior partai oposisi, Parti Keadilan Nasional, dengan tu-duhan melakukan provokasi pertentangan rasial. Selengkapnya: http://kompas.com/kompas-cetak/0001/14/LN/mala16.htm "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
