************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** Salam Sejahtera dalam Kasih Tuhan, Para Netters yth, sudah semakin tampak sekarang bahwa Harian Republika dan Harian Jawa Pos bukan lagi milik semua golongan masyarakat, melainkan hanya menyuarakan suara golongan tertentu. Belum lagi berita kedua koran ini yang akhir-akhir ini cenderung tendensius, bahkan bernuansa provokatif (memancing emosi pihak tertentu). Hal ini terbukti di saat kerusuhan melanda Mataram hingga banyak gedung gereja dan rumah-rumah warga Kristen yang dirusak dan dibakar tidak ada sedikitpun beritanya yang dimuat. Harian Republika hari ini (18/1/2000) justru memuat suatu berita tentang kejadian di Maluku (masih tetap memojokkan Kristen) yang bersifat povokatif. Berikut ini kami postingkan sebuah berita Harian Republika mengenai kasus Maluku Utara. Semoga bermanfaat. Salam, Eskol Net ========= Tragedi Maluku Utara =================== Smith Alhadar Anggota IDE (Institute for Democracy Education) Pertikaian antarkomunitas agama di Maluku Utara kian berdarah dan mengerikan. Di Halmahera Utara, ribuan jiwa melayang sia-sia. Mereka dibantai oleh gabungan suku-suku Kristen di kawasan itu sebagai balasan atas kerusuhan di Ternate, Tidore, dan desa-desa di Halmahera Tengah awal November lalu di mana golongan Kristen menjadi sasaran amuk massa Muslim. Juga terkait dengan kerusuhan tiga hari (27-29 Desember 1999) di Ternate di mana pasukan Muslim mengalahkan Sultan Ternate Mudaffar Syah dan pasukan adatnya. Kendati Muslim, Sultan Ternate merupakan tokoh utama penyokong golongan Nasrani. Konflik ini dipicu oleh terbakarnya laboratorium sekolah Katolik Roma (27/12) di kawasan Ternate Selatan. Tak jelas penyebab atau pelakunya. Namun, orang menduga ini dilakukan orang Islam sebagai balasan atas pembantaian kaum Muslim di Halmahera Utara yang dimulai pada 26 Desember. Buntutnya, Kampung Pisang dan Tanah Tinggi, pemukiman Muslim di Ternate Selatan, dibakar pasukan adat yang kebanyakan anggotanya terdiri atas golongan Nasrani asal Halmahera Utara. Tentu ini kesalahan fatal. Segera kaum Muslim di selatan, diikuti kemudian oleh pihak utara yang tadinya merupakan penyokong utama Mudaffar Syah, bangkit bersatu melawan musuh bersama. Mereka dipimpin oleh Sultan Tidor Djafar Danoyunus bersama pasukan adatnya serta orang Makian. Ini sebuah kejutan, sebab sebelumnya tak seorang pun berani menantang Mudaffar Syah dan pasukannya yang terkenal ''kebal'' dan brutal. Pasukan Muslim berhasil masuk hingga ke kadato (keraton) dan memaksa Mudaffar bertekuk lutut. Selengkapnya: http://www.republika.co.id/2001/18/15104.htm "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
