*************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
*************************
Salam sejahtera dalam Kasih Kristus,

Para Netters yth, berikut ini kami postingkan penuturan dari dua warga
transmigrasi di Togoliu -Halmahera.
Penuturan ini sangat penting untuk meluruskan pemberitaan media massa
beberapa hari yang lalu.
Selamat membaca.
Salam,
Eskol Net
=========

"PENUTURAN TRANSMIGRAN TOGOLIU - TOBELO (HALMAHERA)"
(Klarifikasi terhadap Pemberitaan Harian Republika
 dan klarifikasi pembenaran Kapolres Maluku Utara)
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

Pemberitaan yang TIDAK BENAR mengenai kerusuhan yang terjadi di Halmahera,
khususnya Tobelo telah menggores hati transmigran Togoliu (Halmahera).
Mereka sedih setelah adanya pemberitaan yang mengada-ada itu.

Sebagaimana diberitakan Harian Republika (17/01/2000), bahwa pejabat
kepolisian di Maluku Utara membenarkan sebanyak 216 warga transmigrasi asal
Pulau Jawa yang ditempatkan di UPT Togoliuwa, Kecamatan Tobelo, telah tewas
di masjid akibat diserang oleh massa merah (Kristen) dalam pertikaian antar
warga akhir Desember lalu di bagian utara Pulau Halmahera.  Warga Muslim
Tobelo yang tewas pada tragedi itu tercatat sementara 464 jiwa. Dari jumlah
itu, 254 kedapatan tewas di Desa Togoliuwa -- lokasi penempatan transmigran
asal Pulau Jawa -- dan terbanyak di masjid.
''Memang benar 216 jiwa warga Muslim itu tewas di (dalam dan halaman)
masjid di Desa Togoliuwa,'' kata Kapolres Maluku Utara Letkol Pol Drs Didik
Prijandono, di Ternate, Ahad (16/1) menanggapi kesimpangsiuran jumlah
korban kerusuhan.

Hal itu TIDAK MUNGKIN TERJADI di lokasi itu, sebab hubungan
sosial/kekerabatan dengan penduduk asli sudah terbina secara alami di
daerah itu. Misalnya, kalau di tempat itu tidak ada hujan, seluruh warga
masyarakat transmigran
dan suku pedalaman mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di ebuah kali
bernama kali Dudumu, tanpa ada penilaian perbedaan/kecurigaan di antara
mereka walaupun berbeda agama, budaya, asli dan pendatang. Antara suku
pedalaman dengan transmigran sering mengadakan "barter" (barang dengan
daging buruan). Mereka senang dengan kehadiran kami, demikian juga kami
terhadap mereka. Bahkan kehadiran para transmigran cukup menolong
memotivasi warga setempat khususnya dalam mengolah lahan yang sangat subur,
bertanam kacang, kedele, jagung, sayuran, dll. Betapa tenteramnya mereka
menjalankan ibadah masing-masing. Pemerintah telah menyediakan mesjid (bagi
warga Muslim) dan Kapel (bagi warga Kristen). Demikianlah penuturan Ibu
FATMAWATI (30) dan Ibu NINGSIH (33), dua orang warga transmigrasi Togoliu,
kepada Suara Peduli Halmahera (SPH).

Berita kerusuhan di daerah Transmigrasi Togoliua (daerah gabungan antara
suku Jawa, penduduk setempat, dan suku pedalaman Wangongira) TIDAK BENAR.
Di sana TIDAK TERJADI APA-APA.  TIDAK TERJADI PEMBUNUHAN, TIDAK TERJADI
SALING CURIGA, TIDAK ADA KETERPISAHAN, mereka hidup seperti biasa, sepakat
untuk tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi di luar daerah
transmigrasi. Mereka sepakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan
transmigrasi dan segenap warganya, tanpa kecuali.

Ibu Ningsih menuturkan: "wah..wah.. tidak mungkin itu pak, itu berita
mengada-ada. BOHONG ITU, " katanya.  Yang bertikai itu adalah sesama warga
di Tobelo, yang sama sekali tidak melibatkan warga transmigrasi.
Apa betul ada korban meninggal ?.  Ibu Ningsih: "......Yang mana ya..... oh
ada...yang satu meninggal karena sakit sesak nafas, yang satu meninggal
karena obat berlebihan dan yang satu lagi orang Togoliu (asli Tobelo,
karyawan perusahaan Widuri), meninggal karena berkelahi dengan orang
Kusuri. Hanya itu Pak. Tidak ada yang lain sampai sekarang."

Betulkah pada Hari Minggu (16/01/2000) warga transmigrasi telah dievakuasi
?
Memang ada LIMA ORANG  pergi ke Kompi Senapan C-732 Tobelo, karena ingin
pergi ke Jawa (rencana pulang ke Jawa sudah lama). Entah cerita apa kelima
orang itu di Kompi, tiba-tiba aparat keamanan ramai, langsung menjemput
warga transmigran, bahkan MEMAKSA MEREKA agar  ikut naik di truk. Oknum
aparat itu mengatakan: "Kalau tidak mau iktu sekarang, besok kamu akan mati
(DENGAN NADA MENGANCAM). Para transmigran menanggapinya: "Kami TIDAK MAU
MENINGGALKAN TRANS, BIARLAH KAMI MATI DI SINI. Inilah tekad kami bersama.
Lebih lanjut aparat mengancam: "Lihat saja setelah ini akan terjadi sesuatu
....", sehingga banyak warga transmigrasi yang menjadi takut mendengar
ancaman itu.

Siapa yang mengatakan demikian ?
"Anu...aparat keamanan bernama MUHAMMAD ANTONI, waktu itu ia sangat marah,
dan mengeluarkan kata-kata caci maki.  Kami semua sangat sedih, semua tidak
mampu berbuat apa-apa, karena aparat banyak sekali.  Aparat masuk dari
rumah ke rumah, MEMERINTAHKAN AGAR SEMUA IKUT.  Kami heran, padahal Bapak
DANRAMIL dan Pak Kapolsek cukup baik mengarahkan kami.  Mereka menyadarkan
kami sebelum bertindak melakukan sesuatu. Bapak itu mengingatkan agar kami
rukun, bersama menjaga keamanan, lihat tanaman-tanaman yang subur dan telah
siap untuk dipanen, demikian Bapak itu menghimbau kami. Kami sangat senang
dengan kata-kata yang bijaksana itu. Berbeda dengan aparat yang lain itu,
mereka kasar dan memaksa agar kami semua takut. Saya sedih, banyak teman
yang sudah pulang. Tapi syukurlah, Tuhan YM Kuasa tetap melindungi kami.
Saya sangat senang di trans, lebih baik saya dan seluruh keluarga tetap di
sini, bila Tuhan berkenan sampai mati kami tetap di Trans (dituturkan
dengan penuh pasti sambil tersenyum).

Walaupun di Tobelo dan sekitarnya telah terjadi pertikaian sesama warga
asli Tobelo (Halmahera) yangf berbeda agama, akan tetapi suasana di lokasi
transmigrasi nasional Togoliu TIDAK TERJADI APA-APA. Mereka mengantisipasi
keadaan secara kekeluargaan. MEREKA TETAP RUKUN DAN TENTERAM.
Namun SANGAT DISESALKAN  oleh SELURUH WARGA TRANSMIGRASI, pada Hari Minggu
(16/01) tengah hari, kebijaksanaan aparat keamanan di luar dugaan mereka.
Aparat keamanan datang MENJEMPUT warga transmigran KHUSUS YANG BERASAL DARI
JAWA. Mereka sangat heran dan TERKEJUT dibarengi rasa KECEWA. Mereka pada
prinsipnya mengatakan TIDAK MAU, akan tetapi aparat tersebut MENEKANKAN
demi keamanan, demi keselamatan, disertai dengan ISU NEGATIP YANG TIDAK
SEIRING DENGAN KESEPAKATAN WARGA SETEMPAT. Mereka dijemput secara paksa
naik ke truk dan dibawa ke Kompi. Alasan dan cara paksa itu sangat
mengejutkan dan MENGECEWAKAN mereka. Sehingga ketika mereka hendak
meninggalkan lokasi, mereka sambil berpegangan tangan, sambil berangkulan,
menangis, sangat haru. Entah masih mungkin UNTUK BISA BERJUMPA KEMBALI.
Kesepakatan untuk hidup bersama selamanya di tanah, rumah, halaman, kebun,
kekeluargaan yang selama ini terbina kini putus. Terputus oleh karena ulah
mereka yang TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.

Demikian klarifikasi ini kami sampaikan.

Sumber: SUARA PEDULI HALMAHERA
            (19 Januari 2000)
==================================


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke