**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
---------------------
Artikel Eskol-Net:
---------------------

M A R I   I K U T I L A H   A K U
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
(Oleh: Rm Benny PR)

Saudara/i-ku yang terkasih,
Di tengah-tengah maraknya kerusuhan bernaunsa Sara akhir-akhir ini,
tampaknya kita sebagai orang beriman perlu bercermin dan bertanya tentang
keagaman kita. Selama ini kita melihat suasana keagamaan begitu marak.
Kegiatan kerohonian penuh dengan gebyar dan dikunjungi ribuan bahkan
ratusan ribu orang hadir. Pertanyaannya ialah, MENGAPA TIDAK MENGUBAH
KEHIDUPAN DAN PERILAKU MANUSIANYA ?.  Kegiatan kerohonian penuh dengan
gegap -gempita dan pujian toh tidak membawa perubahan bagi kehidupan bangsa
ini. Mentalitas tetap pada peradaban amuk, gengsi, saingan dan seperti
biasa main sikut-kanan kiri. Tidak ada kejujuran untuk menerima kekalahan.
Kalau kalah bikin kerusuhan.

Kalau demkian, di mana letaknya agama bagi perubahan kehidupan manusia bila
manusia beragama hidupnya ya seperti itu .?  Lantas apa yang menarik dari
agama bila tak mampu memberi pencerahan kepada umatnya. Agama hanya menjadi
simbol tanpa memberikan makna . Demi agama orang saling membunuh, membakar,
dan menghancurkan.

Injil mengajak kita merefleksikan kembali arti "panggilan Kristen di
tengah -tengah bangsa yang sedang mengalami 'pendarahan', 'stroke',
ketidakberdayan, ketidakpercayaan.  Kita dipanggil menjadi penyala manusia.
Apa artinya dibalik bahasa simbol ini dalam pesan Injil ?  Tuhan Yesus
secara tegas mengatakan kepada kita murid-muridnya bahwa panggilan menjadi
Kristen adalah memberikan pencerahan kepada dunia. Agar dunia menjadi lebih
adil, damai, memiliki semangat mencintai, menciptakan rasa persaudaraan.
Panggilan itu menuntut suatu sikap bertobatan yakni perubahan perilaku,
tingakah laku, tata kehidupan. Itulah syarat utama menjadi murid Yesus.

Sapaan Yesus, mari ikutlah Aku, adalah sebuah ajakan untuk mengubah
kehidupan yang masih berorientasi pada harta, tahta, kenikmatan, siapa kuat
akan menggilas yang lemah. Kalau orientasi masih berfokus ke arah situ maka
tidak akan ada yang namanya perdamaian yang sejati. Tuhan Yesus
pertama-tama mengajak kita semua untuk bertobat dengan kata ini "waktunya
telah genap Kerajaan Allah sudah dekat". Pertobatan diminta oleh Yesus
adalah mengubah oreintasi hidup manusia ketika uang, jabatan, prestasi,
harga diri masih menjadi hal yang utama. Mengikuti ajakan ini maka manusia
akan mengalami kedamaian.

Yesus ingin murid-muridNya berorientasi menegakkan Kerajaan Allah. Kerajaan
Allah itu kongkritnya membawa perdamaian. Hal itu ada bila manusia mau
menghargai martabat manusia. Orang bisa menghargai martbat manusia bila dia
mencintai keadilan, membela yang lemah, tidak berprasangka buruk terhadap
orang, tidak curiga yang berlebihan. Dengan kata lain, Allah menginginkan
manusia berlaku adil, jujur, tidak sirik, tidak hanya mau menang sendiri,
melainkan memiliki sikap welas asih. Itulah cara beragama yang benar, bukan
sebaliknya.

Injil juga merupakan sebuah kritik bagi umat Kristen, apakah kita selama
ini sudah beragama secara benar ? Ataukah kita ini jangan-jangan masih
bersikap kekanak-kanakan dalam beragama, meminjam bahasa Paulus "masih
menyukai makanan lembek." Sikap kekanak-kanakan dalam beragama sering
membuahkan hasil tidak memiliki roh tetapi hanya memiliki roh buat, rokaya,
atau roh lain yang kelihatan suci, bahasa halus tetapi penuh dengan buaya,
dan orientasi masih yang lama. Padahal mengikut Yesus menjadi penjala
manusia dituntut sikap dan mentalitas yang baru. Mau meningalkan
perilaku -perilaku lama, kebudayaan lama, kebiasan lama. Itulah arti iman
yang sejati. Seseorang mau meningalkan segala sesuatu demi orang yang
dicintainya. Itulah yang dilakukan oleh para Murid ketika Yesus mengatakan:
"Ikutilah aku." Tanpa pikir panjang langsung meningalkan jala yakni
kehidupan yang lama (orientasi masih terfokus pada hal kedagingan berupa
uang dan kekuasan). Persis seperti elit politik kita yang suka "dagang
sapi". Kehidupan seperti itulah yang ditinggalkan oleh murid-murid. Mereka
memilih mengikut Yesus Kristus dengan meningalkan harta yang berharga. Itu
semua disadari bahwa untuk mengikut Yesus Kristus memang dituntut
perubahan. ***

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke