**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

PENYULUT KERUSUHAN DI MALUKU UTARA
BUKAN WARGA SETEMPAT
----------------------------------

JAKARTA, (SiaR, 13/1/2000). Para pelaku atau penyulut kerusuhan di beberapa
kawasan di Maluku Utara bukanlah warga setempat. Hal ini ditegaskan oleh
para tokoh agama, dan warga pengungsi, awal pekan ini. Ketua Sinode Gereja
Masehi Injil di Halmahera (GMIH) Pendeta AN Aesh menegaskan hal itu kepada
SiaR, Selasa (11/1) kemarin. Menurut dia, pelaku pembantaian dan penyerbuan
mesjid di Tobelo, dan Galela, Halmahera Utara, merupakan orang-orang yang
berasal dari luar daerah itu, dan ditengarai sebagai "pasukan sipil"
bayaran.

"Kami, gereja, punya bukti-bukti otentik, bahwa pelaku penyerbuan itu bukan
warga jemaat yang kami kenal. Kami juga heran, kelihatannya, para penyerbu
itu begitu profesional dan terlatih dalam melakukan aksi-aksinya," katanya
seraya menyatakan keheranannya, karena sampai sepekan sebelum terjadi
kerusuhan, kedua umat beragama yang saling bertetangga masih hidup rukun
berdampingan. Pendeta Aesh menuturkan, bahkan sehari sebelum kejadian,
warga yang berbeda agama di Halmahera masih saling bersilaturahmi antar
mereka, saling mengucapkan selamat Idul Fitri dan Natal. "Yang Kristen
datang ke tetangga yang muslim, begitu pula sebaliknya saat Hari Raya
Natal," katanya.

Menurut Pendeta Aesh, di Halmahera, ada keluarga Kristen dan Islam yang
bersaudara, karena kakek-kakeknya bersaudara kandung. "Mereka
sedarah-daging tiga generasi ke atas. Jadi mengapa itu terjadi," ujarnya
heran. Sementara itu, kesaksian Nus, seorang pengungsi asal Ternate yang
baru saja datang dari Manado, menuturkan, ia membawa keluarga serta
anak-anaknya mengungsi ke Jakarta setelah seluruh isi rumahnya dibakar oleh
para penyerang yang tak dikenal benar wajahnya sebagai penduduk kota
tersebut.

"Ternate kota kecil. Kami hafal wajah-wajah orang sekota, bahkan kami biasa
saling bertegur sapa dalam perjalanan ke kantor atau sekolah. Tapi yang
menyerbu rumah kami, tak kami kenal sebelumnya sebagai warga setempat,"
katanya yakin. Keluarganya menjadi trauma setelah pendeta gerejanya tewas
dibantai. Bahkan ada seorang tetangganya seorang perawat rumah sakit
bermarga Silalahi yang sedang hamil muda tewas dibantai ketika sedang
menunggu kendaraan menuju ke tempat kerjanya. "Kasihan anak-anak setiap
hari menangis ketakutan. Kami bisa lari karena bantuan aparat, itu pun
dengan memberi uang balas jasa yang tidak kecil," kata Nus yang kini
ditampung di rumah adiknya di Jakarta.

Sementara itu, Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengancam akan
mengambil tindakan tegas dan keras terhadap rencana pengiriman pasukan
jihad ke Ambon. Hal ini disampaikan Gus Dur dalam acara Halal bil Halal
dengan Yayasan Assuryaniyah Attahiriyah di Bina Graha Jakarta, Selasa
(11/1) kemarin.

Gus Dur menengarai sedikitnya ada sekitar 400 orang Islam yang berniat
berangkat ke Ambon dan Maluku Utara untuk melakukan jihad fisabilillah
dengan mempergunakan kapal laut dari Pelabuhan Tanjungpriok. Terhadap
rencana ini, Gus Dur telah meminta Kapolri dan Panglima TNI untuk melakukan
tindakan mengkarantina kapal-kapal yang masuk ke Maluku, dan merampas
senjata-senjata dan menahan pemiliknya.

"Saya tak peduli mau jihad atau mau jahit, mau apa saja pokoknya jika
mengancam keselamatan negara akan kita ambil tindakan dan kalau perlu
dilacak siapa yang menyuruh (ke Maluku)," ujar Presiden Gus Dur. Gus Dur
juga mengeritik para tokoh partai Islam yang telah memberinya ultimatum
untuk menyelesaikan kasus Maluku ketika berbicara di hadapan ribuan
pendukungnya di Monas beberapa waktu lalu. Para tohoh itu antara lain,
Amien Rais (Ketua PAN yang juga Ketua MPR-RI), Hamzah Haz (Ketua PPP, dan
mantan Menko Kesra yang dipecat Gus Dur), Ahmad Sumargono (Ketua PBB yang
juga anggota DPR-RI), serta Dr Didin Hafiuddin (Presiden Partai Keadilan).

Menurut Gus Dur, mereka yang berkumpul di Monas itu hanya 20.000-an orang,
tidak satu juta seperti klaim Amien Rais dan kawan-kawan. Gus Dur bahkan
menyebut kelompok Islam yang di Monas itu hanya kelompok kecil, karena yang
mayoritas muslim seperti muslim di PDI Perjuangan dan lain-lain justru
menghendaki persoalan yang ada diselesaikan dengan damai dan tenang.

"Mereka ingin menunjukkan kekuatan bahwa mereka sedang memaksa saya untuk
berhenti dari jabatan ini, ya ndak apa-apa," katanya. ***

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke